Fantastic Jogja Part 2

Setelah hari pertama terlewati, sekarang cerita tentang hari kedua sekaligus hari terakhir sebelum ke Pulau Garam.

Setelah semalam aku diguyur gerimis sehingga membuat tubuh kedinginan, bangun tidur tubuh terasa lebih segar. Aku berbegas untuk Sholat Subuh berdo’a agar agenda hari ini bisa berjalan lancar, termasuk presentasi paper di UGM. Setelah sholat, aku langsung menatap catatan besi hitamku yang sudah siap dengan slide presentasi paper. Aku mencoba rileks, membaca lagi paper, catatan dan sambil memerhatikan slide. Begitu juga dengan Aris, kita berdua berdiskusi tentang apa yang akan kita lakukan saat presentasi nanti di UGM.

Sejak kemarin kami berdua sangat nervous menghadapi presentasi paper di Konferensi Internasional. Ini adalah pertama kalinya, jadi saya wajar kalau sedikit merasa deg-degan. Kita memutuskan untuk latihan sebelum berangkat, aku hidupkan stopwatch untuk mengatur waktu, karena waktu yang diberikan untuk sekali presentasi cuma 20 menit. 14 slide dibagi menjadi dua penjelasan, tujuh slide awal tugas si Aris sedangkan tujuh slide akhir giliran aku yang menjelaskan. Latihan pertama sedikit kacau, karena waktunya sangat panjang, kita butuh 30 menit untuk presentasi. akhirnya kita ulangi sampai mendekati 20 menit.

Tidak terasa jam sudah menjukkan 7.30 wib, saatnya kita bergegas berangkat ke UGM. Sebelum berangkat kita menikmati bubur dan teh panas yang diberikan Eyang. Sekali lagi kita sangat merepotkan Eyang pagi ini. Setelah siap kami pamit ke Eyang dan berangkat ke UGM dengan menunggangi bebek bersayap putih yang sudah menunggu di garasi belakang rumah. kali ini tidak lagi perlu bantuan iPad karena sudah hafal jalan di Jogja.

Pagi itu terasa sangat segar, sinar matahari menyeruak di balik awan pagi, begitu segar. Tugu Jojga terlihat dari jauh dari atas motor. Kita menelusuri ‘jalan tengah’ bak Mahasiswa UGM yang berangkat kuliah. Kita berangkat dengan memakai batik. Sesi pertama Konferensi seperti biasa diisi Keynote Speaker, pagi diisi Professor dari Singapura dan dilanjutkan dengan sesi panel. Kita beberapa kali membaca catatan yang ada di ponsel untuk memantapkan presentasi kita setelah break.

Setelah break, UGM basah karena guyuran hujan deras. Dari atas Gedung Pascasarjana terlihat indahnya kota Jogja dengan guyuran hujan. Guyuran hujan sedikit merefresh pikiran sehingga lebih rileks. Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Aris memulai presentasi dengan sangat serius, dengan menggunakan pointer bluetooth Aris terlihat lebih keren memidah slide satu dengan yang lain sambil berdiri, terlihat lebih sopan daripada presenter yang presentasinya sambil duduk. tujuh slide sudah selesai disampaikan, sekarang giliran aku bercerita dan menjelaskan tentang tujuh slide selanjutnya. Raut muka participant yang hadir terlihat seperti begitu antusias. ucapan terimakasih mengakhiri presentasiku dan ditutup dengan applaus dari participant dan presenter yang hadir.

Semua presentar sudah presentasi, sekarang saatnya sesi tanya jawab. hampir semua pertanyaan tertuju kepada paper kami, aku sangat senang melihat banyak pertanyaan yang berarti presentasiku bisa ditangkap. Aku dan Aris bergantian menjawab beberapa pertanyaan, diskusi belangsung menarik meski ruangan konferensi panel 17 tidak penuh. Sungguh pengalaman yang luar biasa bisa diskusi paper dengan orang-orang yang sudah high-class.

Selesai acara konferensi pada pukul 17.30, kami berdua memutuskan untuk jalan-jalan ke Malioboro sebelum malam ‘take-off‘ ke Madura. Bebek bersayap putih dengan sabar mengantarkanku ke Jalan yang begitu terkenal itu. Jalan itu juga menjadi bagian penting dalam pariwisata Jogja.

Jalan Malioboro adalah nama salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani. Jalan ini merupakan poros Garis Imajiner Kraton Yogyakarta.

Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Jalan Malioboro sangat terkenal dengan para pedagang kaki lima yang menjajakan kerajinan khas jogja dan warung-warung lesehan di malam hari yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para Seniman-seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini

Makan malam, membeli sedikit oleh-oleh, sholat maghrib dan berfoto-foto merupakan aktivitas kami berdua saat itu. Waktu kita datang, Malioboro seperti kedinginan sehabis diguyur hujan deras siang tadi. Para tukang becak, andong, dan semua pedagang di pinggir sepanjang jalan Malioboro sangat menarik perhatianku. beberapa kali kameraku tidak tahan untuk aku arahkan ke berbagai posisi mengabadikan sudut-sudut jalan ini. Akhirnya waktu juga membatasi kita, kita harus bergegas pulang, packing dan kembali ke Madura, karena keesokan harinya ada ujian.

Kita yakin akan kembali ke sini suatu saat.

ALAM

6 thoughts on “Fantastic Jogja Part 2

Berikan Komentar