#LombokTrip 2: Ornamen Rumah dan Pantai Sengigi

IMG_7844
Ekspresi kegirangan saat berada di pantai. Melepas pengat dan menyatu dengan pantai.

 

Perjalanan dari Bandara ke Hotel membuka mataku. Inilah manusia saudara sebangsa. Manusia-manusia yang lahir dan besar di kota ini, kota Mataram.

Di atas bis damri bandara aku bergumam dalam hati. Ternyata Lombok itu adalah daratan yang biasa. Tanpa keistimewaan khusus. Setidaknya itu yang aku lihat sepanjang perjalanan dari Bandara ke Hotel Jayakarta di Senggigi.

Ornamen rumah-rumah yang ada di Lombok barat ini tidak ada bedanya dengan rumah-rumah yang berada di Jawa ataupun Madura. Apa yang aku lihat di buku Atlas saat SD tidak terlihat. Semuanya sama ngga ada bedanya.

Jelas hal ini kurang menarik. Salah satu yang membuat wisatawan kembali mengunjungi sebuah tempat wisata yaitu keunikan. Bahkan aku ngelandur ingin membuat sebuah RUU tentang sebuah kewajiban masing-masing daerah memakai ornamen khas wilayahnya. Sehingga setiap daerah di Indonesia mempunyai ciri khas yang berbeda.

Lombok. Topografi pulau ini didominasi oleh gunung berapi Rinjani yang ketinggiannya mencapai 3.726 meter di atas permukaan laut dan menjadikannya yang ketiga tertinggi di Indonesia. Gunung ini terakhir meletus pada bulan Juni-Juli 1994. Pada tahun 1997 kawasan gunung dan danau Segara Anak ditengahnya dinyatakan dilindungi oleh pemerintah. Daerah selatan pulau ini sebagian besar terdiri atas tanah subur yang dimanfaatkan untuk pertanian, komoditas yang biasanya ditanam di daerah ini antara lain jagung, padi, kopi, tembakau dan kapas.

Lombok dalam banyak hal mirip dengan Bali, dan pada dasawarsa tahun 1990-an mulai dikenal wisatawan mancanegara. Namun dengan munculnya krisis moneter yang melanda Indonesia pada akhir tahun 1997 dan krisis-krisis lain yang menyertainya, potensi pariwisata agak terlantarkan. Lalu pada awal tahun 2000 terjadi kerusuhan antar-etnis dan antar agama di seluruh Lombok sehingga terjadi pengungsian besar-besaran kaum minoritas. Mereka terutama mengungsi ke pulau Bali. Namun selang beberapa lama kemudian situasi sudah menjadi kondusif dan mereka sudah kembali.

IMG_7840
Yeaaay! Pantai Senggigi

Pantai Sengigi terletak di sebelah barat pesisir Pulau Lombok. Pantai Senggigi memang tidak sebesar Pantai Kuta di Bali, tetapi seketika kita berada di sini akan merasa seperti berada di Pantai Kuta, Bali. Memasuki area pantai Senggigi, wisatawan seta merta disapa oleh lembutnya angin semilir yang menenangkan. Pesisir pantainya masih asri, walaupun masih ada sampah dedaunan yang masih berserakan karena jarang dibersihkan. Pemandangan bawah lautnya sangat indah, dan wisatawan bisa melakukan snorkling sepuasnya karena ombaknya tidak terlalu besar. Terumbu karangnya menjulang ketengah menyebabkan ombak besarnya pecah di tengah. Tersedia juga hotel-hotel dengan harga yang bervariasi, dari yang mahal sampai hotel yang berharga ekonomis.

Lamunanku terhenti saat Sopir bis menghentikan laju bisnya dan memberitahukan bahwa kami sudah sampai di depan hotel Jayakarta.

Ngga lama dihotel, aku bertemu rombongan lain yg sudah tiba lebih dulu. Singkat, aku ikut mereka yang sudah mau berangkat sholat Jum’at.

IMG_7837
Ini dia, wajah hotel Jayakarta

Memang ada perbedaan antara waktu Madura dan Lombok. Selisih satu jam lebih cepat. Namun, saat di Masjid, Adzan Dhuzur berkumandang saat jam 12.30 WITA, artinya sama dengan jam 11.30 WIB. Sederhananya, ngga ada perbedaan waktu antara WIB dan WITA.

Makan siang adalah jadwal selanjutnya. Setelah itu, kami baru diperbolehkan check in ke kamar. 212 menjadi nomor kamar yang aku dan temanku tinggali. Angka itu mengingatku pada film laga terkenal kala aku kecil, Wiro Sableng.

Aku kagum dan terdiam. Aku senang dan akhirnya tersenyum lebar saat membuka pintu belakang kamar. Di dalam kamar 212 ini bisa terlihat langsung pemandangan Selat Lombok. Baru sadar ternyata di belakang hotel ini adalah pantai Senggigi yang berbatasan langsung dengan Bali. Birunya air Selat Lombok terhampar begitu saja. Temanku langsung mengeluarkan statement aneh: “ini adalah tempat yang cocok untuk honeymoon”. Aku tersenyum mendengarnya.

Kami diminta datang ke rung Gili meeting room untuk menghadiri agenda utama yaitu meeting!

IMG_7835
Ini pemandangan di depan kamar, langsung berhadapan dengan pantai.

Menunggu selama sejam dan dapat kabar bahwa masih ada peserta meeting dari Depok yang belum datang, maka meeting diundur malam. Horeeeee! Berita ini seperti sebuah pluit tanda mulainya pertandingan. Sore hari, adalah waktu jalan-jalan ke pantai. Kami kembali ke kamar, dan sholat ashar. Ini adalah sholat ashar terkeren yang pernah dijalani. Sholatnya di loby kamar dan lansung berhadapan dengan pantai. Suara debur ombak menambah kekhusyu’an sholat kami. Baru kali sholat di outdoor dan di depan langsung terhampar pemandangan luar biasa, karena itu kita harus bersyukur sudah diberi kekayaan alam ciptaan-Nya.

IMG_7862
Indahnya sunset di pantai Sengigi belakang hotel.

Sebuah penyatuan konsep yang kreatif. Antara hotel, resort dan spa dijadikan satu dalam sebuah kawasan Jayakarta hotel. Di belakang hotel ini langsung berhadapan dengan pulau Bali terpisah dengan Selat Lombok. Air selatnya terlihat begitu biru, pasirnya bukan pasir putih, tapi abu-abu kehitam-hitaman. Banyak warga sekitar ataupun pengunjung yang menikmati sunset di kawasan ini. Sesekali terlihat warga yang bermain pacu kuda di bibir pantai. Jatuhnya kuda karena dorongan ombak besar pantai Senggigi ini adalah hiburan tersendiri bagi pengunjung. Penjaja mutiara juga dengan rajin menawari pelanggan hotel yang sedang duduk menikmati matahari yang seolah tenggelam ditelan pulau Bali.

ALAM

One thought on “#LombokTrip 2: Ornamen Rumah dan Pantai Sengigi

  1. Kalau di kota Mataramnya ya ga terlalu terasa lagi kali ya. Mungkin harus eksplorasi ke daerah yg lebih pedalaman biar dapat yg beda dari Lombok.

Berikan Komentar