Keris Madura Dan Manusia Pasir

Published by ALAM on

Kalau ke Sumenep ada dua tempat wajib yang dikunjungi wisatawan: Asta Tinggi dan Keraton Sumenep. Sementara kedua tempat itu terlalu biasa untuk orang asli Madura sepertiku, aku mencari sesuatu yang berbeda. Kebetulan teman-teman Plat-M RT Sumenep baik hati ingin menemani aku dan Slamet, Triyanto dan Rotua jalan-jalan lagi di Sumenep.

Mobil yang kami sewa meluncur ke arah kecamatan Saronggi. Adalah pengrajin keris Madura berada di dalam satu desa. Aeng Tong Tong adalah nama desanya. Sepintas, desanya terlihat begitu nyaman dan sepi dari hiruk pikuk desa. Sesekali terdengar bunyi gesekan alat memperhalus besi dari beberapa rumah. Hampir setiap rumah ada tempat kecil di samping atau di depan rumah yang digunakan untuk membuat keris. Kami diajak menemui kepala desanya. Disanalah, kami tahu sebenarnya bagaimana eksotisme keris Madura ini.

Eksotisme Keris Madura

Kehebatan keris Madura ini sudah terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan dengan santainya Pak Klebun bercerita tentang pengalamannya di Den Haag, Belanda saat mengikuti pameran keris mewakili Indonesia. Beliau mengaku sempat ditawari uang 2 M rupiah untuk tinggal di Belanda beberapa saat untuk mengajari orang Belanda bagaimana cara membuat keris Madura yang begitu memikat dunia ini.

 

Keris Madura
Aku memandangi setiap lekuk keindahan keris Madura

Aku ngga begitu paham tentang makna dari setiap ukiran yang terpahat indah di semua bagian keris mulai dari bagian yang terbuat dari besi hingga tungkainya yang juga diukir. Yang jelas, keris Madura ada perbedaan yang mencolok dari keris-keris Jawa. Keris Madura mempunyai ukiran yang lebih anggun dan beragam daripada keris-keris Jawa.

Pak Klebun bercerita tentang kesulitan pembuat keris di desa ini. Mereka sangat sulit memasarkan keris Madura ini. Karena ini adalah termasuk benda tajam, jadi ketika akan dikirim ke luar daerah itu akan selalu dipermasalahkan oleh pihak kepolisian. Jadi, semua pengrajin mengharapkan ada regulasi khusus dari pemerintah untuk memberikan akses seluas-luasnya untuk pengrajin memasakan produknya, misalkan dengan memberikan tanda atau kartu identitas khusus pengrajin keris. Sehingga pemasaran keris Madura tetap bisa berjalan, dan proses bisnis di desa ini menguat, tentu masyarakat akan diuntungkan. Itulah harapan Pak Klebun mewakili semua pengrajin di desanya.Kita ditunjukkan oleh Klebun semua keris-keris koleksi kepala Aeng Tong Tong ini, beliau begitu ramah dalam menyambut kami. Padahal kami bukanlah siapa-siapa, membeli kerispun tidak mungkin. Kami hanya datang untuk belajar dan mengetahui proses pembuatan dan kisah dibalik eksotisme keris Madura.

Menurut Pak Klebun, keris buatan desa Aeng Tong Tong ini sudah diakui dunia, beberapa pejabat tinggi sampai tingkat Menteri-pun pernah datang ke desa ini untuk membeli satu mahakarya warisan sejarah Indonesia. Tak terkecuali bapak Presiden RI yang berkunjung ke Sumenep beberapa waktu yang lalu juga mendapatkan hadiah keris khusus buatan desa ini, Aeng Tong-Tong. Konon, keris itu bernilai belasan juta rupiah dan dilapisi oleh 30 gram emas murni. Jika penasaran dengan keris Madura, datang saja ke kecamatan Saronggi, tepatnya di desa Aeng Tong-Tong, kalian akan tahu lebih detail proses pembuatan keris penuh eksotisme ini.

