Tradisi Minum Bir Menyambut Musim Semi

各位學長姐學弟妹
提醒大家本週六是周lab的春酒喔!
時間:2016年4月16日(六)12:00
地點:陶然亭 104台北市中山區復興北路86號2樓

畢業生:繳交1000元
在校生:購買200元小禮物

老師很期待,請大家務必準時出席
ps我會帶一瓶好喝的梅酒去!

Ketika membaca pengumuman seperti di atas,  peran translator di Facebook tak cukup membantu. Aku masih sulit memahami pesannya secara utuh. Sepertinya akan agenda makan bersama di tanggal 16 April.

Aku perlu sekali lagi konfirmasi ke teman asal Taiwan untuk mengetahui pesan secara utuh, apa acaranya, kapan dan dimana, seperti apa rencananya dan apa yang perlu aku persiapkan. Setelah aku tanyakan, ternyata kami harus menyiapkan hadiah yang tidak boleh lebih dari 200 NT.

Dan aku pun bingung, bukan karena harus membeli hadiah apa, tetapi karena ada kalimat aneh di pengumuman tersebut. Membacanya membuat aku mengeryitkan dahi. Betapa tidak, aku melihat di pengumuman tersebut ada kalimat ‘minum bir’. Semakin bingung ketika melihat foto-foto di grup Facebook. Tahun lalu mereka mengadakan acara yang sama yaitu makan siang dan pesta bir. Bahkan ini merupakan tradisi mereka untuk menyambut musim semi.

Tentu aku sedikit khawatir. Namun meski begitu,  aku percaya dan yakin sekali, tolerasi orang Taiwan itu amat tinggi. Aku yakin ngga akan dipaksa untuk minum bir. Ngga akan.

***

Langit Taipei berwarna abu-abu saat kami berlima keluar dari kampus. Aku, Cyril, Prytania dan Ano berangkat menuju restoran dari stasiun Gongguan. Kami akan berangkat ke tempat yang sudah disepakati. Untuk rencana perjalanan, aku pasrahkan ke Cyril. Aku ngga perlu ikut mikir, just follow him and done.

Di dalam tasku, sudah ada parfum Casablanca yang telah aku bungkus rapi. Aku sempat kebingungan ingin memberikan apa, pilihanku jatuh ke parfum ini, karena di Taiwan sulit sekali mencari parfum. Sengaja merek Casablanca, karena hanya merek itu yang kemasannya menarik dan ada tulisan ‘made in Indonesia’. Alasan yang terakhir adalah yang paling penting. Aku beli di toko Index, salah satu toko yang menyediakan produk-produk Indonesia yang ada di Taipei Main Station.

Semoga yang menerima ini akan suka, membaca tulisan ‘made in Indonesia’ sehingga tertarik membelinya lagi atau bahkan tertarik untuk berkunjung ke Indonesia.

wahyualam.com digital enablemen lab meeting Taipei

Pukul 12.10 kami baru sampai di restoran yang berlantai dua. Sedikit telat daripada teman-teman lain sudah berkumpul. Sebelum menuju meja tempat untuk kami mahasiswa Prof Chou, di beberapa meja lain sudah terisi pengunjung yang sudah lebih dulu datang. Ruangannya ngga terlalu luas. Namun sepertinya salah satu yang favorit di wilayah ini jika dilihat dari keramaiannya.

Saat memasuki ruangan khusus yang sudah dipesan, ternyata tidak hanya mahasiswa Lab Digital Enablement yang hadir, ada satu lab lagi yang ikut bergabung. Mereka adalah mahasiswa jurusan MBA yang kebetulan menjadi ‘mahasiswa’-nya Prof Tzu-Chuan Chou.

Kami semua tumplek-blek di satu ruang yang berisi dua meja bundar. Satu meja untuk mahasiwa MBA, satu meja berisi kami dari Lab Digital Management. Kami sedikit beruntung karena kami bisa satu meja dengan para profesor yang hadir bersama istri-istrinya. Keriuhan lebih terlihat di meja mahasiswa MBA. Mereka sepertinya terlibat begitu bahagia. Namun tidak dengan kami, mahasiswa Management Information, kami harus menjaga sikap, karena di depan kami ada profesor-profesor. Sungkan dan sedikit takut, meski sebenarnya mereka santai karena ini pertemuan non-formal.

