Kabut putih (tidak tahu asap atau bukan) menyelimuti langit Jakarta saat pesawat Citilink yang aku tumpangi akan mendarat dari Surabaya. Pemandangan Jakarta dari atas tidak terlihat oleh tebalnya awan putih ke abu-abuan.

Jumat (6/7) aku mendarat di Jakarta untuk menghadiri FGD (Focus Group Discussion) jilid 2 yang diadakan ICTWatch. Tahun lalu aku juga diberi kesempatan hadir di acara yang dihadiri oleh perwakilan blogger pilihan dari Sabang sampai Merauke. Ada blogger Aceh, ada Blogger Sumut, Pekan Baru, Palembang, Jakarta, Bekasi, Bogor, Bandung, Banyumas, Solo, Jogja, Semarang, Malang, Surabaya, Ende, Ambon, Makassar, Pontianak, Banjar Baru, dan Papua.

FGD jilid dua disepakati menggunakan hashtag #FGD2012.

Di #FGD2012 ini aku kembali bertemu kawan-kawan alumni FGD2011 yaitu Tuteh dari Ende, Nike dari Palembang, Almascatie dari Ambon, Daeng Ipul dari Makassar, Dwi dari Pontianak, Bang Fiko dari Pekan Baru, Haqqi dari Malang, Mbak Rara dari Makassar, Suryaden dan Anasir dari Jogja, Asmari dari Semarang dan semua yang akan capai bacanya kalau disebutkan satu demi satu.

Jangan sampai lupa berterimakasih kepada Pakdhe Blontankpoer yang sudah merekomendasikan aku untuk menjadi salah satu perwakilan dari Jawa-Madura untuk menghadiri acara keren ini.

Sendirian berpetualang dengan hanya bekal print-out slide yang menunjukkan peta lokasi acara menjadi teman setia selama perjalanan dari Bandara. Setelah berjuang dari kemacetan Jakarta yang tersohor itu, perlu waktu dua jam setengah sebelum akhirnya aku sampai di house of Eva yang menjadi venue sekaligus tempat penginapan peserta selama #FGD2012 berlangsung.

Kesejukan rumah ini menjadi pelepas pengat selama di perjalanan. Setelah istirahat sebentar, sholat segala macam. Malam hari acara dimulai dengan perkenalan dari KIV (Korean IT Volunteers) yang datang ke Indonesia untuk memberikan edukasi kepada siswa/mahasiswa di Indonesia. Mereka itu ini RelawanTIK-nya Korea. Aku berkesempatan berkenalan dengan salah satu anggota dari KIV. Sampai akun Facebook-pun sudah didapat.

Pemutaran film Lini Massa 2 menjadi acara setelah perkenalan KIV ini. Inspirasi banyak hadir dari film ini. Salah satu tokoh utamanya adalah Almascatie, seorang blogger dari Ambon. Selain itu film ini juga menceritakan beberapa pergerakan masyarakat Indonesia dengan memanfaatkan dunia IT sebagai salah satu media untuk menyuarakan kebebasan hak yang seharusnya mereka miliki.

Seperti kisah dari Lombok, hanya dengan bermodalkan ponsel Nexian, warga Mandala Mekar di Tasikmalaya menginformasikan kepada dunia via Facebook tentang kondisi desanya yang kekurangan air karena pipa penyalur airnya bocor. Facebook menjadi sebuah lencana untuk memberikan kepada semua orang bahwa kondisi desa di Mandala Mekar ini tragis. Gara-gara Facebook ini lah yang mereka mendapat bantuan dari beberapa instansi, salah satunya adalah World Bank yang membantu untuk memperbaiki pipa sehingga warga desa Mandala Mekar tidak kekusahan air bersih.

Masih banyak cerita di Lini Massa 2 akan segera di launching oleh InternetSehat ini. Almascatie yang baru tiba di lokasi ditodong untuk maju ke depan untuk menceritakan bagaimana sebenarnya pembuatan film Lini Massa 2 di Ambon. Hal yang paling spesial juga adalahtheme song film ini dibuatkan langsung oleh Glen Fredly, yang juga aktivis perdamaian di Indonesia Timur.

Diskusi informal melanjutkan sesi Lini Massa 2 di house of Eva ini. Tawa canda disertai sesekali terdengar memecah keheningan malam.

