Honeymoon ke Solo Tanpa Itinerary

Ketika diminta memilih Lombok atau Solo, istri memilih Solo. Peninggalan Jawa kuno adalah alasan utama. Selain itu, biayanya lebih hemat daripada Lombok.

Aku menyiapkan tiket pulang-pergi dua minggu sebelum akad nikah. Aku ingin memberinya kejutan ketika resmi menjadi suaminya. Beberapa jam usai prosesi akad nikah digelar, aku menyodorkan amplop yang berisi tiket. Sonar kegembiraan tak dapat terbentuk dari wajahnya. Tak terlupakan.

Enam hari pascamenikah, kami berangkat ke Solo. Kereta Sancaka dari Stasiun Gubeng meluncur ke Stasiun Solo Balapan. Menyusuri Jawa bagian selatan, mengantarkan penumpangnya ke tujuan masing-masing.

Tiba di Solo, taksi membawa kami menuju Hotel Aziza. Dan kisah honeymoon di Solo pun dimulai.

Aku juga menyiapkan kejutan kecil ketika di hotel. Tanpa sepengetahuan istri, aku meminta pihak hotel untuk menghias kamar kami seperti kamar pengantin baru. Waktu Jumatan bersamaan dengan setibanya kami di hotel. Aku harus segera mencari Masjid untuk Jumatan, sehingga istri masuk kamar terlebih dahulu. Entah bagaimana ekspresinya ketika melihat kamar yang sudah dihias dengan bunga mawar.

Habis Sholat Jumat, aku masuk kamar. Aku lihat wajah istri merah merona, terlihat senang sekali. Sekali lagi, aku senang melihatnya senyuman di wajahnya. Tak terlupakan. 🙂

Sebelum memulai petualangan di Solo, kami memilih istirahat sejenak di hotel. Karena memang kami ke kota ini tanpa itinerary.

Itinerary sudah dibuat setelah sholat Maghrib. Baru setelah sholat isya’, kami keluar kamar hotel. Begitu keluar kamar kami langsung disambut oleh lantunan ayat-ayat suci Alquran dari speaker di lorong. Pelan dan samar-samar, seperti tetesan embun pagi yang membasahi hati kami yang sedang bahagia. Begitu menyejukkan.

Aku sepertinya tidak salah memilih hotel untuk momen penting seperti ini. Memilih hotel memang harus pintar. Selain harga yang bersaing, juga arsitektur, konsep hotel pun harus ikut dipertimbangkan. Beberapa kali kami berkunjung ke website Airy Rooms untuk mencari hotel yang cocok dan menarik. Pilihan kami jatuh pada hotel Aziza karena konsepnya yang islami.

Hal ini terlihat di seluruh area hotel, kesan islaminya begitu terasa. Salah satunya, di kamar sudah tersedia sajadah, Alquran dan tempat wudhu. Bahkan lantai satu disediakan luxury mushola. Sesuatu yang jarang terlihat di hotel bintang 4 sekalipun.

Keluar hotel, kami memilih becak sebagai kendaraan menuju Galabo. Selain lebih murah dan tempat kami yang tuju sangat dekat, becak sepertinya romantis kalau naik becak berdua. Galabo menurut buku panduan paling dekat lokasinya dengan hotel. Kami makan sate buntel dan tongseng di sana.

2017 04 22. . Masih di Solo. Karena kemarin aktivitasnya hanya di hotel (karena hotelnya asyik dan nyaman bingits) – cuma keluar makan malam di Galabo, jadi hari ini diputuskan untuk jalan-jalan seharian. . Mau kemana seharian ini? As usual, kami jalan tanpa itinerary (tapi teteup ngaktivin google map di henpon dan tab). Karena tema jalan-jalan ke Solo adalah untuk mempelajari sejarah, jadi destinasi nya ya ke wisata sejarah. . Setelah sarapan di hotel, kami keluar 'jalan kaki' menyusuri rel kereta dalam kota (Jaladara), jalan Galabo, Pasar Klewer Sementara, Masjid Ageng Surakarta, Kraton Surakarta, lalu lanjut ke Pasar Klewer yg baru diresmikan kemarin oleh Pak Jokowi. . Capek? Pastinya 😂, tapi ga kerasa karena jalannya sambil gandengan tangan #asyekk. . Kami lanjut ke Pura Mangkunegaran via taksi,, lho,, soalnya jauuuh dan matahari Solo cukup buat kulit jadi gosong, ditambah lagi do'i udah mandi keringat 😂. . Puas berkeliling di Mangkunegaran, kami cus (via taksi lagi) nyari Starbucks 😂. Do'i lagi ngidam #ellho. Awalnya do'i memilih Solo Grand Mall, sudah sampai ditempat, baru tau klo disini ga ada starbak 😂, alhasil pak supir taksi banting setir cus ke Solo Paragon Mall. Kami ngendon disini selama beberapa jam. Fiuh. . Lanjut berkeliling dalam kota dengan Bus Tingkat Werkudara. Kami cus ke Dinas Perhubungan (tempat bus diparkir #ciyah) via taksi. Setelah puas, kami menuju hotel. . Perjalanan hari ini berakhir? Belum dong.. Malam ini malam minggu, malam yg panjaaaaang. Masih ada cerita lanjutannya. Tunggu ya di limaura.com 😁.

