Sisa waktu sore kami habiskan di taman Blambangan. Taman yang berada di alun-alun Banyuwangi. Seperti kebanyakan konsep kota di Indonesia, di depan alun-alun berdiri Masjid Agung Baiturrahman dan pusat pemerintahan (dahulunya disebut Keraton).

Tempat sampah berdasarkan jenisnya banyak terdapat di alun-alun Banyuwangi. Patut ditiru!

Kantor Bupati Banyuwangi. Halo pak Azwar Anas, saya numpang lewat!

Warga memanfaatkan taman yang hijau di alun-alun untuk bermain bersama keluarga tercinta di sore hari.

Zaki namanya, balita mungil yang memakai topi khas Banyuwangi. Ia ramah dan senang bermain.

Sebelumnya, area ini dinamakan Lapangan Tegaloji dikarenakan disekelilingnya terdapat bangunan-bangunan yang diperuntukkan untuk warga kolonial Belanda. Taman Blambangan berbentuk lapangan luas berumput yang di tepinya terdapat arena untuk lari kecil. Sedangkan di bagian barat lapangan terdapat Gelanggang Seni dan Budaya (Gesibu Blambangan) yang ditandai dengan sebuah bangunan seperti candi. Area ini dilengkapi dengan lapangan bola basket, arena skateboard dan area kuliner. Taman Blambangan digunakan untuk keperluan upacara atau acara yang membutuhkan masa besar seperti konser musik dan kampanye partai politik. Selain itu, setiap hari Minggu di area ini diadakan Car free day.

Banner selamat datang dan agenda rutin masjid agung Baiturrahman. Berada di dekat tempat wudlu lelaki di sisi selatan masjid.

Pintu masjid bertinggi sektiar tiga meter. Langsung menyambut jemaah pria yang baru selesai berwudlu

Foto mimbar masjid dari pelataran.

Aku menyempatkan sholat Ashar di Masjid Agung. Aku suka sekali mengabadikan ornamen di dalam masjid. Bersama Saide, aku mengitari masjid melihat dari sisi bawah dan atas, tentu saja mengabadikannya dalam beberapa frame foto. Sejarah masjid ini menurut wikipedia, didirikan sejak 7 Desember 1773, hal ini didasarkan pada surat wakaf dari keluarga besar Mas Alit atau Raden Tumenggung Wiraguna I, Bupati pertama Banyuwangi untuk umat Islam Banyuwangi.

Aku memposting beberapa sudut masjid ini di instagram @wahyualam. Follow ya! ;D

View this post on Instagram

Lampu masjid. Lamp of mosque. #Mosque #Banyuwangi

A post shared by ALAM (@wahyualam) on

 

Sholat Maghrib di Masjid Agung Banyuwangi menjadi akhir kebersamaan kami bersama kota The Sunrise of Java. Meski masih mengunjungi tiga tempat wisata di kota ini, masih ada kata penasaran untuk menjelajah destinasi yang lain seperti G Land, Kawah Ijen, Alas Purwo dan tempat menarik lain di Banyuwangi.

Spesial terimakasihku untuk Beny yang sudah susah payah menyiapkan dan mengatur segala keperluan kami sebelum dan selama trip #GiliWangiTrip. Jika ada yang tertarik berwisata di daerah Gilimanuk dan Banyuwangi, aku sangat merekomendasikan tanya ke Beny.

Dear Rahmad alias Aal, terimakasih tumpangan mobilnya yang nyaman sekali.

Inilah akhir dari #GiliWangiTrip 2015. See u on the next trip, guys!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

2 Comments

Fahmi (catperku) · June 24, 2015 at 14:08

Masijidnya adem sangat šŸ˜€ Seneng pasti mampir kesitu~

Berikan Komentar

%d bloggers like this: