Petualang Tak Terduga

foto bareng teman-teman COBS di pantai Lombang

Selesai acara Kopd(Nonb)ar Plat-M, aku bergabung dengan teman-teman COBS (Community Of Blogger Student) yaitu komunitas pelajar Bojonegoro di Universitas Trunojoyo ngopi di pelabuhan timur – Kamal. Meski hampir tengah malam, tapi aku sangat antusias untuk sekedar melepas lelah menyiapkan acara Plat-M. Segelas jahe panas menemani keakraban bersama malam itu, sampai ketika mereka membicarakan tentang rencana COBS yang mau kelilin Madura besok.

Hah..! Keliling Madura? Tanyaku dalam hati. Ingin sekali aku ikut mereka besok. Tapi kondisi badanku seperti terlalu lelah untuk berpetualang besok pagi. Apalagi hampir tengah malam begini bukannya istirahat buat kegiatan besok, malah keluyuran sampai dini hari begini.

Tapi “nasib” berkata lain, teman-teman COBS berhasil mengompori dan “memaksa”ku agar mengeluarkan uang untuk ikut mereka. Identitas seorang Klebun Plat-M membuatku dengan terpaksa sebenarnya mengeluarkan uang jajan sebulan untuk ongkos keliling Madura besok. Aku resmi ikut keliling Madura besok. Terlalu mendadak! Aku tanpa persiapan untuk besok. Akhirnya aku pulang dan mempersiapkan buat besok sekaligus istirahat, apalagi keesokan harinya harus berangkat pagi-pagi sekali.

Asap sudah mengepul dari cerobong knalpot bis mini Marem, matahari belum bersinar sempurna aku dan teman-teman COBS sudah berada di dalam bis untuk memulai petualangan hari ini. Hutan Nepa, Pantai Selopeng, Keraton Sumenep dan Pantai Lombang adalah tujuan kita. Tiga dari tempat tujuan kita belum pernah aku “menyambanginya”.

Bis harus berhenti di Telang dan di Bangkalan untuk menjemput teman-teman yang lain. Tiba-tiba sopir mengatakan kita tidak bisa berkunjung ke hutan Nepa, pantai Selopeng karena rutenya tidak memungkinkan pulang pada hari yang sama. Yah, padahal aku ingin sekali tau tempat itu!. Rutenya diganti ke tiga timpat saja yaitu Asta Tinggi, Keraton Sumenep dan Pantai Lombang. Kalau cuma Asta Tinggi dan Keraton Sumenep mah aku pernah kesana. Tapi gak apalah, toh terakhir aku ke Keraton kalau gak salah waktu SMP!

Headset terpasang nyaman di telingaku. Album Goodbye Lullaby dari Avril Lavigne bergantian menghiasi cerahnya perjalanan kita. Sepanjang perjalanan, pantai selatan Madura menemani kita. Cerahnya matahari membuat tiga gunung di Jawa terlihat samar-samar seolah malu.

Tulisan Selamat Datang di Kabupaten Sumenep terlihat. Setelah empat jam perjalanan dari Bangkalan menyusuri Sampang, Pamekasan sebelum Kabupaten Ujung Timur Madura yaitu Sumenep. Asta Tinggi menunggu kita, aku sudah tiga kali ke tempat ini, tapi tetap saja aku terpesona gagahnya bangunan yang berada di atas bukit ini. Setelah berziarah dan berfoto di makam raja-raja Sumenep ini saatnya meluncur ke Keraton Sumenep. Aku pernah ke tempat ini bersama rombongan keluargaku dulu ketika masih SMP. Sudah sedikit lupa tapi masih ingat dengan kolam yang menurut kepercayaan orang setempat dapat membuat awet muda.