A post shared by Lisa Maulida R. (@limaura_) on

Hari kedua, kami berkunjung ke Masjid Ageng, Alun-alun, dan keraton. Kemudian dilanjutkan dengan berfoto di depan Pura Mangkunegaran. Lalu icip Soto Rempah di depan hotel Kusuma Sahid. Sebelum naik bis tingkat Werkudara, kami ngadem sebentar di Solo Royal. Malamnya, kami berkunjung ke night market yang ada di samping Pure Mangkunegaran, dan diakhiri dengan memesan Markobar di outlet pertamanya.

Hari terakhir, fokus kami adalah membeli oleh-oleh buat keluarga. Mau mencari batik di Pasar Klewer, masih pindahan. Kami coba pergi ke Pasar Gede. Sayang, kami salah. Pasar Gede tempatnya makanan buat pakaian. Terpaksa kami kembali ke Pusat Grosir Solo (PGS) dan ternyata letaknya tak sampai satu kilometer dari Hotel. Usai dari PGS, kami packing dan mencoba masuk ke keraton. Sayang masih tutup, terakhir kami sholat Dhuzur di Masjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat. Sebelum kembali ke stasiun, kami sempat makan siang di Restoran Omah Sinten. Hingga kereta Argo Wilis mengantarkan kami kembali ke kota pahlawan.

Ada beberapa hal yang unik. Diantaranya, bis tingkat Werkudara itu adalah bis tingkat pertama di Indonesia. Sebenarnya ada juga kereta api Jaladara yang berjalan di tengah kota. Sesuatu yang tak lazim di Indonesia. Kami tak bisa naik Jaladara karena ternyata hanya dikhususkan untuk penyewa. Sekali jalan harus membayar 3.5 juta. Kata petugas, memang mahal karena banyak yang perlu dipersiapkan. Salah satunya adalah mensterilkan pedagang yang sering buka lapak di atas rel Jaladara.

Hal kedua yang unik adalah transportasi di Solo. Tak ada Uber di sana, yang ada Grab. Namun konsepnya sama dengan taksi konvensional. Taksi lokal Solo pun sebenarnya juga punya aplikasi, tetapi kurang mobile-friendly. Becak dan Taksi terpaksa menjadi pilihan kami. Becak sekali jalan terserah kita mau memberikan berapa. Biasanya kami memberi antara 15-25 sekali jalan. Tentu jarak paling jauh sekitar 2 km. Jika lebih dari 2 km, maka Taksi menjadi pilihan. Tarif minimunya 25 ribu.

Beberapa titik di Solo kurang nyaman untuk dibuat berjalan kaki. Terutama dari wilayah hotel Aziza ke tempat-tempat yang lain. Trotoar yang disediakan tidak terlalu lebar, bahkan tidak ada. Namun di jalan-jalan protokol seperti di Jl. Slamet Riyadi dan di sekitara Balai Kota, sudah nyaman untuk dibuat jalan kaki.

Beberapa saudara menyarankan untuk berwisata kuliner saja di Solo. Katanya makanannya enak-anak. Namun, bagiku yang berasal dari Madura, terlalu manis.

Selain itu, magnet terbesar kota Solo adalah keratonnya. Sayang kami datang tidak dalam waktu yang tepat. Hari Sabtu, keraton tutup karena ada njumenengan. Minggu pun kami ke sana masih tutup. Ada konflik intern yang membuat keraton masih terkunci untuk publik. Aku sudah sering ke Solo, tapi belum pernah masuk keraton. Masjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat menjadi pelipur lara. Masjid ini instagramable sekali. Dari berbagai sisi, kesan arsitektur jawanya jelas terpahat indah. Bicara peradaban Jawa, maka Solo adalah salah satu pusatnya.

***

*Catatan: kisah lebih detail dan lengkap sedang disiapkan istri di blognya di limaura.com

ALAM

One thought on “Honeymoon ke Solo Tanpa Itinerary

  1. Semoga tulisan begini ngga hanya sekali dua kali ditulis disini ya kak.
    Semoga kedepannya tulisan semi romantis begini bisa setingkat lebih maju jadi tulisan romantis gituh.

Berikan Komentar