Rencana Merepotkan Teman

Published by ALAM on

Kami pikir hari ini hanya pemeriksaan sebentar, pulang, lalu besok balik lagi untuk operasi sesar. Ternyata harus nginap dan anak kecil ngga boleh masuk.

Sore itu tiba-tiba kami hectic sekali di Women and Children Hospital Taipei.

Kami pikir anak kecil ngga boleh masuk hanya saat operasi saja. Ternyata seterusnya selama proses persalinan 5 hari 4 malam.

Kami sudah mencoba lobi aturannya dengan beberapa pilihan solusi, aturannya tetap sama: Kia tidak boleh masuk dan hanya boleh ditemani satu orang. Titik.

Artinya kami harus cari bantuan yang bisa merawat Kia.

Tinggal bertiga di negeri orang kami terbiasa mengurus sendiri semuanya. Rasanya pantang merepotkan teman. Namun hari ini rasanya kita butuh bantuan teman. Tak sekadar teman, tapi sahabat dekat yang dipercaya bisa merawat Kia dengan baik.

Lalu dengan cepat kami berpikir bagaimana kenyamanan Kia. Jawabannya Kia harus di rumah saja. Teman yang menginap di rumah. Di sana sudah ada mainan, buku dan media lain pendukung aktivitas Kia seharian.
Hari itu juga kami telpon teman-teman yang bisa bantu. Ngga banyak pilihan, karena mereka ke Taiwan bukan untuk bersenang-senang. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.

Rasanya ingin memakai pintu doraemon untuk mendatangkan Eyang dan Mbahnya Kia ke sini.
Sehari sebelum operasi adalah hari tersibuk dengan perubahan agenda dan rencana. Rencana yang kami susun berantakan diganti dengan rencana merepotkan teman. Baju kami bertiga, berempat dengan bayi sudah lengkap di dalam koper. Meski pada akhirnya beberapa harus dibawa kembali ke rumah.

Pelajaran pentingnya adalah adaptif dan tetap tenang dengan apapun kondisinya. Jika pikiran mumet, segera ambil kertas dan bolpoin untuk menentukan apa rencana selanjutnya.

Untungnya kami masih mempunyai sahabat baik yang rela meluangkan waktu dan pikirannya. Terimakasih Saide, Herza dan Fatriza. Hari itu kami terpaksa merepotkan kalian bertiga secara bergantian.

Langsung selanjutnya aku bilang: “minta tolong, ini urgent, kalian empat malam nginap di rumah, bukan maksud memaksa, tetapi ngga ada waktu untuk memindahkan mainannya Kia ke rumah kalian.”

Ketika serah terima Kia, “makanan di kulkas sudah penuh bisa dipakai semuanya, ini ada beberapa lembar NT kalau Kia mau jajan atau jalan jalan sore. Semua resource di rumah ini bebas kalian pakai.” Selanjutnya saya tinggal Kia di rumah Banqiao bersama om tantenya, saya kembali ke kawasan Guting menemani istri bersiap lahiran.

Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar, bayinya lahir, ibunya sehat, Kia ngga rewel bersama om dan tantenya.
Kini bayi itu sudah bisa berjalan dan mulai belajar berbicara. Namanya Meilin Mavisha Alamsyah.

Nah, kalau yang difoto ini baru berusia satu minggu, adiknya Meilin, namanya Jasmine.

Lengkapnya: Jasmine Jiwa Alamsyah

Bangunjiwo, Kasihan Bantul, 20 Juli 2023

 


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder