Mata Kuliah Terberat

Published by ALAM on

Sewaktu S2 saya sebenarnya kuliah di tiga kampus sekaligus: ITS, NTUST dan NTNU. Karena saya pernah mengambil dua matakuliah di NTNU, waktu itu nama matakuliahnya Technology Marketing dan International Human Resource Development Research Methodology (IHRD).

Di awal kuliah S3, saya ingin merasakan juga kuliah di NTU. Dari tiga bersaudara “NTU Triangle”, saya NTU yang belum saya duduki untuk belajar. Saya obrak-abrik website sistem akademik NTU, mencari satu-demi-satu matakuliah yang sekiranya pas dengan bidang saya. Ada banyak sebenarnya matakuliah yang pas dan sangat menarik, hanya saja disampaikan dalam bahasa Mandarin. Hingga akhirnya saya menemukan matakuliah yang pas, pas dengan bidang saya, pas dengan waktunya, hingga pas menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya.

Nama matakuliahnya Mobile-human computer interaction (m-HCI).

Saya pikir bakal mengenal warna-warna untuk tampilan website seperti matakuliah Interaksi manusia komputer (IMK) di Indonesia. Ternyata saya salah besar!

Inilah matakuliah terberat.

Biasanya PR itu datang di pertemuan ketiga perkuliahan, ini PR sudah ada bahkan sebelum pertemuan pertama. Semua peserta kuliah sudah diemail untuk menyiapkan 3 slides (tidak lebih) untuk mengenalkan diri, apa hobinya, lalu apa ide/minat di bidang m-HCI.

Di pertemuan pertama itu kami sudah dibagi kelompok untuk mengerjakan tugas selanjutnya. Tiga pertemuan kita dijejeli paper-paper terbaik tentang HCI, tidak hanya diminta dibaca, tetapi juga harus dikritik dan produk apa yang bisa dikembangkan dari paper tersebut.

Tiga minggu pertama diskusi tentang riset terkait HCI, tiga minggu berikutnya diskusi tentang produk terkait HCI, minggu ketujuh harus presentasi proposal ide produk akhir untuk mata kuliah ini. Tentu ide produk akhirnya harus belum dilakukan oleh riset dan produk yang sudah beredar di pasaran.

UTS diisi dengan presentasi proposal ide produk akhir dari semua kelompok. Tentu diberi masukan oleh pengajar dan teman sekelas. Lalu setelah itu kami diminta bergantian presentasi setiap minggunya. Karena dalam satu semester harus membuat produk jadi.

Waktu itu topiknya dikerucutkan menjadi dua: olahraga dan disabilitas. Sederhananya harus membuat produk yang harus membantu manusia dalam berolahraga atau alat bantu bagi penyandang disabilitas.

Produknya harus belum pernah dibuat oleh brand atau paper sebelumnya. Ini dibuktikan dengan tugas membandingkan ide kita dengan produk serupa dari 10 brand dan 10 riset sebelumnya. Saya ada 5 ide yang dilontarkan ke anggota kelompok dan Prof Mike Chen, Profesor pengajar. Ia tolak semua, katanya ide-ide saya sudah ada di Apple Watch dan aplikasi di Apple store.

Itu artinya: saya harus membuat produk yang developer Apple pun belum memikirkannya. Ini gila!

Keterbaruan dalam pembuatan produk proyek akhir ini membuat kita harus banyak mengerjakan banyak hal di luar kelas. Pertemuan kerja kelompok pun harus dilakukan beberapa kali seminggu.

Saking sibuk dan beratnya mata kuliah ini, sempat ingin saya drop di tengah jalan. Saya sudah tidak ada waktu lebih lagi untuk mengerjakan mata kuliah ini. Beberapa kali sempat bertabrakan dengan jadwal kerja paruh waktu saya. Untungnya teman sekelompok menguatkan saya. Aku diberi tugas yang paling  mudah, sedangkan bagian yang paling berat mereka membantu saya mengerjakan produk kita sesuai dengan standar Prof. Mike Chen.

Singkat cerita, produk kami diberi nama Power Tempo. Suatu device terbuat dari Arduino dengan sensor getar untuk membantu kita melakukan lifting (angkat beban) dengan baik sesuai standar jurnal kesehatan dan produk olahraga yang ada.

Semua ide produk kita harus dikomparasi dengan 10 riset dan 10 brand yang memiliki kemiripan dengan produk kita. Kita harus menjelaskan apa perbedaan produk kita ini dibandingkan riset dan brand terdahulu.

Beberapa produk kelompok lain juga gak kalau uniknya. Salah satu yang membuat saya berpikir ngga masuk akal adalah mengendalikan game console menggunakan gerakan syaraf motorik yang ada di bawah telinga. Tujuannya bagi teman-teman disabilitas yang tidak mempunyai tangan, masih bisa bermain game dengan gerakan syaraf di bawah telinganya. Saya pun coba produk ini ketika di final exam.

Final exam-nya berbentuk pameran produk akhir kami, dipamerkan di lobby dan dicoba oleh mahasiswa yang lewat. Tentu dicoba satu-satu oleh Prof Mike Chen untuk penilaian. Situasi final exam terekam oleh kamera hp saya pada Januari 2019 lalu. Betul, ini kuliah di semester pertama saya di NTUST.

Jika tak punya nyali, jangan ambil kuliah di NTU, berat bos, karena ini adalah kuliah terberat yang pernah saya ambil. Dan syukurnya kami mendapatkan nilai A+ di akhir perkuliahan.

 


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

0 Comments

Berikan Komentar