Alomampa 1: Sembilan Blogger Disambut Ratusan Warga

Penyambutan untuk seorang pejabat yang akan datang itu hal wajar. Tetapi ketika kesembilan blogger yang disambut ratusan warga desa itu hal yang aneh. Masyarakat Desa Sema’an, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep seperti berlebihan menyambut kami. Mereka punya cara tersendiri untuk membuat pikiran kami melayang, jiwa kami terbang, dan mata ini berkaca-kaca melihat sambutan semua ini. Nyaris tak percaya tetapi ini nyata. Sebegitu tinggi penghargaan mereka terhadap setiap tamu yang datang.

***

Ini adalah tulisan pertama dalam serangkaian kegiatan Alomampa Sumenep bersama travel agent Alomampa Songennep 27-28 September 2014. Ada banyak tempat kami kunjungi di Sumenep. Ada Gili Labak, Musium, Keraton, Karapan Sapi dan Desa Wisata Sema’an.

Ratusan foto juga menghasilkan banyak cerita. Tulisan ini akan dimulai dari wisata Desa Sema’an.

Mobil elf yang kami tumpangi berjalan melambat, tabuhan terbang dan lantunan sholawat nabi perlahan terdengar dari balik jendela. Itu membuat kami terbangun dari tidur. Mungkin acara manten. Sekarang adalah bulan baik untuk acara pernikahan. Bis elf menepi di depan segerombolan orang yang melantunkan sholawat. Beberapa orang berpakaian batik dengan bawahan sarung dan berikatkan odheng khas Madura juga berkeliaran di depan mata.

sambutan saat pertama kali datang

Aku masih belum mengerti ada apa ini. Menurut rundown, kita hanya akan melihat sebuah batu yang bisa berbunyi, batu cenneng namanya. Saat aku dan teman-teman turun, seorang bapak rupawan bersarung dan berbaju merah lengkap ikat odheng tersenyum kepadaku. Ia bernama Pak Andi. Salah satu pegiat wisata di Desa Sema’an, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep.

“Itu sambutan buat kami?”

Tanyaku penasaran sambil menunjuk kepada pemuda pelantun sholawat. Ia mengangguk dengan ramah.

Aku terperangah masih belum percaya. Ah, masa iya mau ngeliat batu saja pakai ada acara penyambutan. Seperti pejabat saja. Padahal kami hanyalah blogger yang ingin tahu lebih dalam kegiatan sosial masyarakat di pedesaan Sumenep. Mas Dedy, Mas Wiwid dan tour leader kami tidak mengatakan apa-apa saat di perjalanan. Bahkan akun @Alomampa_SMP pun hanya menunggah foto batu cenneng yang hanyalah sebongkah batu. Tidak lebih. Ini kejutan terindah yang pernah diberikan kepadaku, mungkin juga bagi kedelapan teman bloggers yang lain.

selamat datang di batu cenning

Sebuah tulisan yang rasanya masih baru terbuat sedikit menyakinkanku, bahwa ini adalah sambutan buat kami. Papan putih bercatkan tulisan: “Selamat Datang di Wisata Batu Cenneng”. Begitulah tulisan itu tersematkan. Kami diberi tongkat kecil yang terbuat dari bambu untuk bekal menaiki bukit dan melihat batu.

mencoba nanggala

Lantunan sholawat itu masih terdengar sampai kami memulai trekking ke atas bukit. Terlihat beberapa melihat kami. Benar-benar seperti pejabat tinggi yang sedang berkunjung. Separuh perjalanan ada seorang bapak yang sedang memegang nanggala bersama dua ekor sapinya. Ia seperti sedang membajak sawah. Pak Agus salah satu pegiat desa wisata di sini menjelaskan bagian demi bagian dari nanggala. Aku diberi kesempatan untuk mencoba nanggala itu. Meski belum bisa menggunakannya dengan baik, tetapi aku bangga berani mencobanya. Meski sebenarnya ini baru pertama aku megang begituan.

trekking di desa semaan

Perjalanan dilanjutkan ke atas. Semakin ke atas terlihat beberapa warga naik sepeda motor ke atas. Semakin mendekat, samar-samar terdengar bunyi keramaian. Struktur tanah merah dan bebatuan yang mendominasi area ini tak memungkinkan ada pemukiman.

Angin berhembus di atas bukit bebatuan yang gersang ini. Semilirnya cukup memberikan kesegaran bagi kulit yang sudah dipenuhi keringat. Ada pemandangan aneh di atas. Suara itu ternyata suara gending gamelan khas Madura. Terlihat ratusan warga sudah berkumpul. Bahkan ada warung dadakan yang menjual makanan dan minuman.

“Itu mereka ngapain di atas?” Tanyaku ke Pak Andi.

