Fantastic Jogja Part 1

Ilustrasi : Konferensi

Pukul 04.50 WIB, Bis Eka memasuki Termina Gewangan – Jogjakarta, aku dan Aris keluar dari bis. Ini adalah pertama kalinya kakiku menginjak tanah Jogjakarta. Kita berdua berniat menghadiri konferensi di UGM, setelah sholat subuh di Terminal, kami bersama tukang ojek, ketika meluncur ke Jl Godean, tepatnya di Karang Tengah rumah Ibu Utami dan Pak Winny. Rencananya kita akan menginap di sini selama acara konferensi. Beberapa tukang ojek tanya tentang lokasi yang saya tuju, seketika saya melihat sms dari Ibu Utami sambil mengatakan dalam hati “bapak tanya saya, saya tanya siapa?”.

Jogja pagi itu seperti segar sekali, menurut tukang sopir semalam habis diguyur hujan lebat, sehingga masih menyisakan beberapa titik air hujan di daun-daun pohon dipinggir jalan. Gunung Merapi terlihat dari kejauhan seolah menampakkan kegagahannya. Dalam pikiranku seketika teringat ketika dia mengamuk tepat tahun lalu.

Setelah sampai rumah Pak Winny dan Ibu Utami, kami disuguhkan cappunino panas yang cukup lumayan menghangatkan tubuh di pagi hari. Mereka berdua sangat ramah, dan kita sebenarnya sangat sungkan karena akan merepotkan mereka berdua selama 2 hari, tapi beberapa kali mereka mengatakan tidak keberatan dan dengan senang hati akan membantu kami berdua. Syukurlah!

Bebek bersayap putih

‘iPad’

Sambil bersiap berangkat ke UGM, pak Winny memberikan peta dan sepeda motor yang mungkin akan berguna untuk 2 hari ke depan. Dengan bantuan ‘iPad’ dan ‘bebek bersayap putih’ aku dan Aris menyusuri jalan-jalan di Jogjakarta menyusuri sinar mentari pagi berjalan sesuai petunjuk iPad yang dibuatkan Pak Winny menuju UGM. Cukup mudah bagi saya menyusuri jalanan Jogjakarta apalagi dengan menumpangi ‘bebek bersayap putih’, seketika kita seperti mahasiswa UGM selama dua hari.

Kami mengikuti konferensi hari pertama, karena kami baru presentasi hari kedua jadi hari pertama sedikit lebih santai. Betul kata orang : sesuatu yang pertama kali dilihat, dilakukan, dikunjungi atau dikerjakan akan meninggalkan sesuatu yang exiciting sekali. Begitu juga ketika pertama kaliku melihat Tugu Jogja, melihat megahnya kampus UGM, berkumpul dengan orang-orang high class, berkumpul dengan orang bule. Semuanya begitu exicited sekali, lumayan untuk mengurangii xenophobia. Dan memang pengalaman itu sangat mahal.

Bersama Mr.Yusuf di Holland Education Fair

Selesai konferensi hari pertama, kita diajak Pak Yusuf untuk menghadiri Holland Education Fair di Hotel Phoniex dekat Tugu Jogja. Ini merupakan pertemuan pertama kali sejak Pak Yusuf mendapatkan beasiswa kursus di UGM. Ini semacam reuni antara dosen dan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura jauh di tengah pulau Jawa tepatnya di Jogjakarta. Puas bertanya-tanya ke beberapa Universitas dari Belanda yang berpartisipasi Holland Education Fair, kita memutuskan untuk keluar hotel dan cari makan malam, karena perut sudah terasa kosong, Pak Yusuf bertanya mau makan dimana? Kita menjawab dimana saja boleh, kami berjalan kaki tidak jelas menuju Tugu, tapi belum sampai Tugu, Pak Yusuf mengajak makan di sebuah warung cepat saji Hoka-Hoka Bento.

Dengan menunggangi ‘bebek bersayap putih’ kita menyusuri jalan-jalan Jogjakarta dengan guyuran gerimis hujan menuju HokBen. Makanan ala Jepang yang disajikan menemani hangatnya pembicaraan malam itu, keasyikan mengobrol sampai tidak terasa sudah pukul 21.00 WIB kita akhirnya mengakhiri perjumpaan yang menyenangkan ini sambil mengucapkan terimakasih karena telah di traktir makan malam hari ini *dalam hari berkata: sering-sering saja, Pak. hehehe*.

Rintik-rintik hujan dengan setia menemani kita pulang sampai rumah eyang Bu Utami, sampai di sana kita buatkan teh panas oleh Eyang Bu Utami. Kami sangat berterima kasih, hangatnya the panas cukup menetralkan tubuh yang kedinginan habis kehujanan. Aris memilih menyiapkan presentasi besok, sedangkan aku memilih untuk menyiapkan presentasi besok pagi sebelum subuh dan sekarang beristirahat dan bermalam pertama kalinya di Jogja.

ALAM

2 thoughts on “Fantastic Jogja Part 1

Berikan Komentar