Keraton ini juga dikelilingi oleh Musium yang banyak meninggalkan barang-barang masa kerajaan tempo dulu. Aku merasa kembali ke masa itu ketika melihat barang seperti kereta kencana, tempat duduk, ranjang, piring, senjata, guci, cermin, baju, hingga sandal yang digunakan raja-raja beserta keluarga masih tersimpan rapi di Musium ini. Ruangan demi ruangan aku masuki, setiap memasuki ruangan aku merasa kembali ke masa-masa kerajaan Sumenep, angin semilir dan bau ruangan merasuk ke dalam jiwa mengantarkan kenangan masa lampau di otak yang seolah penuh dengan algoritma dan metode komputer ini.

Megahnya Arsitektur Keraton Sumenep

Aku tidak lupa mengabadikan setiap momen dan setiap barang-barang yang ada di dalam musium. Keraton, Kolam dan bangunan lainnya masih terawat dan asri. Sebatang pohon tua juga terlihat kokoh setia berada di samping Keraton. Taman-taman berumput hijau menambah nyaman pemandangan sekitar keraton yang tepat berada di depan Masjid Agung. Lelah bekeliling musium dan keraton, sekarang saatnya Shalat Dhuzur. Masjid Agung Sumenep menjadi tempatku dan teman-teman COBS menghadap Ilahi dengan penuh kekusyukan.

Tanpa terasa hari sudah jam 14.00, perut sudah berkeroncong ria seolah menantikan makanan masuk. Warung soto dan rujakpun kita serbu untuk mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan ke Pantai Lombang. Kenyang bersantap siang, bis Marem meluncur dengan semangatnya mengantarkan kita yang sudah sudah tidak tahan menahan kelopak mata untuk sekedar tidur siang. Begitu mata terbuka, tulisan selamat datang di Pantai Lombang membangunkan kita semua. Kita sudah sampai!.

Cemara udang dimana-mana, pasir putih sudah menyambut kita. Deburan ombak sayup-sayup terdengar. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di pantai Lombang yang menurut teman-teman gak kalah dengan Pantai Kuta di Bali. Masa’ iya?


aku dikubur dengan pasir putih pantai Lombang

Fantastis! Luar biasa! Amazing! Entah kata-kata apalagi yang harus aku keluarkan untuk melihat hamparan pasir putih bersih ditambah birunya air laut seolah tak percaya kalau ini ada di Madura, ada di tempat lahirku, tempat yang terkadang hanya dikenal dengan caroknya. Tempat yang hanya dikenal dengan kerapan sapi inipun mempunyai Pantai yang tidak kalah dengan pantai Kuta ataupun pantai Hawai (kayak pernah ke Hawai saja!)

Tanganku tidak tahan untuk menekan tombol kamera digital pinjaman untuk mengabadikan kecantikan Pantai Lombang. Terlihat cemara udang berjejer di bibir pantai, konon menurut kabar burung cemara udang hanya tumbuh di dua tempat di Dunia, salah satunya di Sumenep – Madura.

Aku amankan kamera, ponsel dan dompet kemudian aku menenggalamkan diri ke dalam air laut bersih ini. Ini pertama kalinya aku mandi di Laut. Ternyata airnya asin (yaiyalah, air laut bro!).

Bersuka ria, berfoto, berenang, dan minum kelapa muda itulah kegiatan kita di pantai Lombang. Matahari sudah meredup, teman-teman berseru agar segera meninggalkan pantai untuk kembali ke Bangkalan. Sekali lagi aku menenggalamkan diri seraya merasakan air laut merasuk ke dalam kulit kemudian melepasnya dengan senang hati untuk kembali ke Bis dan balik kanak ke Bangkalan tentunya setelah mandi dengan air tawar di kamar mandi dekat pantai. Sungguh petualangan yang tak terduga!

ALAM

11 thoughts on “Petualang Tak Terduga

      1. Selamat mengunjungi tanah dan pantaiku. tapi ada lagi tempat yang seharusnya dikunjungi yaitun Asta Joko tole, konon yang pertama kali datang ke sana lalu berdoa dengan khusu’ akan cepat dikabulkan oleh tuhan. sesekali jangan hanya jalan-jalan tetapi mampirlah ke tempat yang menjadi wisata rohani.. ditunggu

Berikan Komentar