LombokTrip 3: Menerjang Ombak Demi Gili Trawangan

Mungkin disepakati begitu saja, Pak!

Kalimat itu adalah kalimat penutup dalam meeting kali ini di hotel Jayakarta.

Hari Sabtu. Hari masih siang, sedangkan rapat sudah kelar dan disepakati. Semuanya baru pulang esok pagi hari. Artinya masih ada waktu siang hingga sore untuk mengunjungi satu tempat wisata.

Ternyata oh ternyata, salah satu teman sudah menyiapkan semua, Men. Bahkan sudah tahu informasi komplit dari hotel ke tempat satu ini. Ah, harus ikut. Kapan lagi bisa ke gili Trawangan. Ya, pulau kecil nan indah yang berada diantara pulau Bali dan pulau Lombok.

IMG_7916

Yeeaaaah!
Gili Trawangan, aku datang melihatmu!

Setelah berganti baju santai, kami sempatkan lunch. Aku cuma makan buah dan sedikit sayur. Nafsuku hilang, ingin segera melihat pulau yang begitu tersohor itu. Konon, di pulau itu tidak diperbolehkan ada mobil lewat. Bisa kebayangkan, seperti apa sejuknya pulau itu tanpa asap mobil.

Gili Trawangan adalah yang terbesar dari ketiga pulau kecil atau gili yang terdapat di sebelah barat laut Lombok. Trawangan juga satu-satunya gili yang ketinggiannya di atas permukaan laut cukup signifikan. Dengan panjang 3 km dan lebar 2 km, Trawangan berpopulasi sekitar 800 jiwa. Di antara ketiga gili tersebut, Trawangan memiliki fasilitas untuk wisatawan yang paling beragam; kedai “TÓr na NŰg” mengklaim bahwa Trawangan adalah pulau terkecil di dunia yang ada bar Irlandia-nya. Bagian paling padat penduduk adalah sebelah timur pulau ini.

Trawangan punya nuansa “pesta” lebih daripada Gili Meno dan Gili Air, karena banyaknya pesta sepanjang malam yang setiap malamnya dirotasi acaranya oleh beberapa tempat keramaian. Aktivitas yang populer dilakukan para wisatawan di Trawangan adalah scuba diving (dengan sertifikasi PADI), snorkeling (di pantai sebelah timur laut), bermain kayak, dan berselancar. Ada juga beberapa tempat bagi para wisatawan belajar berkuda mengelilingi pulau.

Di Gili Trawangan (begitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor, karena tidak diizinkan oleh aturan lokal. Sarana transportasi yang lazim adalah sepeda (disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan) dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Untuk bepergian ke dan dari ketiga gili itu, penduduk biasanya menggunakan kapal bermotor dan speedboat.

Dari daerah Senggigi, kami tidak diijinkan naik perahu ke gili. Menurut toure guidenya, angin lagi kencang. Disarankan kami untuk naik speedboat dari Teluk Nare saja. Di sana jarak ke Gili lebih dekat daripada dari Senggigi.

Dari Senggigi kami meluncur ke Teluk Nare menggunakan bemo. Satu jam adalah waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai di tempat. Tapi tenang, ngga usah kuatir, pemandangan sepanjang perjalanan gila, men! Keren sekali. Sensasi meliuk-liuk menaiki jalanan menanjak dan menuruni jalanan menurun dengan hamparan birunya selat Lombok menjadi manisnya perjalanan. Satu jam tak terasa, akhirnya…

Gili Trawangan sudah di depan mata. Benar saja, angin bertiup begitu kencang. Wajar jika kami tidak diperbolehkan menyebrang dari Senggigi.

Airnya begitu jernih. Sampah tidak terlihat. Benar-benar pemandangan yang mahal.

Dua speedboat sudah siap mengangkut 8 orang rombongan kami. Satu speedboat beratap, satunya lagi, tanpa atap. Cuaca begitu terik. Terlihat jam 15.00 WITA saat aku meloncat ke speedboat. Aku memilih speedboat yang ngga ada atapnya. Biarkan aku merasakan udara dan air laut Selat Lombok. Udara setiap daerah itu khas, jika bisa dibungkus, aku akan bawa pulang untuk bisa merasakan lagi udara itu dirumah.

Aku masih belum mengerti saat nahkoda boat kami menyuruh memakai jas hujan dan pelampung. Kok pakai jas hujan, kan cuaca lagi panas.

