Sungai besar dan panjang tersebar di Indonesia. Kehadirannya menjadi sumber daya alam berharga, sebagai urat nadi kehidupan masyarakat. Perguruan tinggi sebagai tempat para paneliti dan akademisi memiliki banyak informasi yang bisa dibagi sebagai inspirasi untuk mewujudkan Citarum Harum.

***

Tubuhku terasa capai setelah terbang dari Jakarta, namun semangatku tetap berbinar menyambut kegiatan hari ini. Jakarta siang itu sedikit gelap, tak sinar matahari ketika aku menurunkan koper dari taksi. Suasana sangat teduh langsung terasa ketika memasuki Hotel Veranda.

Aku istirahat sebentar di kamar hingga Maghrib tiba. Iqbal datang 20 menit kemudian. Dia adalah peserta paling jauh karena berasal dari Aceh. Kemudian Darul, kawan baik yang sedang bekerja di Jakarta menemuiku. Kami mengobrol hingga Maghrib tiba. Usai sholat Maghrib aku dan Iqbal harus menuju ruang pertemuan untuk memulai kegiatan sebagai satu dari duapuluh peserta Writingthon Dikti.

Acara Kamis malam hanya diisi perkenalan semua peserta dan panitia. Kami larut dalam suasana pertemanan sambil makan malam dan ngopi bersama.

Oiya, Writingthon Dikti ini adalah kependekan dari Writing Marathon. Acara yang dikemas oleh Bitread ini mempunyai tujuan untuk memberikan kontribusi nyata terhadap Sungai Citarum melalui tulisan. Nantinya dari acara Writingthon Dikti ini akan menghasilkan satu buku yang dapat dibaca oleh masyarakat tentang apa, bagaimana, dan mengapa Sungai Citarum.

Mengapa Sungai Citarum? sungai ini merupakan representasi sungai-sungai di Indonesia. Namun Sungai Citarum sudah sangat bermasalah. Airnya tidak layak konsumsi, berbahaya jika dibuat mandi, ributan ton sampah mengambang di atasnya. Belum lagi jutaan liter limbah industri tekstil yang dibuang ke Citarum. Puncaknya, Citarum disebut media internasional sebagai the world’s dirtiest river. Bahkan film dokumenter yang dibuat media internasional menampar pemerintahan sekarang. Oleh karena itu Presiden Jokowi mengambil alih percepatan penanganan Sungai Citarum ini dengan Perpres No. 15 tahun 2018 untuk mendukung gerakan Citarum Harum. Ketika suatu masalah menjadi Pepres, berarti masalah itu sudah gawat sekali dan menjadi isu nasional.

Jumat pagi acara pembukaan resmi dengan perwakilan Dikti. Dalam sambutannya Prof. Jonheri mengatakan bahwa riset tentang Citarum sudah banyak, namun tidak menyelesaikan masalah yang sangat kompleks. Melalui Perpres No. 15 tahun 2018, multikementerian diminta untuk bersinergi memberikan solusi untuk permasalahan di Citarum. Acara ini masih dalam serangkaian acara Hari Pendidikan Nasional Kemeristekdikti.

Kemudian CEO Bitread, Annisa Hairunnisa membakar semangat kita tentang pentingnya membuat tulisan untuk membantu mewujudkan gerakan Citarum Harum. Dalam sambutannya, Annisa menyebutkan ada 234 tulisan yang masuk. 20 terbaik ada di ruangan ini, tepuk tangan mengiringi pujian Annisa untuk peserta Writingthon Dikti.

Selanjutnya kami nonton bareng film pendek tentang Citarum yang dibuat oleh media massa internasional. Dari film pendek ini kami dibeberkan fakta bahwa Citarum sudah begitu parah. Momen paling epic ketika kami melihat bangkai kambing yang sudah dikerubungi ulat juga ada di atas Sungai Citarum.

Ibu Intan Ahmad perwakilan dari Dirjen Sumber Daya Iptek dan Dikti membeberkan bahwa masalah terbesar dari Sungai Citarum adalah rendahnya kesadaran masyarakat. Tentu ini ada korelasinya dengan data bahwa hanya 31% dari masyarakat Indonesia yang menempuh perguruan tinggi. Lebih dari 57% masih berpendidikan SD hingga SMP. Artinya salah tugas penting untuk mengembalikan fungsi Sungai Citarum menjadi seperti semua adalah edukasi. Maka Bu Intan menyarankan kepada kami harus membuat tulisan dengan target pembaca anak SD dan SMP, artinya harus menggunakan bahasa populer yang dapat diterima oleh mereka.

