“Diversity Information”

Acara sore hari kembali ke house of Eva, ini adalah acara inti dikumpulkannya blogger se-Indonesia. Focus Group Discussion (FGD). Tema diskusi masih tentang kebebasan berekspresi di internet. aku memilih kelompok 1 yang membahas tentang diversity information atau keberagaman informasi. ada 13 orang yang tergabung di kelompok 1 ini yaitu Viona sebagai moderator diskusi, Haqqi dari Malang, Bahtiar dari blogger bundaran hotel Indonesia (BHI), Zakki dari Akademi Berbagi Medan, Pradna dari Banyumas, Indah Juli dari Bekasi, Iman dari Depok, Ipul dari Makassar, Jessica dari Kanada Yossi dari Bogor, Sanjaya dari Jakarta dan aku dari Madura.
Beberapa dasar pemikiran:

  1. Oligopolo kepemilikan media yang rentan hanya melayani kepentingan golongan/kelompok tertentu/terbatas. ingat pemili 2014 segera tiba. untuk radiao/tv, padahal menggunakan frekuensi milik publik.
  2. Tidak cukup tersedianya pilihan informasi bagi publik, dapat dianggap sebagai bentuk pembodohan dan/atau penyensoran yang represif.
  3. Tersedianya channel/medium baru (blog, media sosial, dll) via internet bagi penggunanya untuk berbagi informasi secara online.

Di awal diskusi, kita masih bersepaham masalah definisi media mainstream, seperti apakah yang disebut media mainstream, apakah media yang besar? apakah media yang punya pengaruh bagi masyarakat? apakah media yang digawangi kepentingan masyarakat atau seperti apa?. awalnya beberapa blogger dalam kelompok 1 mendefinisikan media mainstream itu sebagai media yang ada di Jakarta, besar, punya pengaruh luar biasa, jangkauan luas, dsb. Kalau melihat definisi ini sebenarnya tidak akan berarti jika kita berada di daerah marginal. Jika misal kita berada di desa Mandala Mekar, Tasikmalaya maka media mainstream warganya adalah Primadonna FM.

Akhirnya kami memutuskan definisi mainstrem menurut kelompok 1 adalah pelaku industri media yang besar. Kami memulai diskusi dengan acuan pertanyaan/topik yang sudah diberikan Internet Sehat. Kami menjawab beberapa pertanyaan diskusi yang diberikan dengan contoh kasus langsung dari daerah masing-masing blogger berasal. Diskusi berjalan sangat menarik. serius tapi tetap santai dan cair. Dari diskusi ini bisa aku mengenal beberapa perkembangan kebebasan berekspresi dari Medan, Makassar, Malang, Bogor dan daerah yang lain. Dan hasil diskusi untuk keberagaman informasi (diversity information) adalah:

  1. Sejauh apakah media mainstream membentuk karakter pengomsumsian informasi di publik?
    • Penetrasi informasi media mainstream sudah sampai ke daerah marginal
    • Media mainstream mampu membangun stereotip baik positif atau negatif tergantung kepentingan.
    • Mampu menyeragamkan informasi dan cenderung memperkecil pilihan informasi.
  2. Apakah informasi pada media mainstrem sudah cukup beragam dan telah memberikan ruang yang cukup bagi publik dimanapun untuk berekspresi dan/atau menyuarakan kepentingannya?
    • Media mainstream belum beragam dalam menyediakan informasi dan kurang memberikan ruang yang cukup untuk publik berekspresi bahkan ada patikan berdasarkan kepentingan pemilik modal (semisal kalau di televisi masih bergantung pada rating dan media cetak seperti cetak masih bergantung kepada iklan) dan politik (kekuasan)
  3. Apakah media warga/alternatif di internet sudah cukup beragam dalam melayani kepentingan publik untuk berinformasi dan berekspresi?
    • Sudah mulai beragam, tapi masik belum cukup. Karena sampai saat ini hanya terpaku pada komunitas blogger saja.
  4. Apakah yang dapat/harus dilakukan aktivis informasi di Internet untuk berikan alternatif informasi dan kebebasan berekspresi dari-oleh-untuk publik?
    • Produktif dalam hal memperbanyak konten (positif) juga produktif pelaku (aktivis informasi) untuk memberikan alternatif informasi dan kebebasan berekspresi dari-oleh-untuk-publik.
    • Setelah produktif dalam membuat konten positif, perlu ditingkatkan dengan cara berkolaborasi dengan beberapa komunitas dan beberapa orang sehingga lebih beragam.
    • Produktif dan kolaborasi tidak akan berarti tanpa adanya berkesinambungan. perlu adanya kontinuitas dalam memberikan alternatif informasi dan kebebasan berekspresi dari-oleh-untuk-publik
  5. Tantangan apa yang dapat dihadapi oleh aktivis informasi di internet ketika perjuangkan hak publik atas keberagaman informasi?
    • Secara internal : motivasi akan profit akan sedikit menurunkan kualitas konten dan konsistensi.
    • Secara Eksternal: penguasa bisa melakukan pengekangan. Pun masyarakat yang masih belum melek IT
  6. Apa rekomendasi bagi pemerintah swasta dan civil society untuk hal ini?
    • Untuk kalangan produsen konten perlu adanya edukasi, bukan hanya teknik saja, tetapi juga bagaimana cara menulis yang baik.
    • Konsumen konten perlu mengetahui akan haknya untuk mendapatkan informasi yang beragam.
    • Di bidang hukum, harus ada penegakan hukun dan perombakan regulasi yang ada menjadi regulasi yang masuk akal dan lebih baik.
Daeng Ipul sedang mempresentasikan hasil diskusi kelompok 1

Setelah kami simpulkan, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusikan untuk bersama-sama diplenokan. Diskusi menjadi sangat menarik ketika masing-masing kelompok bertanya kepada kelompok yang sedang presentasi. Semakin hangat ketika menjelang tengah malam. Belum ada putusan tentang hasil dari empat kelompok yang sudah diskusi. Akan diinformasikan tentang hasil FGD2012 ini dikemudian hari.

ALAM

7 thoughts on ““Diversity Information”

Berikan Komentar