Profesor Chou memperkenalkan istrinya kepada kami. Inilah pertama kalinya beliau membawa serta istrinya yang juga seorang profesor di universitas di Taipei. Terutama kepada mahasiswa internasionalnya, yaitu aku dan Prytania dari Indonesia, Ano dari Mongolia, Michal Furmanek dari Republik Ceko dan Hsien-Kuo Chiang dari Tiongkok.

Kami sudah nyaman duduk di atas kursi. Pelayan bertanya suatu hal ke temanku, tentu dalam bahasa Mandarin yang aku ngga ngerti maksudnya. Pelayan menanyakan ada berapa orang yang vegetarian. Aku mengacung. Aku memang tidak makan daging, tapi sebenarnya bukan juga seorang vegetarian.

wahyualam.com bersulang bersama profesor

Dua meja makan mulai dipenuhi dengan menu-menu makanan khas Taiwan. Di atas meja ada dua botol yang sedikit menakutkan bagiku. Jarang sekali aku melihatnya. Bahkan aku tak pernah meminumnya meski sekali saja.

“Scotland Whisky”

Begitu tulisan di dua botol mewah yang berdiri megah ada di atas meja. Pelayan mengeluarkan gelas-gelas kecil. Aku mencoba tenang. Teman yang duduk di samping kananku mengambil sesuatu dari bawah kursinya. Ia mengeluarkan botol yang lebih besar. Entah apa mereknya, aku hanya bisa melihat tulisan yang sama: “Scotland Whisky”. Dari raut muka dan bahasa tubuhnya, mereka sangat senang melihat teman di sampingku membawa minuman dari rumah.

Kemudian pelayan kembali datang dengan mengantarkan es batu. Dengan cekatan, gelas-gelas kecil diisi wiski kemudian memberikan ke satu per satu peserta makan siang. Sekali lagi, aku mencoba tenang dan berusaha tetap selalu tersenyum. Meski sebenarnya aku berada di situasi yang tidak pernah aku alami: pesta bir.

“Alam, do you drink whisky?” tanya professorku sambil menyodorkan gelas kecil yang sudah berisi wiski.

“No. Thank you, Prof.” Aku jawab sambil tersenyum. Kemudian gelas kecil tadi aku sodorkan ke Cyril yang berada di samping kiriku.

Mataku langsung berbinar ceria ketika melihat pelayan membawa dua botol minuman. Kedua minuman itu tak asing lagi bagiku. Pulpy orange dan guava juices. Tidak pakai lama, aku pun langsung mengisi gelas yang bertuliskan Taiwan Beer dengan pulpy orange. Inilah gelas yang selingkuh, gelas bir berisi jus jeruk.

Tradisi bersulang pun dimulai. Gerakannya seperti film-film Hollywood. Tangan kanan yang sudah memegang gelas diangkat hingga tepat berada di depan wajah, sedangkan tangan kiri memegang ujung gelas bagian bawah. Gelas di tangan kanan diangkat kembali hingga nyaris sejajar dengan ubun-ubun, sambil tatapan mata melihat orang di depan kita dan sedikit memiringkan kepala ke kiri, baru kemudian isi dalam gelas pun diminum perlahan. Apakah sudah selesai? belum. Setelahnya gelas harus diangkat sekali lagi gelasnya ke udara sebelum diturunkan dan dikembalikan ke atas meja. Mungkin hanya aku yang melongo melihat setiap gerakan mereka. Norak.

Bersulang seperti itu terus terjadi antar professor, teman satu meja, teman antar meja, satu angkatan, satu jurusan, hingga antar istri professor. Semuanya larut dalam tradisi leluhur mereka.

Aku tersenyum menjadi saksi kelestarian budaya dan tradisi mereka.

wahyualam com - spring party 2016

Kalau dilihat-lihat, hanya aku dan beberapa teman mahasiswi yang tidak minum bir. Semuanya memegang gelas kecil berisi bir. Bahkan profesor wanita di depanku sering sekali meminta bersulang kepada semua orang. Ia begitu menikmati setiap momen makan siang ini.

