Bekerja itu Dibayar, Bukan Membayar!

Bagi orang Madura, terlebih yang berada di desa, sebuah sebuah kesuksesan besar adalah ketika berhasil diterima menjadi pegawai negeri sipil. Semua warga akan cepat tahu saat salah satu dari warga desanya menjadi seorang PNS. Terkenal mendadak seantero desa, bahkan akan menjadi perbincangan banyak orang. Para orang tua akan menjadikan seorang yang sudah menjadi PNS sebagai acuan kepada anaknya agar semangat sekolah.

“Lihatlah si Abdul itu, dia hebat dan rajin sekolah makanya dia menjadi pegawai. Kamu harus tiru dia!”, begitulah ujar orang tua kepada anak-anaknya. Akupun sering mendapat ucapan itu dari orang tuaku, terlebih ibu. Rasanya beliau menginginkanku menjadi seorang PNS yang berseragam pergi kerja dan mendapat pensiun. Aku diam saja dan mengangguk, aku merasa PNS itu seperti sebuah lambang kesuksesan luar biasa bagi warga Madura, tidak semua, tapi sebagian besar. Seperti sudah mengakar dan lekat dalam benak mereka.

Kini, saat aku sudah dewasa, disaat aku sudah bisa memilih mana yang harus aku tempuh dan tidak. Bayang-bayang pesan Ibuku saat masih kecil itu tetap saja terniang. Bahkan nenekku juga melontarkan pendapat yang sama, tentang harapannya aku bisa menjadi “guru” yang tidak perlu nyangkul di sawah atau berurusan dengan barang keras seperti batu dan pasir alias menjadi tukang bangunan.

Setelah lulus S1, aku sempat dikontrak menjadi dosen kontrak di kampusku, Universitas Trunojoyo Madura. Hanya satu semester dan berlangsung seperti begitu singkat dan tak terasa. Dalam benakku, aku harus melanjutkan S2 agar tidak lagi menjadi dosen kontrak, melainkan dosen tetap. Meskipun tak menjadi dosen, tapi rasanya gelora semangat untuk sekolah S2 memang harus ditegakkan.

http://www.rejanglebongkab.go.id/wp-content/uploads/2012/04/PNS2.jpg

Maka dari itu, sambil menunggu proses S2 yang tidak bisa singkat dan instan, perlu persiapan semuanya, aku memutuskan untuk menjadi menerima tawaran dari dua SMA di Bangkalan. Andai bisa, pasti tawaran ketiga aku terima. Namun, waktu hanya 24 jam dan aku hanya ada satu. Jadi dua sekolah dan kegiatan-kegiatan yang lain rasanya sudah cukup berhasil membuatku sibuk.

Hampir sekitar satu setengah tahun aku berada di lingkungan SMA, aku menjadi sedikit paham dan mengerti bagaimana pekerjaan seorang guru. Terlepas dari kewajibannya mengajar dan berdiri di depan kelas dan menyampaikan pelajaran sesuai dengan rencana proses pembelajaran (RPP) dan silabus masing-masing mata pelajaran, aku juga menjadi tahu bagaimana proses awal menjadi PNS hingga saat menjadi PNS. Tidak semudah dan sesimpel yang kubayangkan.

Rumit dan kaya istilah. Lihat saja istilah seperti “fungsional”, “sertifikasi”, “guru tidak tetap”, “guru honorer”, “guru tetap”, “guru pns”, “guru non pns”, belum lagi istilah-istilah asing seperti RPP, Silabus, KKM, hingga afektif-normatif. Bak seperti detektif Conan, aku menelisik apa itu semua, apa artinya dan bagaimana penerapannya. Proses menjadi detektif terjadi dengna sendirinya saat beberapa kali dipercaya menjadi admin atau operator proses pendataan yang berhubungan dengan dunia TIK.

Satu semester telah terlewati, semester keduaku aku mendapat dua saran dari dua guru. Sarannya sama, aku diminta untuk mendaftar CPNS. Kedua guru itu, memang guru yang paling dekat denganku. Aku begitu paham kemauan mereka. Bahkan salah satu memintanya sambil berbisik dan mimik mukanya terlihat begitu berharap aku bisa menjadi guru tetap di sekolah itu.

“Pak, kalau mau pengen menetap di sekolah ini, daftar CPNS saja.” Ujarnya spontan setengah berbisik kepadaku yang siap-siap pulang. aku berhenti dan menjawab: “Saya mau menjadi PNS kalau saya ngga bayar masuknya!”.

Memang, sudah menjadi rahasia publik saat sebuah pekerjaan Abdi Negara di negeri ini diperdagangkan. Angkanya begitu fantastis, antara 75-150 juta untuk satu orang yang ingin menjadi CPNS. Celakanya lagi, masyarakat Indonesia berujar kalau ini wajar dan semestinya memang begitu. Ini terbukti dengan pernyataan Ibuku: “Duh, nanti kalau Wahyu mau bekerja, dapat dari mana uang masuknya!”. Aku selalu tersenyum jika Ibuku mengatakan demikian. Aku mengatakan kepada Ibuku, namanya bekerja itu dibayar bukan membayar!

Rasanya membayar ratusan juta untuk menjadi PNS itu sudah menjadi paradigma dan sebuah kesalahan yang berulang-ulang, tahun menahun sehingga seolah menjadi kebenaran publik. Tidak hanya di kabupatenku, tetapi rasa-rasanya di kebanyakan kabupaten di negeri ini. Beberapa teman PNS mengatakan uang ratusan juga itu adalah uang investasi masa depan kita. Padahal aturan membayar ratusan juta itu tak tertulis sedikitpun dalam perundang-undangan di negeri ini. Lantas kemanakah uang itu? orang yang punya potensi tetapi punya tidak punya uang berarti tidak boleh menjadi PNS? Entahlah!

Aku ngga mau mengorek lebih dalam tentang fenomena lucu ini. Prinsipku simpel: namanya bekerja itu dibayar, bukan membayar! daripada diberikan sia-sia kepada “yang berkepentingan”, aku lebih suka ratusan juga itu dibuat modal usaha. Menjadi pedagang. Wirausahawan tanpa harus membayar sepeserpun!

 

 

ALAM

8 thoughts on “Bekerja itu Dibayar, Bukan Membayar!

  1. ya setuju bro, bekerja itu dibayar, bukan membayar, kalo membayar mungkin bekerja sebagai tukang membayar alias bagian purchasing.. hehe..

  2. Bukan hanya di Madura saja sih, hampir semua orang di Indonesia sepertinya, ingin anaknya jadi pegawai negeri.
    Ingat dulu waktu tamat kuliah, almarhum Mama suruh daftar pegawai negeri, alasannya karena perempuan lebih cocok jadi pegawai negeri yang kerjanya tak menyita waktu ( dan karena pegawai negeri itu ada pensiunnya.
    Tapi, satu pun anaknya tak ada yang jadi pegawai negeri 😀

          1. yang dipikirkan cuma cari jabatan, tambahan pedapatan, malas up date pengetahuan, oportunis… senggol kiri kanan… cari muka ke atasan…

Berikan Komentar