Menebar Semangat Membangun Negeri Berbasis TIK

Image result
Kemegahan Candi Borobudur – Sumber Foto: www.huffingtonpost.de

Bangsa ini kaya akan cerita heroik tentang pembangunan. Lebih dari seribu tahun lalu, di masa puncak kejayaan wangsa Syailendra di Jawa Tengah, sebuah mahakarya dibangun dalam kurun waktu 75 – 100 tahun. Kini kita dapat menikmati kemegahannya setiap hari. Mahakarya itu bernama Borobudur.

Di abad ke-14, Raden Patah bersama Wali Songo berdiskusi untuk membangun simbol umat Islam di tanah Jawa. Berdirilah sebuah Masjid dengan wibawa yang luar biasa. Ada cucuran keringat pendiri di setiap senti ornamennya. Itulah Masjid tertua di tanah Jawa: Masjid Agung Demak.

Image result
Masjid Agung Demak – Sumber Foto: www.pusakaindonesia.org

Tentu akan jadi berjilid-jilid buku untuk mengabadikan kisah dan cerita pembangunan bangsa ini. Tak terhitung berapa jumlah pahlawan pembangunan yang berkorban. Dari ujung barat Sabang hingga ujung timur Merauke, dari pucuk utara Pulau Miangas hingga ujung pucuk selatan Pulau Rote.

Aku teringat kisah Mohammad Noer, putra asli Madura yang merupakan satu dari sekian mutiara negeri ini. Gagasannya membangun jembatan penghubung antara Surabaya dan Madura akhirnya terwujud. Aku belajar darinya tentang bagaimana kita harus memerhatikan sekitar kita.

Agawe Wong Cilik Melu Gumuyu”

Ungkapan di atas sangat terkenal. Sebelum ide pembangunan Suramadu diresmikan, ia sudah berpesan agar jembatan tersebut dapat dilintasi sepeda motor. Harapannya Suramadu dapat dirasakan semua kalangan masyarakat Madura. Dan hari ini kita dapat merasakan kemudahan itu.

Jembatan Suramadu - Foto: Didik Suharsono - ANTARA
Jembatan Suramadu – Foto: Didik Suharsono – ANTARA

Jika kita tarik benang merahnya, setidaknya ada dua unsur di dalam pembangunan suatu negara. Unsur kebermanfaatan dan kemudahan. Bagaimana negara memberikan manfaat dan kemudahan bagi rakyatnya. Kemudahan-kemudahan itu dapat berbagai macam bentuknya. Salah satunya adalah teknologi. Karena hakikat teknologi seutuhnya adalah sistem yang memudahkan pekerjaan manusia.

Jelas, teknologi hari ini berbeda dengan teknologi yang dipakai di masa Syailendra, Wali Songo, dan Mohammad Noer. Namun tujuan mereka tetap sama: memberikan manfaat dan kemudahan bagi masyarakat luas.

Hari ini kita hidup di masa teknologi digital yang perkembangannya unpredictable. Setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik, kita sering terpapar rancangan teknologi-teknologi baru yang akan menghiasi masa depan. Dan internet menjadi salah satu satu teknologi digital paling berpengaruh di abad ke-21.

Aku kemudian berpikir apa yang bisa aku lakukan agar bisa memanfaatkan teknologi internet. Mengingat kecanggihan teknologi internet sudah memasuki generasi keempat. Kemudian aku terlintas suatu ide. Aku ingin memberikan manfaat dan kemudahan bagi orang di sekitar menggunakan teknologi internet. Jika belum bisa dalam lingkup nasional, setidaknya lingkup yang lebih kecil terlebih dahulu, seperti Madura atau Jawa Timur misalnya.

Ide itu aku beri nama ALAMenilai.

Ini berawal dari kekhawatiranku. Aku punya banyak teman blogger di Madura. Namun perlahan tapi pasti semangat menulis mereka menurun. Bukan karena mereka tak mampu melakukannya, tetapi analisaku mereka tidak punya media untuk belajar bersama. Mereka perlu suatu ekosistem yang membuat mereka nyaman belajar menulis, sampai hal paling teknis sekalipun.

Kemudian dengan memanfaatkan grup komunitas Blogger Plat-M Madura di WhatsApp, aku mencoba menjadi penilai tulisan yang baru saja di-posting. Aku menilai setiap kesalahan penulisan, aku komentari setiap kalimat, aku beri saran di setiap paragraf, pemilihan topik dan tema tulisan, hingga gambar yang disertakan. Aku tak menyangka penilaianku tersebut membuat semua anggota grup ingin mendapatkan hal yang sama. Satu per satu mereka menulis artikel baru di blognya, kemudian menyetorkan URL-nya di grup WhatsApp untuk aku nilai. Melihat antusiasme yang luar biasa, aku buat agenda rutin saja, dan program tersebut diberi nama ALAMenilai.

