Memuji Istri

Published by ALAM on

Malam hari, sepulang kerja, anakmu masih bermain dan mendalang seperti biasa. Aku taruh ponsel dan tak sadar kalau kamu sudah tertidur. Lalu aku melihat wajahmu yang tenang. Dari kedalaman pejaman matamu aku melihat dirimu tertidur sangat lelap meski dalam keadaan duduk. Kepalamu sesekali miring ke kanan bertanda sudah tidak bisa menahan rasa kantuk yang luar biasa. Pasti kamu kelelahan setelah seharian bekerja bersama anak-anak.

Bibirku tersenyum bangga. Tapi hatiku terenyuh sedih.

Aku bangga denganmu. Memilih untuk hidup tidak nyaman meski sebenarnya bisa saja hidup lebih nyaman. Memilih bekerja keras meski sebenarnya bisa saja bersantai di rumah. Memilih mendengarkan saran suaminya daripada mendahulukan ego diri.

Namun sebenarnya di dalam hatiku sedih. Karena suamimu belum mampu membuat kamu hidup nyaman. Sehingga harus ikut bekerja. Apalagi harus sambil merawat Kia yang sedang aktif-aktifnya dan menahan beratnya janin yang terus bertumbuh di kandunganmu. Percayalah tak semua wanita di dunia ini mampu bekerja dalam keadaan hamil dan menjaga anak balita. Maafkan diriku, terkadang lupa kalau dirimu sedang bekerja dengan menjaga kedua anak kita.

Bersabarlah istriku. Ini tidak lama. Aku berjanji akan bekerja keras untuk membahagiakan dirimu dan anak-anak kita. Karena seluruh hidupku ini sesungguhnya hanya untuk kalian semua. Seutuhnya.

Ditulis sebagai hadiah ulang tahun istri tercintah, 29 September 2021.


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

0 Comments

Berikan Komentar