Beginilah murid yang berangkat sekolah di suatu pagi

Desa Kebun Dusun Labang Laok RT/RW:01/01 Kecamatan Kamal Kabupaten Bangkalan Madura merupakan sebuah tempat dimana aku lahir, merasakan sentuhan tangan orang tua, mengetahui dunia dengan sejuta harapan menanti masa depanku. Sebuah desa yang terletak 5 km dari Pelabuhan Kamal ini mempunyai masyarakat dengan pekerjaan petani dan peternak sebagai mata pencarian utama selain beberapa pekerjaan yang dilakukan masyarakatnya seperti kuli bangunan, sopir, pedagang sampai tidak sedikit yang merantau ke luar negeri seperti Malaysia dan Arab Saudi.

Setiap rumah di desaku ini kebanyakan memiliki langgar (Musholla) per keluarga, selain itu di belakang rumah pasti memilik kandang untuk binatang ternak mulai dari sapi, kambing, bebek, angsa hingga ayam. Setiap pagi masyarakat desaku bergerak sesuai dengan tugas pekerjaan dan tanggung jawabnya masing-masing. Semenjak sesudah Subuh, para pedagang berangkat ke pasar untuk membawa barang dagangnnya yang berupa hasil ladang yang ditanami berbagai jenis tanaman mulai dari makanan pokok seperti jagung, padi, hingga sayur dan buah seperti daun pepaya, daun singkong, jambu hingga mangga semuanya tumbuh subur di desaku ini.

Kalau sudah panen, aku tidak perlu repot membeli buah-buahan di pasar, minimarket adaupun mall. Hanya dengan membawa galah ke belakang rumah, aku sudah bisa menikmati mangga untuk di makan ataupun dibuat rujak bersama teman-teman.

Kondisi desa yang masih alami membuat desa kami ini terlihat begitu hijau jika dilihat dari Google Maps. Jarak antar rumah satu dengan satunya berjauhan. Tidak berdempet seperti rumah susun yang ada di Jakarta atau perumahan pada umumnya. Kekompakan dan kesadaran sosial masyarakatnya sangat tinggi. Ketika ada satu keluarga yang kesusahan, warga satu desa berkumpul untuk ikut membantu meringankan beban keluarga yang kesusahan itu tanpa harus disuruh atau memakai pemberitahuan melalui speaker TOA di masjid-masjid.

Beberapa jalan utama sudah di aspal, tapi jalan-jalan kecil masih belum ada aspal. Bahkan waktu saya kecil, desaku ini belum di aspal. Jika sudah turun hujan saat anak-anak harus pergi kesekolah, maka kami harus membungkus sepatu kami dengan kresek agar tidak kotor ketika sampai di sekolah karena jalan yang dilalui ke sekolah kondisinya becek terkena hujan deras. Terlalu banyak keunikan desaku ini, aku akan tulis lagi di lain waktu karena saat ini saya harus berangkat ke kampus.


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

4 Comments

gilluts · January 20, 2012 at 05:43

pasti pintu rumah2 di sana semuanya ada di sebelah selatan (labang laok)

    wahyualam · January 20, 2012 at 05:46

    Hahahah betul itu!

SlameTux · January 20, 2012 at 07:40

Aku jadi kepengen nulis tentang desaku nie… 😀

Tak Sehoror yang Dibayangkan | Wahyu Alam's · January 23, 2012 at 06:06

[…] desa ini tidak jauh beda dengan Desa Kebun Dusun Labang Laok tempat aku lahir dan tinggal saat ini. Rumah antara satu rumah dengan lain saling berjauhan, […]

Berikan Komentar

%d bloggers like this: