Ramadan a la Hotel Bintang Lima

 

Lagi, sebuah kesempatan langka datang padaku. Kali ini dipersembahkan oleh hotel bintang lima di Surabaya, JW Marriot. Ini bukan pertama kali aku menginap di hotel, tapi bagi orang desa sepertiku, menginap di hotel, apalagi bintang lima merupakan sebuah kesempatan yang harus dimanfaatkan untuk belajar. Setidaknya belajar bagaimana cara menginap di hotel berbintang.

Sebelumnya, awal tahun aku terpesona denga hotel Sahid Jaya di Jakarta dan Kusuma Sahid di Solo yang mengusung tema ke-Indonesiaan yang begitu kentara. Mulai dari masuk hingga ornamen di dalam kamar begitu terasa. Antara semangat mencintai negeri dan mengenalkan budaya Indonesia ke turis mancanegara yang menginap.

Berbeda Hotel Sahid, beda pula dengan JW Marriot. Hotel yang sempat menjadi incaran teroris ini adalah hotel ternama di Indonesia juga di berbagai negara.

wahyu at marriot
Menunggu waktu meeting

Sebuah kesempatan menginap meski hanya semalam. Momen Ramadan menjadikan kesan tersendiri di hotel ini. Lukisan-lukisan yang terpampang di beberapa sudut tembok membawa kita seperti berada di Eropa. Semakin kentara ketika masuk ke dalam kamar. Di dalamnya terdapat beberapa arsitektur sederhana gabungan gaya eropa dan tidak meninggalkan kesan Indonesianya.

Bagaimana Ramadan di hotel? Seru! Momen buka puasa layaknya dinner, di belakang hotel ini terdapat acara berbuka puasa bersama yang dikemas outdoor party lengkap dengan hiburan musik Islami, sayang outdoor party-nya tidak sempat aku abadikan, karena baru keliatan saat berada di atas kamar lantai 6. Namun konsep acaranya begitu menarik, berbuka puasa di taman dekat kolam renang dengan beberapa koki yang memasak di pinggir-pinggir taman layaknya pesta barbeque di film-film.

Oiya, ada kisah menarik saat aku dan temanku menuju kamar yang berada di lantai 6. Kami berdua dan rekan dari Jakarta meeting di lantai 3, saat break sholat Maghrib kami putuskan menginap, kami berdua dibekali “kunci kamar” yang berupa kartu seperti kartu ATM berwarna hijau tua.

Kami menuju lift, seperti biasa seolah sudah terbiasa menggunakan lift, kami tekan angka 6 yang ada di dashboard lift. Aneh, tidak bisa ditekan, lampu di angka 6 tidak nyala. Lift-pun turun mengikuti perintah tamu hotel yang lain. Dari tamu ini, kami juga diberi tahu kalau “kunci kamar” itu harus dimasukkan ke bagian atas dashboard lift. “Oh, begitu!”. Gumamku. Oke, kami masukkan ke dalam layaknya ngambil uang di ATM. Kami tekan tombol 6 lagi, tanpa respon. Gagal. Kami berdua garuk-garuk kepala. Aku tersenyum melihat kepanikan temanku satu ini. Kami keluar lift, dan kami salah tingkah dilihat tamu yang lain, akhirnya kami putuskan untuk masuk lagi dan mencobanya lagi, sekali dimasukkan, dua kali, tiga kali, akhirnya nyerah. Angka terakhir yang bisa ditekan adalah angka 3. Kami kembali ke ruang meeting dan bertanya bagaimana cara pakainya. Aku beranggapan kartunya belum diaktivasi, jadi belum bisa digunakan untuk naik ke atas. Dengan malu-malu dan salah tingkah lagi, kami tanya bagaimana cara pakainya. Bagi kami, bertanya itu artinya memberitahu bahwa kami pertamakali nginap di hotel ini, itu memalukan sebenarnya.

Dalam pikiranku: sistem keamanan yang bagus, tidak semua orang bisa naik ke atas, hanya tamu hotel yang punya “kunci kamar” saja yang bisa naik ke atas dan menggunakan lift.

Kami coba sekali lagi, masuk lift dan masukkan kartunya lagi sampai menunggu lampu led warna hijau berkedip. Masukkan sekali, dua kali dan tiga kali tetap gagal. Kami beradu pandang tertawa, belum sempat tertawa tamu lain sudah masuk lift. Sepertinya dia tahu kalau kartu kita tidak bisa.

“Pakai punya saja mas”, kata tamu hotel itu. Malu sebenarnya tapi ngga apalah. Yang penting bisa naik ke atas. Sial, kartu orang itu berhasil. Lampu led warna hijau menyala, seketika aku tekan tombol angka 6, akhirnya…
Berhasil.

Sampai kamar, kami meluapkan tertawa. Kejadian lucu yang membuktikan kami belum pernah ke hotel sekelas JW Marriot. Ngga apa. Sebuah pengalaman besar terkadang harus melewati jalan yang berliku seperti menghindari rasa malu seperti tadi.

Meeting sekali lagi, dan akhirnya kami beristirahat. Aku yang ngga ikut meeting kedua karena tepar, memilih untuk tidak tidur sampai sahur. Internet berkecepatan 8 Mbps membuatku betah berlama-lama di depan layar toshiba hitamku.
Sudah jam 3. Kita bingung cari menu sahur. Firasatku, seharusnya tamu hotel dapat jatah sahur pada bulan Ramadan seperti ini. Aku telpon cs bertanya hal ini. Benar, kami dapat dan akan diantarkan sesaat lagi. Kami pilih menu sop buntut.

Bel berdering, makanan datang. 45 menit sebelum imsak, kami khusyu menikmati menu sahur terbaik yang pernah kita nikmati. Lantai 6 JW Marriot memberikan pengalaman Ramadan yang berbeda di tahun ini.

ALAM

10 thoughts on “Ramadan a la Hotel Bintang Lima

  1. Aku pernah bolak-balik naik turun lift gara-gara mencet nomornya gak pake kunci kamar. kejadian itu kali pertama di hotel Mercure Surabaya. Norak ye. Hehehe.. Tapi gak apa,abis gak ada yg ngasih tahu 😀

    BTW ada acara apa di Surabaya Lam?

  2. wah mantab bro meetingnya di hotel jw marriott. kalo mau nyebrang, di depan situ ada rawon setan. dulu enak. gak tau sekarang 🙂

  3. weleh, enak banget, ya. tapi tentu, di tempat Anda di desa, ada juga enak dalam bentuk yang lain. kalau kita senang, di mana pun, kita akan merasa enak, walaupun di hotel berbintang 🙂

Berikan Komentar