Wejangan Prof. Pitoyo Hartono di Universitas Trunojoyo

Suasana live video kuliah tamu di Ruang RKB A/1

Senin, 20 Juni 2011 merupakan hari spesial bagi kampusku. Kenapa? Karena ada seorang Professor dari Jepang yang meluangkan waktunya untuk memberikan kuliah umum cerita lengkapnya sudah aku posting di blog satunya dengan gaya agak serius dikit, tapi disini aku akan mencoba menulis sesukaku dengan bahasa santai, terserah ada yang mau baca atau tidak yang jelas aku ingin bercerita.

Aku sudah mendaftar seminggu sebelum kedatangan Professor ke Madura. Di pamflet yang ditempelkan di seantero papan pengumuman kampus, acara dimulai jam 2 siang. Karena masih ada urusan aku datang agak telat, diluar dugaan peserta membludak seperti kerumunan semut menemukan gula. Sampai – sampai panitia menyediakan dua ruangan untuk kuliah tamu kali ini RKB Multimedia yang diisi dominan dosen, di kelas satunya khusus Mahasiswa yang harus menyaksikan lewat LCD layar lebar (kurang tahu berapa Inchi karena belum ngukur, yang jelas merknya Samsung, Loh?). Sudah disediakan dua ruangan, masih kurang lagi kursinya (doh!), otomatis ngambil kursi di kelas sebelah untuk digotong ke dalam ruangan yang diisi sekitar 70an Mahasiswa dalam satu kelas (kebayang kan? Panas, gerah, dan pasti tidak kondusif). Lebih tidak kondusif lagi ketika  konsumsi datang *hore! dapat lunch gratis*. Meski berdesak-desakan, tidak melunturkan semangatku menyaksikan kuliah umum yang langka ini, aku siapkan catatan yang siap menuliskan segala percakapan Professor seraya berharap bisa mengikuti jejaknya ke Jepang, *ketemu Nobita, Doraemon dan tentunya Kapten Tsubasa* Amin.

Suasana live video kuliah tamu di Ruang RKB A/1 ..[2]

“Sssstttt… Pak Pitoyonya datang”, seru teman di sebelahku, sayang sudah melewati pandanganku dari dalam ruangan. Di layar sudah terlihat Pak Arif menemani peneliti dari Universitas Chukyo ini menyiapkan perlengkapan perangnya yaitu laptop kecilnya *kira sejengkal tanganku*. Beberapa kali Pak Pitoyo mengangguk sampai merundukkan badannya seperti gerakan ruku’ saat Sholat *gerakan khas Jepang, lebih cocok kalau merundukknya sambil mengatakan ‘haaiik!’*. Body Language-nya seolah sudah berbicara kalau beliau adalah orang pintar dan bukan orang biasa *maksudnya? Pasti orang jenius, pastilah! kan sudah Professor?*.

“ada tempat kosong untuk lima orang, segera siapa yang mau. Ingat cuma lima!”, suara itu terdengar dari daun pintu, aku mendengarnya meski dalam posisi menunduk. Benar saja, itu suara Bu Arik salah seorang dosen sekaligus panitia kuliah umum ini. Tanpa pikir panjang seperti kereta api, aku segera mengambil tas dan berlari ke ruang RKB Multimedia. Alhamdulillah, sekarang aku tepat berada di depan Professor Pitoyo. Tidak ada lagi suara-suara tidak kondusif, kalau di LCD TV tadi slide presentasinya kurang terlihat, suara yang tidak begitu jelas yang keluar dari speaker kecil, sekarang dengan jelas tanpa halangan apapun aku bisa menyaksikan dengan nyaman dengan kursi lebih empuk dan tanpa bantuan microphone-pun aku bisa mendengar ‘wejangan’ professor dari tanah Sakura ini.

Prof. Pitoyo sedang mengutak-atik senjata perangnya berupa laptop kecil

Aku tidak akan membahas panjang lebar, karena kalau dikalikan panjang dan lebar menjadi luas. Aku sudah membahas panjang lebar di blogku yang satunya. Aku akan menulis ulang beberapa perkataan Professor kelahiran Surabaya ini yang terekam dalam sebuah catatan kecilku.

  1. Professor Pitoyo bernama lengkap Professor Dr. Pitoyo Hartono., Eng.
  2. Beliau dari Department of Mechanics and Information Technology – Universitas Chukyo.
  3. “Saya lahir di Surabaya, tidak jauh dari dermaga. Anda boleh bertanya pakai bahasa Inggris boleh, bahasa Indonesia boleh, bahasa Jawa-pun boleh, tapi kalau bahasa Madura saya sudah lupa.”
  4. “Saya biasanya memaksa mahasiwa yang baru naik ke tingkat 4 untuk membuat robot sederhana seperti ini *sambil menunjuk slidenya* dalam waktu dua minggu harus sudah bisa jalan, saya tidak mau tau bagaimana caranya. Sedikit kerja rodi tapi kali ini mandornya orang Indonesia. Saya pikir ini tidak terlalu buruk jika diterapkan di Trunojoyo”.
  5. “Ide penelitian saya ini berawal dari sebuah kejadian di Kalimantan, dimana kunang-kunang bisa membentuk sebuah tembok sepanjang 2 km sehingga seperti lampu neon raksasa, mereka saling sinkron satu dengan yang lainnya.”
  6. “Saya tidak ingin membuat robot sepintar Manusia, tapi hanya ingin membuat robot sepintar lalat.”
  7. “Tahun 2030, Jepang berencana mengirim sebuah tim robot untuk mengikuti Piala Dunia Sepakbola agar bisa bersaing dengan juara dunia macam Brasil. Tapi saya kurang suka dengan ide ini, saya lebih senang apabila robot yang kita buat bisa bekerjasama dengan manusia, jadi lebih baik mengirim tim yang berisi manusia dan robot, itu lebih baik saya rasa.”
  8. “Tujuan dari penelitian ini yaitu membawa manusia bisa ikut mendevelop robot, dan tujuan terbesarnya adalah bagaiman membuat produksi baru (robot) berdasarkan evaluasi, training dan self organizing.”
  9. “Mengerti robot, harus mengerti mekanik, sedikit elektro, mikrocontroller, dan programming.”
  10. “Tapi saya tidak begitu suka Programming.”
  11. “Sekarang di Jepang sedang dipikirkan bagaimana hukum untuk robot”
  12. “Tidak ada alasan Universitas di Indonesia tidak maju”
  13. “Ketebatasan ini benih dari inovasi, jangan pernah bersembunyi di balik keterbatasan.”

Begitulah catatan yang aku tulis ketika mengikuti Kuliah Umum Professor Pitoyo Hartono. Kalau sudah mengikuti hal-hal seperti ini biasanya akan menjadi motivation charger untuk semua peserta tidak terkecuali aku. Semoga aku bisa belajar banyak dari semua penelitian yang dilakukan Professor, syukur-syukur mengikuti jejak beliau belajar di negeri Sakura. Amin Ya Rab!

ALAM

4 thoughts on “Wejangan Prof. Pitoyo Hartono di Universitas Trunojoyo

  1. amiin, saya amini doa sampean mas.. 🙂
    hmm.. akhirnya, saya mampir mas, menarik2.. sampai 2 posting ya..
    blog saya sering kali tanpa image karena keterbatasan dokumentasi, saya pun tak paham dengan teknik2 penulisan,
    semoga dpt belajar dari pean ya..

Berikan Komentar