Bahagia itu Sederhana

Ada beberapa cerita perjalanan yang banyak belum aku tulis. Juga tidak sedikit kisah menarik yang berlangsung selama Januari. Ada beberapa kisah yang bertajuk “saat pertama kali”. Saat petama kali masuk kerja seorang guru tidak tetap (GTT). Saat pertama kali menikmati maskapai terbaik di Indonesia, meksi harus gratis. Saat pertamakali memasuki kantor mewah nan canggih yang tidak ada kembarannya di Madura. Saat pertamakali bertemu dengan orang-orang hebat di negeri ini. Saat (bukan) pertamakali melakukan kesalahan konyol dan memalukan. Dan masih banyak yang lain.

Saat pertamakali memang menjadi selalu istimewa bagi siapapun. Karena itu adalah bagian dari proses pendewasaan diri. Tidak ada yang lebih istimewa dari momen pertamakali. Karena momen ini adalah momen yang bersejarah bagi perjalanan hidup seseorang sebagai hamba di dunia ini.

Meski sudah dua minggu aku menjadi GTT di SMA Negeri 4 Bangkalan, namun aku baru masuk ke sekolah ini satu minggu saja. Seminggu tersisa aku ijin tidak masuk (ada urusan) ke Jakarta. Saat masih berada di Bundaran Hotel Indonesia, masih di dalam taksi, aku menelpon salah seorang guru di SMAN 4 Bangkalan, Pak Makhrus. Saat beberapa kali, beliau selalu gagal menghubungiku saat masih di hotel Sahid. Di kawasan momumental yang baru tahun ini terkena banjir itu, aku berkomunikasi dengan orang yang berada 485 km dari tempatku berada. Ya, sedianya aku diharap kehadiran di sekolah besok pagi. Tenagaku diperlukan. Meski sempat terancam tidak bisa hadir karena kehabisan tiket pesawat, untunglah aku bisa pulang dan bisa menghadiri acara Sabtu di SMAN 4 Bangkalan.

Hari Sabtu, ada acara sosialisasi program aplikasi sekolah (PAS) yang bertempat di SMAN 4 Bangkalan. Aku mengikuti dan sesekali membantu tutor, karena sebelumnya sudah pernah mendapatkan sosialisasi serupa. Hari berputar begitu cepat, secepat angin yang berhembus dari hijaunya persawahan Bangkalan. Tiba-tiba di sebuah pagi yang cukup cerah setelah semalaman diguyur hujan, aku berangkat ke SMAN 4 Bangkalan. Aku sudah ditunggu Pak Fauzi, Waka Kurikulum SMAN 4 Bangkalan.

Selain PAS, sekarang sekolah dituntut untuk mengisi PDSS (Pangkalan Data Siswa Sekolah) yang berfungsi untuk mendaftarkan langsung siswa-siswanya ke SNMPTN. PAS dan PDSS adalah salah satu program Dikmen untuk pendataan yang tersentral. Ya. Semua menggunakan komputer dan internet.

Kemarin (21/1), tepat berumur dua minggu aku menjadi GTT di SMA Negeri 4 Bangkalan. SMA terakhir dan terbaru saat ini di kabupaten Bangkalan. Karena belum ada SMAN 5 di Bangkalan. Hari itu berbeda dengan hari-hari lainnya, aku lebih banyak berada di ruang guru. Melihat data yang sudah dikirimkan wali kelas kemudian memidahkannya dan men-split menjadi data yang siap diverifikasi untuk didaftarkan ke Dikmen. Aku menjadi anggota tim SNMPTN. Karena hanya aku yang benar-benar lulusan informatika, aku langsung masuk saja ke tim itu. Semua guru bekerja sama untuk bersama-sama mendaftarkan anak didiknya agar bisa ikut SNMPTN dan bisa melanjutkan studinya. Semua wali kelas, terutama wali kelas duabelas menjadi lebih sibuk dari biasanya. Hari-hari selalu dihiasi dengan memandangi laptop demi untuk memasukkan nilai demi nilai anak didiknya. Sebuah perjuangan yang luar biasa disamping kesibukan mengajar siswa-siswanya. Meski beberapa mengeluh karena lelah, bingung dan pusing menghadapi komputerisasi ini, tapi aku melihat tidak ada kata menyerah, mereka selalu bersemangat dan bekerja keras untuk mencapai tujuan: lulusan SMAN 4 Bangkalan bisa mengikuti SNMPTN. Hal ini juga adalah hal pertamakali, tidak hanya bagi mereka dan SMA-SMA se-Indonesia, tapi juga bagiku.

Wajah lembab bekas keringat, badan terasa tidak nyaman bekas keringat. Beberapa tugas yang menjadi tanggung jawabku sudah selesai. Aku pamit pulang di saat mereka masih sibuk di depan laptop masing-masing. Aku ambil motor dan bergegas pulang. Angin bertiup kencang menyambutku, hamparan sawah hijau langsung terhidangkan begitu saja, sekolah ini memang mewah; mepet sawah. Seekor ulat bulu lewat di depanku seperti memberikan ucapan selamat tinggal. Perasaanku saat senang. Aku begitu bahagia bisa menjadi bagian dari SMAN 4 Bangkalan.

Seperti ada yang berbicara dalam batinku, bahagia itu sederhana. Tidak harus berlimpahkan uang. Cukup dengan bermanfaat bagi orang di sekitar itu kita pasti akan bahagia dan punya bangga, setidaknya pada diri sendiri. Kalau ukurannya adalah uang, mungkin aku sudah menjadi karyawan swasta seperti teman-temanku kebanyakan. 3-4 bulan saja sudah bisa membeli smartphone seharga 6-7 juta. Tapi bukan itu yang aku inginkan, bahagia itu saat bisa menjadi orang yang bisa berguna setidaknya bagi lingkungannya tempatnya bekerja dan membantu sesuai kemampuang masing-masing, aku (saat ini) ingin berbakti pada tanah yang sudah membesarkanku, memberiku sejuta pengalaman dan aku memilih dunia pendidikan di Bangkalan, kabupaten kaya akan salak yang letaknya jauh dari hiruk-pikuk kota yang bergelimang proses transaksi ekonomi milyaran rupiah.

Selagi bisa, satu-dua tahun kedepan, aku memilih berbakti, berbakti pada tanah ini, Madura, pulau yang indah di tengah-tengah negeri nan permai, Indonesia.

 

 

ALAM

3 thoughts on “Bahagia itu Sederhana

  1. “Bahagia” merupakan kata yang simple tetapi tidak semua orang bisa memilikinya,”bahagia” adalah sebuah kata yang tidak bisa kita beli hanya dengan UANG, “bahagia” adalah kata dimana kita bisa melihat orang2 disekitar kita bisa tertawa lepas karena apa yang telah kita lakukan, “bahagia” adalah ketika kita bermanfaat bagi masyarakat luas

Berikan Komentar