Kemenristekdikti juga sudah melakukan serangkain program untuk menjalankan Pepres 15 No. 2018. Salah satunya adalah kewajiban KKN Tematik sepanjang tahun untuk semua mahasiswa di PTN dan PTS yang berada di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Nantinya mahasiswa akan bergabung dengan TNI yang sudah turun lebih dulu ke Sungai Citarum. Bisa dibayangkan kekuatan akademik jika sudah bertemu dengan kekuatan militer. Dahsyat.

Setelah Jumatan, perwakilan LSM Walhi Jabar, Dadan Ramdan mengingatkan pemerintah agar tidak menyalahkan pertumbuhan penduduk. Karena manusia berkembang biak itu alamiah, sama seperti manusia meninggal. Jangan jadikan populasi sebagai halangan, tapi justru sebagai tantangan. Menurutnya kerugian akibat tercemarnya Sungai Citarum ini sudah mencapai 11 Triliun Rupiah. Ketika sungai tercemar, maka ekosistem akan rusak, kemudian kesehatan masyarakat akan bermasalah, produkvitas tanah berkurang, hingga mahalnya biaya recovery.

Usai sholat Ashar dan coffee break, Parikesit dari Universitas Padjajaran memberikan presentasinya tentang Gagasan Teknik-Saintifik untuk Citarum Harum.

Ini adalah materi favoritku. Banyak sekali insight yang aku dapatkan. Latar belakangnya sebagai peneliti Sungai Citarum semakin memperkaya pengetahuannya tentang Citarum.

Menurutnya Citarum ini isunya bear, dana yang digelontorkan banyak, tapi solusinya belum ada. Salah satu sumber dana untuk merestorasi Citarum adalah dana pinjaman yang harus dibayarkan oleh anak cucu kita nanti. Utang belum luas, masalah tak beerkurang justru rasanya bertambah. Pungkasnya.

Di Citarum nyaris tak ada lagi kehidupan ikan. Banyak ikan khas Citarum yang sudah tidak akan pernah telihat lagi. Lantas bagaimana mengatasi permasalahan ini? menurutnya, masalah lingkungan itu tidak ada solusinya. Beliau berhenti menghela napas, kemudian melanjutkan: masalah lingkungan itu tidak ada solusinya selagi ada ketamakan (greed), apatisme (apathy) dan egoisme (selfishness) di masyarakatnya. Jleb. Entah mengapa kalimat tersebut seperti menusuk-nusuk kami berduapuluh yang sedang mencari solusi untuk Citarum.

Berbagai rencana sudah dilakukan sejak 30 tahun lalu, tapi Citarum justru semakin parah. Rasanya Pak Jokowi perlu berkantor di Cisanti jika ingin masalah ini selesai. Cisanti adalah hulu Citarum. Parikesit juga membeberkan berbagai topik penelitian yang dapat dilakukan di Sungai Citarum, mulai dari social engineering hingga political ecology dari Sungai Citarum. Hingga akhirnya partisipasi masyarakat adalah ujung tombak dari semua solusi yang diberikan. Mengajak masyarakat Jawa Barat mudah, kata Parikesit, asalkan program tersebut bisa dimengerti, dapat dilakukan dan menghasilkan uang. Tiga rumus rahasia yang mungkin berlaku untuk semua kalangan di Indonesia.

Sebelum sholat Maghrib kami diberikan panduan Writingthon dan pembagian setiap bab. Kami dibagi menjadi tiga kelompok yang akan menyelesaikan tiga bagian utama dari buku: pedalaman profiling Citarum, Solusi kultural dan non-teknis/sains, dan solusi rekayasa sains dan teknik.

Jumat malam dan Sabtu pagi kami fokus menulis dengan kelompok masing-masing. Menyempurnakan tulisan yang sudah dibuat sebelumnya. Mempertajam data. Hingga menyatukan visi dan gaya tulisan. Hingga acara Writingthon Dikti dengan tema Indonesia untuk Citarum Harum pun selesai.

Terima kasih kepada Dikti dan Bitread yang sudah bekerja keras menjamu kami mulai sebelum berangkat hingga pulang ke rumah masing-masing. Bagi yang belum tahu, Bitread merupakan indie digital publishing dari Bandung yang sudah bekerjasama dengan Ubud Writers & Readers Festival.

Selain itu, Bitread masih punya Writingthon yang lain lho, mereka saat ini sedang menggelar ajang writingthon ketiga yang bertema Asian Games. Sebagai dukungan kepada ajang yang membawa harum Indonesia. Untuk informasi detail tentang mereka bisa dilihat di www.bitread.id.

ALAM

ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

*/