Desa Pinggiran Tuban, Ber-kota-kan Bojonegoro

Published by ALAM on

ekspektasimu!” Sergah Darul saat masih berada di kapal ferry menyebrangi indahnya selat Madura di pagi hari. Semburan matahari pagi itu datang dari ujung timur ngambang di atas air laut yang beriak ringan dan memancarkan gemilau sinarnya di balik jembatan terpanjang di Asia Tenggara, Suramadu. Indahnya menikmati pemandangan Suramadu disinari mentari pagi dari belakang. Serasa melihat lukisan hidup di depan mata. Lukisan 4 dimensi.

Sabtu yang indah. Tak banyak melihat truk besar berkeliaran di sekitaran Surabaya hingga kota Gresik. Kurang dari tiga jam kami sudah memasuki kota Lamongan. Perut telah menghentikan laju motor supra hitamku di sebuah warung sederhana di pinggiran kota. Selesai makan, motor kami berderu dan dalam sekejap sudah sampai pada sebuah gapura besar bertuliskan selamat datang di kota Babat menjadi pemandangan kami berikutnya. Aku sudah tak kuasa berhenti lagi karena sudah terasa panas berkendara.

Sebotol sari kedelai habis dalam sekejap saat aku digantikan Darul menuju separuh jalan. Desa Klumpit yang berada Kecamatan Soko dan masuk daerah kekuasaan Kabupaten Tuban. Cuaca begitu mendukung perjalanan kami menuju Tuban. Tak ada hujan, cerahpun tak muncul. Tepatnya awan menaungi perjalanan kami. Begitu ke arah barat Babat, aku merasa aneh, karena ini adalah pertama kalinya aku ke daerah ini. Sudah sering bagiku berada di daerah Babat. Ya, karena bapakku adalah kelahiran kota sibuk ini.

Meski kita mau ke Tuban, tapi kita harus melewati kabupaten Bojonegoro. Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di bumi Angling Darma. Tak ada yang istimewa sepintas. Sama seperti kota-kota lain di Indonesia. Ngga ada yang spesial kecuali jembatan terpanjang di Indonesia setelah Suramadu. “monkey river” atau masyarakat setempat menyebutnya kali kete’, yang menjadi landmark perbatasan Tuban-Bojonegoro. Sebelah barat Bojonegoro, timur jembatan adalah kabupaten Tuban.

“Yeay! Welcome to the jungle!” seru Darul sambil berteriak dan melanjutkan laju motor. Seruan ini menandakan kita akan memasuki daerah pedesaan. Aku masih ingat ancaman dia saat di atas ferry. Aku tak berani bertanya, masih lama? masih jauh kah? aku tak bertanya apa-apa. Aku mencoba bertahan meski sebenarnya motor ini begitu panas kududuki sekitar dua jam perjalanan. Setelah sempat menyeruput kopi di pinggir sawah sambil memberi minum bensin untuk supra hitamku, sekalian berteduh dari hujan. Kopi sudah habis kami melanjutkan perjalanan. Motor sudah melaju begitu jauh. Sekitar 200 km dari Madura. Tak ada yang istimewa, suasananya seperti di daerah Rangperang Laok di Pamekasan. Kanan dan kiri, hanya sawah yang membentang. Di depan ada perbukitan yang sempat mengusik kepalaku.

“Bukit itu seperti di daerah Socah ya?” seruku, menghibur diri.

Tak ada jawaban dari Darul. Motor terus melaju. Air hujan yang menggenang di jalanan menjadi hiburan tersendiri. Pikiranku berkecamuk kemana-mana. Darul ini tinggal di mana? Jauh sekali. Pertanyaan besar yang ada di kepalaku: Kok bisa dia kuliah ke Madura. Sejauh ini. Mungkin sudah tak terhitung berapa kali di bolak-balik Madura – rumahnya di sini.

Lamunan terhenti ketika sudah tak ada lagi rumah, sudah jarang. Tak ada lagi alfamart, indomaret, tak ada lagi ATM, yang ada pohon jati. Jalanan menanjak. Menurun dan menanjak lagi. Sesekali terlihat kuburan di samping jalan seperti menyapaku. Udara menjadi lebih dingin. Aura pegunungan menyeruak. Motor terus melaju. Saat tanjakan, ada air hujan yang berlomba menuruni jalan, seperti air terjun kecil yang bisa diinjak motor.

Desa Klumpit Soko Tuban

Desa Klumpit berkecamatan Soko berkabupaten Tuban tapi ber-kota-kan Bojonegoro

Beruntung sekali bisa ke tempat ini sehabis hujan. Hingga motor berhenti. Darul menunjukkan sesuatu. Waw. Ada pemandangan sawah berundak-undak seperti ada yang menata. Padi masih kecil menghijaukan. Air hujan menuruni sawah searah dengan gravitasi membentuk air terjun-air terjun kecil di sudut sawah. Di titik ini aku bisa melihat jauh di sana. Pemandangan di bawah begitu hijau. Tanpa penghalang apapun. Sejuk dan selalu ada kenikmatan tersendiri menikmati hijaunya sawah dari ketinggian. Tak kuasa kuabadikan lewat ponselku. Tak lama kemudian, aku sampai di rumahnya Darul. Keluarganya menyambut kami. Ramah. Selama di sini, aku berdiskusi dengan Darul, Azis Kakaknya, Ibunya, dan Mbak Iparnya yang lengket dengan Ibal keponakannya.

Aku baru tahu, kalau Desa Klumpit ini memang masuk wilayah Kabupaten Tuban, tapi bagi masyarakat di sini “kiblat” mereka adalah kota Bojonegoro. Mereka mencari nafkah, hingga menjual hasil panen ke kabupaten sebelah. Hal ini terjadi karena Bojonegoro lebih dekat daripada Tuban. Tidak akan pernah tahu aktivitas khas perbatasan seperti ini jika tidak tinggal langsung di desanya. Merasakan langsung aktivitas warganya. Naik-turun bukit adalah hal yang biasa.

Kini aku sudah belajar dan sangat beruntung bisa mengunjungi tempat baru. Pinggiran kota, wilayah perbatasan Tuban – Bojonegoro. Rasanya nyaman sekali ketika tinggal di tempat tak ada sinyal 3G, channel televisipun tidak banyak yang bisa dinikmati. Hidup terasa lebih bermakna. Komunikasi berjalan normal dan berbobot tanpa gangguan gadget. Suara gemuruh air sungai di belakang rumah menjadi relaksasi tersendiri bagi pikiran yang mungkin sudah jenuh dengan aktivitas kota.

Klumpit, desa yang juga menjadi tempat bertapanya Ronggolawe menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Desa pinggiran Tuban akan menjadi satu tempat menarik untuk dikunjungi lagi. Suatu saat nanti.


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

0 Comments

Berikan Komentar