Berselimut Kabut di Kintamani

Pemandangan Danau Batur yang berselimutkan kabut di langit Kintamani
Pemandangan Danau Batur yang berselimutkan kabut di langit Kintamani

Kintamani. Kawasan ini sering aku dengar. Dari itinerary yang disodorkan panitia tur SMAN 4 Bangkalan, hanya nama Kintamani yang menarik bagiku, karena ini pertama kalinya aku datang ke tempat ini.

Kintamani adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Indonesia. Kintamani juga merupakan kawasan wisata pemadangan alam di Bali. Baru-baru ini Kawasan Danau Batur ini ditetapkan sebagai Global Geopark Network atau taman bumi oleh UNESCO. Ini berarti Kawasan Danau Batur menjadi taman bumi pertama yang ditetapkan secara resmi oleh UNESCO.

Sumber-sumber yang menyebutkan tentang Danau Batur adalah Lontar Kesmu Dewa. Lontar Usana Bali dan Lontar Raja Purana Batur. Disebutkan bahwa Pura Batur sudah ada sejak zaman Empu Kuturan, yaitu abad ke-10 sampai permulaan abad ke-11. Luasnya areal dan banyaknya pelinggih-pelinggih maka diperkirakan bahwa Pura Batur adalah penyiwi raja-raja yang berkuasa di Bali, sekaligus merupakan Kahyangan Jagat. Di Pura Batur yang diistanakan adalah Dewi Danu yang disebutkan dalam Lontar Usana Bali

Tour guide yang menemani perjalanan rombongan memberitahu kalau kita sudah mendekati kawasan Kintamani. Terlihat laju bis berwarna oranye menaik. Benar saja, kita sedang akan menuju kawasan pegunungan.

Udara dingin tiba-tiba menyeruak begitu saja. Masuk menusuk kulit sesaat ketika pintu bis dibuka. Udara dingin di luar mengalahkan dinginnya AC bis ini. Aku turun dengan semangat.

Titik-titik air membasahi tipis wajahku ketika menoleh ke belakang. Aku sumringah. Ada pemandangan indah di ujung sana. Kecantikannya masih tertutup kabut, persis seperti putri cantik yang malu-malu. Dengan gigi menggeridik kedinginan, aku mencari spot yang baik untuk mengabadikan keindahan ini.

Pemandangan ini mirip seperti telaga Ngebel di Ponorogo. Hanya saja, danau ini bergandengan dengan gunung yang juga diberi nama gunung Batur. Menurut keterangan tour guide, gunung ini masih aktif. Pemandangan serupa juga pernah aku lihat di tempat yang sama tapi berbeda lokasi, yaitu Danau Bratan di Bedugul.

Sayang, di atas, aku hanya menemukan satu warung yang menyediakan makanan ringan seperti mie goreng, teh, dan kopi. Daripada sekadar numpang foto-foto, aku pesan mie goreng dan teh panas. Makan yang hangat dengan ditemani pemandangan yang cantik akan menjadi sensasi yang begitu dirindukan. Aku ngga bisa bergerak dan mencari tempat yang lain. Udara terlalu dingin. Setelah menghabiskan sepiring mie goreng, ponselku berdering. Aku harus segera kembali ke bis, karena perjalanan wisata ke Bali akan segera diteruskan.

Catatan ini ditulis langsung di kawasan Danau Batur, 23 Juni 2014

***

Note: Awalnya, aku kira namanya Badur, sehingga di twitter tertulis Badur, belakangan yang benar adalah Danau Batur.

ALAM

Berikan Komentar