Sebelum bersulang dengan profesor wanita tadi, aku harus mengisi gelasku yang mulai kosong. Karena pulpy orange-nya sudah habis, maka sebagai gantinya, aku bersulang dengan menggunakan gelas yang berisi teh hijau. Aku ngga menghitung berapa kali kami bersulang. Selain itu, aku lebih suka mengisi gelasku dengan teh hijau, karena warnanya yang sedikit mirip dengan bir. Meski sedikit lebih gelap.

Sambil sesekali bersulang. Kami menyantap satu persatu menu yang sudah memenuhi meja. Entah berapa kali tempat menu di atas meja diputar. Aku berterima kasih karena Cyril -teman Labku- selalu memberitahuku mana menu yang ada atau tidak ada babinya.

“Thanks Cyril. You saved my life!”

Aku juga senang karena banyak menu seafood. Mulai dari ikan rebus yang dicincang, asparagus goreng tepung hingga gurami saus tiram. Aku hanya makan sedikit nasi, sayur dan berbagai varian menu ikan.

Ini adalah tradisi makan siang bersama yang biasa dilakukan dalam rangka merayakan musim semi. Sejauh mata melihat, semuanya larut dalam suasana kekeluargaan yang begitu kental. Tak ada yang sibuk dengan smartphone-nya. Mereka fokus kepada orang yang ada di depannya. Aku lihat Prof Chou justru tak mengeluarkan ponselnya sama sekali. Beliah beberapa berpindah dari satu ke meja yang lain untuk menunjukkan dirinya selalu ada untuk keduanya.

Di akhir acara, mereka mengundi beberapa orang yang hadir dan beruntung mendapatkan hadiah. Hanya yang dibawa oleh mahasiswa dari Lab Digital Enablement akan diundi.  Parfumku diterima mahasiswa dari jurusan MBA. Semoga ia suka dan tertarik memakainya.

Makanan di atas meja sudah nyaris habis. Tak ada lagi yang sibuk menyantap hidangan. Semuanya sibuk berinteraksi satu sama lain. Profesor-profesor yang lain pun menanyakan nama dan asal kami satu-satu. Terutama mahasiswa yang berasal dari internasional. Ia terlihat begitu antusias bisa makan bersama mahasiswa dari berbagai negara. Kami larut dalam keakraban antara dosen dan mahasiswanya. Tentu sebagai mahasiswa, kami merasa sangat senang bisa menjalin kebersaman dengan dosen. Bahkan, agenda makan bersama seperti ini, sudah menjadi agenda wajib bagi sebagian besar professor di kampus NTUST. Mereka mengajak mahasiswa bimbingannya untuk makan bersama. Untuk menjalin rasa kekeluargaan, keakraban dan kebersamaan.

Karena agenda seperti ini hanya terjadi sekali dalam satu semester, aku selalu menyempatkan untuk selalu hadir. Tidak hanya karena bisa dapat makan gratis, tetapi juga karena bisa ikut merayakan kebersamaan bersama mereka. Benar dugaanku di awal, tak ada paksaan dalam melakukan tradisi mereka. Orang Taiwan selalu mempunyai toleransi amat tinggi. Mereka pun tidak pernah sibuk mengurus urusan orang lain dengan bertanya: ‘kenapa kamu ngga minum bir?’

Kemudian acara ditutup dengan penampilan solo dari Zoe Lan yang melantunkan lagu Let It Go dan foto bersama.

Lab meeting spring party taiwan

ALAM

5 thoughts on “Tradisi Minum Bir Menyambut Musim Semi

  1. Temenku yg di korea juga begitu mas, pas lagi kumpul2 sama temen lab dan professornya ada acara minum birnya. emang udah tradisi sana sih yah, tapi untungnya mereka bisa toleran sama yg muslim 🙂

  2. i love this post, i wish i were there. aku bisa merasakan kehangatan suasana acara disana, i bet it is one of unforgettable moment for you mate

Berikan Komentar