Bertandang ke Kampus Pak Ci, Menghadiri Singularity

speakers listAku ngga mungkin datang ke acara ini, kalau ngga ‘dipaksa’ Adityas Kemal. Teman sekelas yang aktif di TEDx Surabaya, eh TEDx Tugu Pahlawan. Jadi keinget komunitas blogger TPC.

Right, di Sabtu pagi, aku pagi-pagi menerjang Suramadu menuju kampusnya Pak Ci alias Universitas Ciputra. letaknya yang berada di pucuk barat-daya Surabaya membuatku harus berangkat pagi sekali. Ini kali pertama ikutan event TEDx Tugu Pahlawan.

venue

Acaranya menarik.

Sebenarnya dua kata saja ngga cukup untuk ngejelasin bagaimana jalannya acara. Yang jelas, aku cukup terpukau dengan konsep acara yang sudah menjadi standar TED dimanapun berada. Bayangin saja dalam sehari, ada delapan pembicara yang hanya presentasi dua puluh menit. Ada sedikit tambahan waktu untuk tanya jawab, hanya saja ngga cukup untuk bisa mengkorek-korek materi lebih dalam dari pemateri. Mungkin hanya di TEDx Tugu Pahlawan, ada pembicara yang datang langsung dari Nepal, tiba di Surabaya pagi, lanjut siang ngasi materi dua puluh menit, setelah itu pulang. Rasanya belum puas, tapi itu state-the-art dari acara ini.

Mengambil tema Singularity, TEDx Tugu Pahlawan ingin memberikan pesan kepada semua peserta yang hadir, bahwa ide itu bisa datang dari siapa saja dan tidak harus berhubungan dengan sesuatu yang luar biasa. An idea can from a little thing.

Hadir Dr. Gamal, arek Malang dengan seabrek penghargaan dari dalam dan luar negeri, yang mempunyai ide sampah bisa jadi alat pembayaran rumah sakit. Sebelumnya Arlan Setiawan memaparkan proses bagaimana membangun bisnisnya, dilanjut oleh Ina Silas
GM House of Sampoerna. Ina Silas bercerita bagaimana dibalik dapur pengelolaan House of Sampoerna sehingga menjadi museum dengan pengunjung yang seabrek. Bagaimana mengubah paradigma museum yang terkesan lusuh dan kuno menjadi nyaman dan enak dikunjungi. Sebelum break, Carolina Escalera yang datang dari negeri paman Sam
menjelaskan bagaimana ia mempunyai ide menjadi diplomat.

After break, dibuka presentasi memukai dari Joko Susanto. Ia memberikan sedikit permainan tentang bagaimana menkategorikan diri kita sebagai traveler seperti apa di dunia. Coro Sempilce Indonesia memberikan rasa merinding dengan lagu dari Jermannya. Kelompok paduan suara ini memaparkan bahwa paduan suara bukan sekadar kelompok orang yang bernyani saja, tetapi mereka semua bagian dari keluarga. Inban Caldwell adalah salah satu pemateri favoritku. Ia datang jauh-jauh dari Nepal hanya demi menemui peserta Singularity. Dengan gayanya yang super semangat menularkan virus semangat kepada semuanya. Ia mengatakan kita akan menjadi manusia yang benar-benar hidup jika kita bisa membantu orang lain.

Acara Singularity ditutup dengan stand-up comedy dari seorang dosen Unair, Pulung Siswantara. Ia berhasil mengocok perut peserta dan mengakhiri acara dengan indah.

Delapan orang ratusan ide. Kadang kita perlu melangkah keluar rumah, untuk melihat apa saja yang sudah dilakukan orang lain.

Selamat datang di dunia kegelapan. Kegelapan itu akan menjadi cerah dengan adanya ide.

Hidup ide!

Foto dari TEDx Surabaya

ALAM

Berikan Komentar