Cerita Keramahan Sumenep

Gettas, Makanan Khas Sumenep
Gettas, Makanan Khas Sumenep

Aku menempuh jarak 160 km perjalanan dari Kamal menuju Nambakor, Sumenep. Aku berhenti tepat di depan masjid Nambakor yang sebenarnya bernama masjid Baiturrahman.

Saat kaki bersentuhan dengan tanah. Bapaknya Agung dan Slamet sudah menungguku dan Raden. Aku disambut dan dipersilahkan beristirahat di rumahnya Agung yang ternyata berada di belakang masjid.

Belum sempurna aliran nafasku karena “buslag”, kami sudah disuguhi Gettas dan Big Cola oleh Ibunya Agung. Wah, ternyata guyonanku di fesbuk menjadi kenyataan. Aku hanya kangen dengan makanan yang pernah diberikan ibunya Agung saat aku dan teman-teman Plat M mengadakan acara di Sumenep hampir setahun yang lalu. Gettas, makanan yang berupa ketan yang dilumuri dengan gula dan berbagai campuran sehingga seperti getah manis berwarna putih.

Nafas kami berlangsung normal, Sambil menikmati getas dan angin malam di Nambakor, kami berdiskusi akan menginap dimana. Agenda ke Sumenep yaitu kopdar dengan teman-teman blogger Sumenep. Aku juga berjanji dengan Mas Dedy yang akan menyambut kami di kafenya, KoffeKita. Sedangkan Raden juga berjanji akan kopdar dengan Mas Novi yang dia kenal lewat fesbuk. Kedua orang tersebut siap menyambut kami dan tidak keberatan jika kami menginap ditempatnya. Sekarang kami sedang berada di rumahnya Agung, dan tawaran menginap juga hadir dari orang tuanya Agung. Bahwa disini terdapat dua ruangan kosong yang siap ditempati jika kami menginap.

Memang, Len-jelen edisi kali ini tidak ada skedul khusus harus kemana dan ingin kemana. Hanya sekadar ingin kopdar dan bertegur sapa dengan onliners yang ada di Sumenep. Ya, hanya itu saja.

Akhirnya, setelah berdiskusi singkat dengan aneka pertimbangan, kami memilih untuk menginap di rumahnya Agung. Keputusan itu dibuat bebarengan dengan aku menaruh tas di kamar. Dan sebuah SMS dari mas Dedy menghiasi ponselku. Malam ini aku diajak untuk kopdar dan menikmati suguhan kopi kedai Koffee Kita.

Aku bersama Agung dan Slamet bersama Raden berangkat ke kedai KoffeeKita menggunakan dua motor. Berempat kami melupakan lelah dan dengan asas pertemanan, kami berangkat, menembus dinginnya udara malam Sumenep.

Sebuah gerbang selamat datang di Sumenep menjadi penyambut yang ramah. Dengan kerlipan cahaya lampu, seolah memberikan senyuman dan mengucapkan selamat datang di kota Sumekar ini.

Tidak jauh dari pusat kota, terletak di depan rumah dinas bupati Sumenep terlihat sebuah beberapa meja lingkaran berpayung merah tak berlampu. Sinar terang hanya ada di meja pelayanan dan logo Koffee Kita yang pernah kulihat twitter memberikan petunjuk kepadaku: ini dia kedainya mas Dedy! Ah, senang rasanya bisa bertemu dengan teman yang kita kenal via Twitter.

Tidak lama, mas Novi datang dengan Mas Wiwid dan teman ceweknya. Mas Novi adalah pemerhati sejarah dan budaya yang sekarang sedang menjalani tugas di Sumenep, sedangkan mas Wiwid dan teman ceweknya adalah klebun dari komunitas Songennep Tempo Doeloe. Ketiganya, mas Dedy dan empat blogger Plat M berbicara dan saling bercerita ditemani dengan segelas kopi. Benar saja, sebuah ide gagasan dan persahabatan itu lahir lewat segelas kopi di kedai sederhana ini.

Pembicaraan semakin malam semakin menarik. Hal-hal tentang Madura, mulai dari sejarah Sumenep hingga penjajahan di negeri ini mengisi tengah malam kami.

Jam sudah menunjukkan 01.30 dini hari. Sebelum beristirahat di Nambakor, kami mampir sebentar di TB: Taman Bunga. Sebuah kawasan di tengah-tengah Keraton dan Masjid Jami Sumenep. Inilah alun-alun kota Sumenep. Dan malam ini diakhiri dengan menjemput Itsnain yang baru bisa bergabung dan beristirahat di kamar yang temboknya berupa keramik semua ini. Indahnya rumahnya Agung ini.

Pagi hari kami disambut dengan kopi hangat buatan Ibunya Agung. Begitu baik ibu dua anak ini. Sesaat sebelum memulai petualangan Len-jelen edisi Sumenep, kami disuguhkan kejutan yang lain dari keluarganya Agung. Kejutan ini tak pernah kita duga sebelumnya, yaitu empat bungkus nasi pecel menunggu kami menyantapnya. Ngga tahu apa yang harus kita katakan selain berterimakasih.

Keramahan yang lain di Sumenep ini hadir dari mas Wiwid. Dia bersibuk ria, mengatur segala hal tentang rencana kami berekspedisi ke Gili Iyang. Kami buta, kami belum pernah ke sana. Untunglah, Mas Wiwid, Mas Heru dan Mas Dedy berbaik hati menemani kami berpetualang seru. Kami juga bingung harus memberikan apa kepada mereka.

Kebaikan Ibunya Agung dan teman-teman dari berbagai komunitas menjadi pembuktian kepadaku, juga memberikan gambaran tentang keramahan orang Sumenep. Darah kerajaan yang mengalir di setiap warganya memberikan senyuman keramahan. Ini bukan sebuah cerita fiktif yang direkayasa, ini tentang bukti nyata, bahwa orang Madura, terlebih orang Sumenep dengan bahasa Maduranya yang asli, adalah orang yang ramah. Anggapan miring tentang orang Madura itu adalah kesalahan besar dan hanya penilaian subyektif belaka.

Hari ini, di bis Akas yang membawa aku pulang ke Bangkalan berikan pesan moral yang begitu dahsyat. Sinar matahari yang redup dan seolah tenggelam di pulau Madura menjadi saksi persahabatan baru kita. Sumenep, aku senang dan bahagia berkunjung. Aku akan merindukan setiap kebaikan yang pernah kalian lakukan buat aku dan teman-teman Plat-M.

ALAM

2 thoughts on “Cerita Keramahan Sumenep

  1. Mentang-mentang ada Jetlag, ini malah Buslag.
    Oiya ane baru sekarang ini loh merasakan yang namanya Ghettas.

    NB: Lain kali info tempat ketemuannya diperjelas ya broh, ane disuruh menunggu di Masjid Nambakor eh ternyata tuh Masjid Baiturrahman. Untung gak pergi duluan. *Jewer Kuping Klebun*

  2. Aku juga sudah pernah merasakan keramahannya orang Sumenep pas acara Bring Linux to School sama UKMF ITC. Kata siapa orang Madura itu ga ramah…

Berikan Komentar