Program dibuat rutin setiap Jum’at malam. Meski terkadang butuh perjuangan ekstra untuk tetap istiqomah di Jum’at malam, kadang bentrok dengan jadwal di kampus, ataupun aku harus ‘membeli’ semangat mereka dengan memberinya hadiah, tetapi diluar dugaanku, acara ini terus berlanjut tanpa henti hingga minggu ke-30.

Untuk mengusir kebosanan, beberapa inovasi aku lakukan di setiap Jum’at malam. Mulai dari penilaian blog secara personal bergiliran, tips menulis, talkshow, live-blogging hingga kompetisi mereview #ALAMenilai.

alamenilai-24
ALAMenilai Edisi Ke-24

Kini mulai bermunculan blog-blog baru dengan kualitas tulisan yang semakin baik setiap harinya. Aku berhasil membuktikan bahwa sebenarnya Madura masih punya blogger yang semangat belajar. Belajar menulis, belajar meliput dan terus berusaha menduniakan Madura.

Ada kepuasan yang tak bisa dibayar dengan apapun saat melihat satu demi satu tulisan teman-teman Plat-M membaik. Blogger baru semakin rajin menulis dan menemukan ide demi ide untuk ditulis. Blogger lama bangkit dari pensiunnya, mereka kembali buka dasbor blog dan mulai menulis lagi. Sedangkan blogger senior semakin matang merangkai kata demi kata untuk menggiring opini pembaca di blognya.

Singkat cerita, program ALAMenilai berhasil mengangkat semangat teman-teman Plat-M untuk kembali aktif menulis blog. Tentu hal ini bukan karena ALAMenilai, namun karena semangat mereka yang luar biasa untuk belajar. Mereka butuh media belajar saja.

Selain itu ada banyak kisah menarik di balik layar ALAMenilai. Teman di pedalaman Sampang harus pergi ke dataran tinggi hanya untuk memantau dan menjawab tantangan dari ALAMenilai. Teman di Pamekasan setiap Jum’at malam harus bermalam di kampus demi mendapatkan sinyal Wi-Fi dan belajar bersama di ALAMenilai. Bahkan teman di Sumenep harus menjual ponsel lamanya dan membeli ponsel baru demi menyaksikan ALAMenilai. Suatu pengorbanan yang besar untuk program sederhana di grup WhatsApp. Aku tak pernah mengira bahwa mereka melakukan pengorbanan yang tak murah demi terus belajar menulis blog. Aku akan terus berusaha mencari ide-ide lain yang dapat memberikan perubahan dan dampak positif, setidaknya bagi orang di sekitar. Semoga nanti suatu saat mampu memberikan ide yang berdampak lebih luas lagi.

ALAMenilai hanyalah secuil ide dalam membantu pembangunan Indonesia melalui teknologi internet. Ada banyak ide-ide luar biasa di luar sana. Di Sumatera, pemerintah Banda Aceh telah menggunakan aplikasi terpadu yang dapat mengontrol jalannya pemerintahan meski melalui aplikasi mobile. Desa-desa di Banyumas banyak yang sudah terintegrasi satu sama lain. Tak mau kalah dengan Jakarta, Bandung dan Surabaya, kota-kota di Kalimantan berlomba-lomba menjadi kota paling cerdas dengan konsep smart city yang sedang populer belakangan. Di Kabupaten Bantaeng di Sulawesi, mereka menggunakan call center 113 untuk mendatangkan ambulans dalam waktu dua menit. Di ujung timur Indonesia, tahun ini menjadi tuan rumah Festival Desa TIK di Kabupaten Jayapura, Papua.

menebar-semangat-membangun-negeri-berbasis-tik

Dampak teknologi terus meluas. Tak sekadar berkembang, teknologi terus menjadi alat pembangunan republik. Tentu sangat diperlukan sinergi antara pemerintah dan berbagai stakeholder untuk memberikan kemudahan dalam hal teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di seluruh wilayah di Indonesia. Tak harus melulu di kota, daerah di negeri ini terus berkembang. Sehingga semua dapat merasakan. Semua dapat memanfaatkan. Semua dapat membangun. Membangun masa depan Indonesia berbasiskan TIK.

ALAM

2 thoughts on “Menebar Semangat Membangun Negeri Berbasis TIK

Berikan Komentar