“Mereka itu menyambut kalian. Begitulah warga desa di sini. Haus akan hiburan”

“Menyambut kami?”

Tak ada jawaban. Pertanyaanku hanya dijawab dengan senyuman. Aku menghela nafas panjang sambil menggeleng-geleng kepala masih tidak percaya. Ratusan orang ini berkumpul hanya demi menyambut kami yang datang dengan sembilan orang ini.

Aku merasa bagai berada di negeri dongeng dan sedang berperan menjadi pejabat. Mulai dari anak-anak berseragam, cewek-cowok, bapak-ibu, hingga kakek-nenek tumplek-blek di dekat dua batu besar yang diberi ikat kain putih besar. Semua pasang mata melihat kami yang datang kebetulan dengan memakai topi cowboy, bukan untuk bergaya, tetapi karena kami baru saja melihat karapan sapi yang diadakan di lapangan Giling, Sumenep.

sabreng dan cengi

Alunan bunyi gamelan membentuk suara bagai orchestra di atas bukit bebatuan gersang. Aku berada di baris paling depan memimpin rombongan bersama Pak Andi saat sampai di dekat dua batu itu. Sedetik kemudian seorang nenek dengan bedak yang sudah luntur mungkin kepanasan menunggu kita menyuguhkan Pokka dan Sabreng (singkong rebus) lengkap dengan Cengi renges (sambal yang terbuat dari cabai dan garam). Pokka adalah minuman khas Sumenep yang terbuat dari gula merah dan serei. Singkongnya empuk dan enak dicocol dengan sambal yang terbuat dari cabai dan garam saja. Ah, welcome food ini mengalahkan welcome drink yang biasa disajikan di hotel yang berbintang banyak.

naila sedang bercerita

Mulutku masih penuh dengan singkong saat Naila seorang siswi sudah memulai sebuah pertunjukkan. Ia bercerita tentang legenda batu cenneng dan sejarah desa Sema’an. Ia bercerita dengan latar batu cenneng di belakang dan diiringi musik gendhing gamelan. Bulu romaku berdiri. Merinding.

orchestra di bebatuan

Bagi seorang siswi yang masih di sekolah dasar seperti ini sudah bisa bercerita a la story-teller kelas dunia. Diiringi gendhing gamelan membuatku merinding. Takjub.

Dari cerita itu aku jadi tahu tentang sejarah legenda batu cenneng  dan awal mula desa Sema’an. Siswi itu mengakhiri pertujukan dengan memukul batu besar di belakangnya. Batu itu lantas berbunyi seperti memukul besi. Batu yang unik.

Batu cenneng di sini ada dua. Lake’ ben Bini’, Laki-laki dan perempuan. Meski dahulunya kedua-keduanya berbunyi, sekarang hanya batu yang di sebelah selatan atau batu cenneng Bini’ saja yang berbunyi.

tarian pojian toa
Baru dapat beberapa jepretan foto, kami sudah dikagetkan dengan pertunjukkan lagi. Kali ini adalah siswa-siswa SD yang menari pojien toa (pujian tua). Tarian ini berisi tentang rasa syukur seorang manusia kepada Tuhannya. Anak-anak yang berseragam itu berputar-putar menari sambil menyanyi, kemudian ditutup dengan doa yang pas. Doa yang menyebutkan dan menyampaikan pesan moral kepada masyarakat yang hadir bahwa batu tetaplah batu, tidak bisa berbuat apa-apa, ia hanya hiburan, tak perlu dikagumi secara berlebihan. Yang perlu dikagumkan tetaplah yang maha Kuasa. Pertunjukan dengan akhir yang sempurna.

pojian toa ditutup dengan doa

Sebuah pertunjukan yang mahal dan perpaduan yang sempurna di tengah bukit bebatuan yang gersang. Bagaimana tidak, warga desa berkumpul menyaksikan pertunjukan yang sebenarnya adalah cerita masa lalu nenek moyang mereka dengan ditutup apik sebuah doa. Ah, kami merasa menjadi ‘pejabat’ yang sangat beruntung bisa menyentuhkan kaki di tanah gersang bebatuan.

Sebuah pertujukkan berkelas tidak harus mahal dan berada di tempat mewah. Panggung mereka adalah tikar seadanya yang digelar di atas tanah tak rata. Lighting mereka sinar matahari siang. Sound system mereka cukup amplifier bertenaga baterai. Sederhana. Namun tak sesederhana makna dan bagaimana cara menemukan batu yang nyaris terlupakan puluhan tahun.

Catatan: semua foto di atas adalah milik Alomampa Songennep, travel agent dari Sumenep

ALAM

4 thoughts on “Alomampa 1: Sembilan Blogger Disambut Ratusan Warga

Berikan Komentar