Tak Sehoror yang Dibayangkan

dari Kamal ke Pamekasan

Desa Ranperang Laok Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan adalah tempat aku dan bersama 12 orang lainnya yang tergabung dalam kelompok 14 akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 27 hari. Pamekasan merupakan tempat yang jauh. Meski aku orang Kamal, Bangkalan, tetapi Pamekasan sedikit asing bagiku. Datang ke kota Pamekasan saja belum pernah, terakhir ke Pamekasan waktu pergi ke Sumenep April 2011 lalu itupun cuma melintasi beberapa bagian kota Pamekasan saja. KKN biasanya identik dengan desa terpencil yang sangat jauh dari kota. Video yang diputar saat pembekalan sempat membuat para peserta KKN termasuk aku seperti ketakutan seperti apa desa yang akan tempati nantinya.

Sabtu 21 Januari 2012 yang lalu kelompok 14 menjadwalkan silahturahmi sekaligus datang survei pertamakalinya ke desa Rangperang Laok sebelum seminggu kemudian memulai petualangan di sana dengan berbagai program yang dirancang dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat di sekitar, meskipun dosen pembimbing menekankan bahwa kami bukan superhero yang bisa merubah masyarakat menjadi pintar, kaya, ataupun merubah mindset mereka. Tetapi setidaknya memberikan sedikit pengetahuan yang kami dapat di kampus selama 7 semester ini.

Diskusi dengan Pak Klebun

Setelah menempuh perjalanan 4 jam dari Kamal, mobil yang kami sewa untuk silahturahmi ke rumah Pak Klebun –Kepala Desa dalam bahasa Madura- ini mulai masuk kawasan kota Pamekasan. Tugu Arek Lancor tertancap megah di tengah-tengah kota. Ini adalah kali pertama saya melihat langsung tugu ini (padahal orang Madura asli). Dari arah tugu ini kami menuju arah barat melewati jalan-jalan kota yang tidak jauh beda seperti di beberapa bagian di Bangkalan. Selang beberapa saat kami mulai memasuki kawasan desa. Beberapa anggota kelompok mulai resah, gelisah dan penasaran seperti apakah desa yang akan kita tempati selama 27 hari ini. Tidak lama kami sudah mendapatkan tulisan Proppo di papan yang ada di depan toko-toko kecil. Itu artinya kami sudah memasuki kawasan Proppo.

Suasana sudah berubah yang awalnya dipinggir jalan ada ruko-ruko berdiri menghiasi sepanjang perjalanan kita. Semakin lama mobil menarik gasnya, suasana di sekitar jalan berubah menjadi suasana pedesaan. Sawah-sawah mulai menghiasai dipinggir jalan. Beberapa pohon besar menyambut kami. Sampai sebuah papan putih yang bertuliskan dengan cat hitam “Kepala Desa Rangperang Laok Kecamatan Proppo” lengkap dengan arahnya. Membaca itu kami seontak berteriah “ini lho, rumah kepala desanya. Waaa.. sudah dekat, seperti apa ya?”. “… jadi nervous aku.” “… berarti kita akan tinggal di sini selama 27 hari.” Kalimat-kalimat penanda takut itu keluar dari mulut teman-teman di dalam mobil.

Suasana Rangperang Laok berlatarkan Kelompok 14

Kami akhirnya menebak sebuah rumah dengan banyak kursi di terasnya lengkap dengan mobil adalah rumah Pak Klebun Rangperang Laok. Setelah melontarkan salam, seorang laki-laki berkacamata memakai batik tidak terlalu tinggi keluar dari dalam rumah. Pikirku ini adalah Klebunnya. Assalamualaikum, maaf pak ini rumah Pak Ach Sadili?, tanyaku. Nama itu aku dapat dari ayahnya Andre, anggota kelompok 14 yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan di Pamekasan. “ya..ya.. silahkan duduk. Ini yang dari Bangkalan ya?”. Terjadilah perbincangan antara calon penghuni baru desa ini. “ya begini ini desanya, berbeda dengan kota. Semoga kalian kerasan nantinya”.

Setelah berbincang dan perkenalan satu per satu, kami minta ijin untuk melihat suasana di sekitar rumah Pak Klebun ini. Kami harus melihat suasana desa dengan teliti, ini penting untuk program apa yang kiranya cocok apabila diterapkan di desa ini. Sepanjang mata melihat, hanya beberapa rumah penduduk yang jaraknya berjauhan antara satu dengan yang lain. Beberapa usaha mebel dan batik tulis kami temui disini. Tidak lupa kami berbincang dengan pengusaha mebel dan batik tersebut. Di desa ini juga terdapat satu pondok pesantren yang di dalamnya sudah ada MI, MTs, sampai MA. Menurut pak Klebun juga desa ini hanya memiliki satu SD. Daerahnya tidak terlalu luas, yang punya hak pilih saja cuma 1800 orang, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai tukang becak. Jelas Pak Klebun memberikan gambaran desanya saat diskusi tadi.

Menurutku desa ini tidak jauh beda dengan Desa Kebun Dusun Labang Laok tempat aku lahir dan tinggal saat ini. Rumah antara satu rumah dengan lain saling berjauhan, masyarakatnya sebagian besar petani. Terdapat bebera home industry seperti usaha mebel. Ketakutan saat pembekalan itu tidak terjadi di desa ini. Rangperang Laok akan menjadi tempatku dan 12 orang lainnya untuk mengabdi kepada masyarakat. Semoga kami bisa memberikan sedikit inspirasi dan kami bukanlah Superhero yang merubah kondisi orang yang desa ini.

ALAM

4 thoughts on “Tak Sehoror yang Dibayangkan

  1. Seru juga ya perjalanan kalian menuju ke kecamatan Proppo. Disana tempatnya memang sejuk karena banyaknya pepohonan dasn tanaman hijau membentang didunia pedesaan didaerah Proppo.

Berikan Komentar