Detik Menjelang Detik

“Pada suatu hari, saat hari itu dirasa sangat menegangkan, saat semua pekerjaan akan dipertanggungjawabkan, dan saat gelar Sarjana adalah taruhannya”.

Sambil menunggu dosen datang dan memasuki ruang sidang 2 yang menampilkan aksi dari saya yang sudah lengkap dan siap dengan LCD/Projector terpasang ke laptop dan slide presentasi sudah terpancar. Sesekali udara dingin yang dikeluarkan AC ruangan ini masuk menyelinap menembus kulit. Saya lihat ibu dosen koordinator tugas akhir sibuk mondar-mandir menghubungi beberapa dosen yang bisa menguji di pagi yang begitu dingin di bulan puasa yang penuh rahmat Allah ini.

Lampu flash Xperia terlihat berkedip-kedip berwarna hijau. Itu tandanya ada sms. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel dari seorang teman memberi semangat. “buuunnn… semangaaaatttt! Sukses sidangnya kakaaaa”. Tersenyum saya membacanya. Pesan dari Niyasyah ini memberiku refresh memecah ketegangan. “ngga kok, aku ngga tegang. Cuma… deg-degan saja. Itu normal katanya” *pembenaran*. Balas membalas sms menghilangkan ketegangan. Musik masih menjadi senjata sangat ampuh bagi saya untuk menghilangkan penat, stress dan nervous yang berlebihan. Musik Jason Mraz berdendang merdu di kedua headset yang menempel di kuping.

Memang saya sangat tidak suka *banget* telat! I hate late!

Tapi mungkin karena kondisi berpuasa terus cuaca pagi yang begitu dingin membuat semua dosen datang terlambat.

Ada hikmahnya juga sidang di bulan puasa, ngga usah repot menyediakan konsumsi untuk para dosen. *kan lagi puasa?*. cukup mengganti dengan uang 50.000 semuanya beres. Tidak perlu bawa repot-repot dua kantong plasting besar berisi nasi, air mineral dan camilan apalagi dengan mengendarai sepeda motor akan menambah kesulitan.

Jam sudah menunjukkan 8.54 saat jari jemari saya menghentakkan ke keyboard laptop hitam ini. namun kursi di depan saya masih kosong juga. Terlihat satu dosen sudah datang. *Ah, yang lain pada kemana yak?* sudah nyaris mau 30 menit terlambat dari jadwal semula. *tapi kenapa tiba-tiba tangan ini berkeringat yak? Kan sudah ada AC?, apa karena ada dosen ini? dosen yang katanya teman-teman “killer”?* tapi ternyata dosen ini membuka laptop *semoga lagi sibuk dan tidak memperhatikan saya*. harapan jelek itu namanya.

Hmmmm apalagi yak yang mau ditulis?

Kehabisan topik ini, tadi saat ngga ada dosen ini, sepertinya lancar sekali nulisnya. Sekarang ada dosen ini semua mood jadi hilang dan ngga tahu lagi mau ngetik apa. Ayooolah, datanglah semuanya!. Biar “ndang mari, ndang lulus, ndang wes” artinya biar cepat selesai, cepat lulus dan dan cepet … wes? Wes apaan yak artinya? Sepertinya saja wes itu artinya selesai.

Aku nulis apaan tadi? Ngga jelas!

Ini bukti pikiran saya sudah meracau tidak jelas. Fokus..fokus..fokus.. tetap fokus.. apa yang sudah dibaca tadi pagi, dan juga sejak semester tujuh lalu sekarang adalah pembuktiannya! Ngga perlu takut! Harus takut apa? Takut siapa? Santai saja lah! *ato kalau di iklan : Enjoooy ajaaa!*

Aku menoleh ke kiri terlihat form penilaian tugas akhir dan laporan tertumpuk begitu saja. Menunggu orang yang akan dan mau diberikan. Di ruang sebelah, ruang sidang 1 sudah terdengar konsultasi program dan algoritma yang dikerjakan. Di sini saya masih sibuk mengetik cerita ini. suara di ruangan sebelum bercampur dengan dengungan LCD/Projector yang sudah hidup sejak setengah jam yang lalu. Tapi ini mana semua?

Yak dosen ini angkat tangan yang menanyakan sesuatu kepada saya. sedikitnya pertanyaan ini menghancurkan ketegangan dan ketakutan akan dosen tersebut.

Tanpa disuruh beberapa dosen sudah memasuki ruangan saya. dan sidangpun akan dimulai

Nanti lanjut lagi yak. 😀

Catatan: Postingan ini ditulis langsung saat berada di ruang sidang sambil menunggu kedatangan dosen. Menegangkan tapi ternyata santai saja.

 

 

 

ALAM

3 thoughts on “Detik Menjelang Detik

  1. alhamdulillah..akhirnya terlewati dengan baik juga to? gelar s.kom sudah ditangan. selanjutnya mau diapakan? *ngomong depan kaca*

Berikan Komentar