Cerita Forum Internasional di Bali

igf 2013 wahyualam

Diajak King Nopy dengan perjalanan yang penuh spiritual, aku datang ke Bali dalam rangka mengikuti event internasinal. Internet Governance Forum (IGF). Forum ini, adalah forum berkumpulnya semua kalangan dari penjuru dunia, untuk ikut andil dalam tata kelola internet dunia. IGF di Bali ini adalah IGF ke-8. Acara ini rutin dilaksanakan setiap tahun, sejak tahun 2005. Dan tuan rumah penyelenggaranya bergantian setiap tahunnya. Pada 2013, beruntung Indonesia (akhirnya) bisa menyelenggarakan meski sempat ada banyak halangan dan nyaris batal diselenggarakan.

Untuk mengikuti acara, aku harus register. Untungnya, aku sudah dapat konfirmasi sebagai peserta. Salah satu teman, belum mendapatkan konfirmasi via email dan dia belum terdaftar, akhirnya sempat bermasalah dengan proses registrasi. Acara internasional memang lebih rapi mengatur segala hal. Apalagi yang berhubungan dengan keamanan. Memang, kawasan internasional, harus ada standarisasi khusus untuk keamanannya.

Ada lebih dari 130 sesi yang disediakan selama pre-event hingga saat hari-H. Mulai topik teknis infrastruktur, hukum, kebijakan, ekonomi, hak asasi manusia, privasi hingga kebebasan berekspresi tertuang dalam 1 ruang utama dan 10 ruangan yang ada di gedung keren bernama Bali Nusa Dua Convention Center. Aku melingkari beberapa sesi yang menurutku menarik dan sesuai dengan bidangku, beberapa topik seperti kebebasan berekspresi, connecting the unconnected, hingga Internet Society Open Forum.

Ada hal yang baru aku sadari, diluar sana, ada banyak organisasi non profit yang rela untuk membuat terobosan agar internet bisa dijangkau oleh masyarakat terpencil di seluruh dunia. Dengan ilmuan dan peneliti yang mereka rekrut untuk bisa berkontribusi agar seluruh manusia di muka bumi ini bisa mengenal internet. Di Indonesia, mungkin seperti ICT Watch lewat programnya Internet Sehatnya dan Menkominfo seperti Relawan TIK-nya.

IGF 2013 ini langsung ditangani oleh United Nations, atau di Indonesia lebih dikenal dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Seluruhnya menjadi tanggung jawab UN. Mulai dari rundown acara, hingga sistem keamanan peserta.

Ada banyak kisah menarik yang aku alami selama di sana. Pertama, aku suka sistem pengaturan waktu mereka. Ya, aku benci acara telat. Apapun alasannya. Acara ini persis lancar seperti yang ada di rundown. Jika kita telat 30 menit saja, maka kita akan rugi besar karena tidak bisa melihat presentasi para penyaji yang bergantian dari beberapa negara. Bahkan, saat ada berada di ruangan Nusa Dua Room 1, acara belum dimulai, padahal sudah menunjukkan jam 14.30, moderator langsung minta maaf dan akan dimulai 5 menit lagi. Yes, Exactly, I hate late!

Berada di selama lima hari, aku seperti mengikuti kursus bahasa Inggris selama lima hari. Mungkin, bagi sebagian orang ini hal biasa, bagi anak desa sepertiku, ini suatu peluang untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku. Terlebih kemampuan listening. Aku lebih suka berbicara dengan orang Amerika daripada orang Australia atau Selandia Baru. Bahasa Inggrisnya orang Selandia Baru atau Australia lebih susah didengar dan dimengerti daripada orang Amerika. Benar saja, ini kursus bahasa Inggris gratis dan langsung dengan native speaker dari beberapa negara. Ketika coffee break atau lunch, aku lebih suka bersama peserta dari luar negeri, daripada peserta dari dalam negeri. Tujuanku hanya ingin meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisku. Melatih kemampuan berbicara, kalau dalam bahasa kerennya: melatih conversation, langsung dengan bule dan dengan topik yang menarik, yaitu: internet.

Di hari terakhir, saat aku mengikuti A Better Internet with You(th)…Connecting the Dots di Room 1 Nusa Dua Hall 2. Saat itu hadir beberapa pegiat internet muda dari Hong Kong, Belanda, Spanyol dan Amerika. Mereka adalah CEO-CEO muda di bidang internet. Uniknya, kami dibentuk beberapa grup untuk membahasa bagaimana mengupayakan a better internet secara world wide. Sederhananya, bagaimana berinternet secara sehat, namun kali ini skalanya untuk seluruh dunia. Wah, ini diskusi yang sangat menarik. Pertamakalinya, berdiskusi dengan pegiat internet dari beberapa negara. Semua menceritakan kondisi internet di negara masing-masing. Aku jadi mengerti bagaimana kira-kira kehidupan berinternet mereka di Australia, Amerika, dan di Belanda. Menarik.

Rasanya, menjadi sangat bangga menjadi bagian dari forum dunia. Aku merasa sudah menjadi bagian dari masyarakat internet dunia. Meski begitu, aku masih sangat haus belajar. Harus. Belajar, belajar dan belajar lagi.

ALAM

One thought on “Cerita Forum Internasional di Bali

Berikan Komentar