Desa Tempat Tinggal Manusia Pasir

Jika membayangkan, mungkin kita akan terbayang sebuah desa dengan hamparan pasir yang luas. Menarik, kan! Ternyata bukan.

Saat aku dan teman-teman diajak ke desa pasir yang sebenarnya sebuah desa di Desa Lenggun Bara, Kecamatan Batang-batang, Sumenep. Rumah-rumahnya tidak berbeda dari kebanyakan desa di Madura. Terbuat dari tembok dan berjejer. Beberapa perumahan penduduk sudah merayap. Ramai.

Inilah butiran pasir yang begitu halus

Aku baru terkaget ketika diajak masuk ke salah satu kamar rumah bertembok keramik itu. Ada tumpukan pasir yang bukan pada tempatnya. Pasir itu dituangkan begitu saja di lantai samping kasur. Tanganku tak kuasa untuk menyentuk pasir berwarna kuning kecokelatan itu. Halus. Seharus tepung. Aku pikir ini diayak terlebih dahulu, ternyata ketika tanya kepada yang punya rumah, pasir ini tidak dilakukan proses apapun, langsung dari tepi pantai Lombang. Pasirnya halus karena mereka mengambil di pantai yang menjorok ke tengah laut. Menarik dan aku tergeleng-geleng. Heran.

Semakin heran, anak-anak sudah biasa tidur di atasnya, bahkan di atas kasur pasir ini dilengkapi dengan bantal dan guling layaknya kasur pada umumnya. Mereka benar-benar menggunakan pasir sebagai alas untuk tidur. Bahkan hampir semua penduduknya dilahirkan di pasir itu. Jadi mereka langsung menyentuh pasir. Ini adalah tradisi turun temurun. Belum ada penelitian resmi kapan mereka mulai menggunakan ini.

Aku penasaran berapa kali pasir ini diganti dan berapa lama harus diganti. Ternyata cukup lama, sekitar 4-5 tahun sekali baru diganti. Ngga ada aturan khusus kapan pasir itu harus diganti.

Penasaran, aku mencoba tidur di atasnya. Rasanya dingin, seperti berada di lantai keramik, tapi tidak sedingin keramik. Butiran pasir yang halus membuatnya tidak mudah menempel di kulit atau kain. Jadi begitu diusap pasirnya pun langsung rontok dan tidak berbekas di kulit.

Memang, masih ada satu kamar yang tidak ada kasur pasirnya, tapi ini jelas sudah membuatku terheran-heran. Mereka tidur di atas pasir. Menyatu dengan alam. Cocok sekali dengan geografis pulau garam yang dikelilingi oleh laut. Madura memang punya cara tersendiri untuk menghargai warisan budaya leluhurnya.

Ngga percaya? Silahkan datang saja ke Sumenep, tepatnya di kecamatan Batang-batang!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

7 Comments

devriansyah · January 31, 2014 at 11:40

musuhnya spaiderman yah manusia pasir hehehehhee

    Wahyu Alam · January 31, 2014 at 18:27

    Hahahahha.. Kalah pasti spiderman melawan manusia pasir dari Sumenep. 😀

Wahyu Alam · December 29, 2013 at 08:12

Harus, bunda!

indahjuli · December 29, 2013 at 08:05

Takjub.
Suatu saat harus ke Sumenep 🙂

bocah petualang · December 29, 2013 at 07:43

Tulisan-tulisanku tentang Sumenep ini belum turun…
Eh btw, kok ga dihadiahi backlink sang fotografernya?? 😀

    Wahyu Alam · December 29, 2013 at 08:12

    Sudah. Noh. 😀
    Ditunggu tulisannya tentang Sumenepnya ya. Asta Tinggi, Keraton Sumenep, *sambil ngebayangin saat nyopir APV*

      bocah petualang · December 30, 2013 at 08:07

      Nyantai Lam, aku baru aja menyelesaikan serial tulisan Jogja. Selanjutnya masuk serial Sumenep 🙂

Leave a Reply

Avatar placeholder