Baru paham, saat nahkoda boat mengatakan bahwa ombak lagi besar dan nanti kemungkinan kita akan basah-basahan. Oke, pakai jas hujan, dilengkapi dengan pelampung ya. Kan, aku ngga bisa berenang. Kalau speedboat kebalik, aku masih bisa mengambang dengan pelampung itu.

Greeeennggg!!! Motor speedboat sudah berdering. Aku pasang ancang-ancang bersama ke-3 orang teman dan berteriak, Let’s Gooooo!!

Ombak demi ombak kecil dilewati begitu saja oleh speedboat putih ini. Semakin ke tengah, ombak menghantam lebih besar. Seolah seperti bermain game. Semakin lama level semakin naik, dan ombaknya pun semakin ke tengah semakin besar. Air laut mulai muncrat-muncrat membasahi muka saat ombak besar kita hantam. Basah kuyup.

Kami terpontang panting, aku berpegangan erat. Mencoba berteriak riang untuk menghilangkan rasa takut. Terombang-ambing ke kanan, ke kiri, ke atas ke bawah. Teriakan demi teriakan menghiasai di setiap hantaman dengan ombak, sampai tiba-tiba air laut di depan meninggi, menggunung secara tiba-tiba, ombak besar di depan, perahu miring 60 derajat, aku berdiri mencoba menyeimbangkan, semua panik, aku mencoba tenang, aku mencoba pasrah jika memang terbalik aku harus melupakan iPod, kamera, dan semua peralatan elektronik yang ada di tas, dan bersiap terjun ke laut dengan pakai pelampung, tapi untunglah, nahkoda tidak menghantamnya, hanya membanting dan melewati ombak itu dari samping, seperti yang biasa dilakukan para selancar.

Haaah! lega. Rasanya, itu adalah tantangan terbesar, meski ombak tidak berhenti menggoda perahu kami, tapi gundukannya tidak sebesar saat berhasil memiringkan perahunya.

Gila, untuk menuju gili Trawangan harus melalui rintangan super berat. Jika tidak kuat, bisa kencing di tempat nih!

IMG_7938

Semakin dekat ke Gili, intensitas ombak mulai berkurang, meski masih cukup menggoyangkan speedboat ke atas, tapi kami seperti sudah biasa. Dan akhirnya, kami menginjakkan kaki di pantai Gili Trawangan. Keren cuuuyy! air lautnya jernih, biru dan pemandangan pegunungan Lombok menjadi latar di depan pantai. Indah sekali dan semakin berasa bukan di Indonesia ketika nyaris 90% orang yang kulihat adalah bule. Mereka sepertinya keasyikan berjemur di pantai. Menikmati matahari yang mungkin mereka susah dapatkan di negaranya. Harus kuat-kuat iman nih, banyak sekali yang nyaris bertelanjang dan bergeletak begitu saja di bibir pantai, ada yang baca buku, ada yang tidur lelap, juga banyak yang minum-minuman, berenang, hingga tidak sedikit juga yang ber-snorkeling ria.

Kami tidak mau ketinggalan. Dengan menyewa snorkeling, aku dan teman-teman mencoba menikmati pemandangan bawah laut di sekitaran pantai. Ini pengalaman pertamaku memakai alat beginian. Tidak mudah ternyata. Karena tidak bisa berenang, aku beberapa kali panik karena sedikit saja ke tengah, dalam lautnya lebih dari dua meter. Akhirnya aku cuma bisa bersnorkeling di bibir pantai saja. Lumayan belajar memakai alat-alatnya mulai dari sirip selam, masker snorkel hingga snorkel-nya. Aku hanya bisa melihat karang-karang yang sudah membantu. Tapi aku kagum kejernihan air lautnya.

Kami tidak boleh berlama-lama, karena semakin sore, ombak semakin besar. Kami memutuskan kembali ke hotel. Cukup puas berenang di pantai dan menikmati pemandangan luar biasa. Ngga perlu ke luar negeri cuuuy, Indonesia sudah cukup indah braaay!

Untunglah, perjalanan pulang tidak se-seram saat berangkat. Namun, kami sempat melihat ombak yang kembali menggunung. Tapi untung tidak berhasil menghantam kami. Pemandangan sunset di tengah laut di atas speedboat menjadi pengalaman tersendiri.

Terimakasih Gili Trawangan, Terimakasih Lombok!

ALAM

2 thoughts on “LombokTrip 3: Menerjang Ombak Demi Gili Trawangan

Berikan Komentar