 


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

7 Comments

BlackGerry · July 8, 2012 at 18:29

4 orang dari KIV itu sedang bersama saya sekarang, senang rasanya menjadi bagian sejarah perjalanan mereka ^_^

Nich · July 9, 2012 at 09:44

Kita tunggu versi final #linimassa2 ya, buat bukti betapa banyak pendekatan yang bisa dilakukan masyarakat Indonesia untuk berkespresi dan memajukan kehidupan 🙂

Heru Tjatur · July 11, 2012 at 16:16

Mas Wahyu, Desa Manadala Mekar itu ada di Tasikmalaya. Bukan di Lombok, yaa.

    wahyualam · July 11, 2012 at 18:06

    Terimakasih koreksinya. sudah diperbaiki

FRANS KOBEPA · July 12, 2012 at 04:15

mantap filmnya…

FGD2012: Kebebasan Berekspresi dan Transparansi Informasi di Indonesia | Nak-kanak Blogger Madura | PLAT-M · July 11, 2012 at 03:48

[…] catatan perwakilan Plat-M selama mengikuti acara: 1. #FGD2012 Day 1: Mulai Korean IT Volunteer sampai Film Lini Massa 2. #FGD2012 Day 2 : “Bebas Berekspresi Menggunakan Shuttle Bus” 3. #FGD2012 Day 2: “Diversity […]

Draft Rekomendasi Hasil #FGD2012 | STKIP Surya Blogging Media · August 7, 2012 at 02:47

[…] Draft Rekomendasi Hasil #FGD2012 (Jakarta, 7 Juli 2012) Tema: Information Diversity (Keberagaman Informasi), Information Asymmetry (Asimetris Informasi), Information on IPR (Informasi untuk Hak atas Kekayaan Intelektual), Information on Transparency (Informasi untuk Transparansi).Versi 2.0, 22 Juli 2012. Notulis: @merry_mp / Penyusun: @dreeva / Editor: @donnybu Video klip dokumentasi: http://www.youtube.com/watch?v=ovE–Rohego-Kelompok 1 : Information Diversity (Keberagaman Informasi)Dasar Pemikiran: -    Oligopoli kepemilikan media yang rentan hanya melayani kepentingan golongan/kelompok tertentu/terbatas. Ingat Pemilu 2014 segera tiba. Untuk Radio/TV, padahal menggunakan frekuensi milik publik. -    Tak cukup tersedianya pilihan informasi bagi publik, dapat dianggap sebagai bentuk pembodohan dan/atau penyensoran yang represif. -    Tersedianya channel/medium baru (blog, media sosial, dll) via Internet bagi penggunanya untuk berbagi informasi secara online.Isi Diskusi: Kelompok 1 berdiskusi tentang bagaimana besarnya pengaruh media mainstream dan bagaimana peranan media warga dalam memberikan alternatif informasi. Disebutkan bahwa definisi mainstream disini adalah pelaku industri media yang besar, yang mana penetrasi informasi media mainstream sudah sampai ke daerah marginal. Media mainstream mampu membangun stereotip baik positif atau negatif tergantung kepentingan dan juga mampu menyeragamkan informasi tapi cenderung memperkecil pilihan informasi. Belum beragamnya media mainstream dalam memberikan informasi dikarenakan berpatokan pada pemilik modal, rating, iklan dan bahkan kekuasaan politik. Untuk itu perlu penyeimbang dari media warga/alternatif yang ternyata sudah beragam namun dirasa belum cukup, sehingga kita seharusnya bisa memperbanyak produksi konten/informasi yang positif dengan cara berkolaborasi dengan berbagai komunitas aktivis informasi (blogger, citizen journalist, pengguna media sosial) secara berkesinambungan. Tantangan media warga/alternatif ini yaitu disisi internal, motivasi akan profit yg bisa menurunkan kualitas konten dan konsistensi, dan sisi eksternal penguasa bisa melakukan pengekangan dan juga masih banyak masyarakat yang belum melek media.Rekomendasi: Bagi pemerintah: Perlu penegakan hukum yang jelas dan mampu mendorong perombakan regulasi yang dapat menjadikan warg tidak sekedar sebagai konsumen tetapi juga produsen informasi. Selain itu pemerintah perlu melakukan semacam uji publik sebelum sebuah UU yang terkait dengan aktivitas di ranah Internet di jalankan,Bagi aktivis informasi: Perlu untuk semakin memperkaya khazanah / keberagaman konten di Internet secara berkesinambungan. Blogger sebagai salah satu produsen konten di Internet disarankan untuk dapat berkolaborasi dengan blogger dari daerah lain untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Perlu adanya upaya untuk melakukan edukasi (capacity building) yang terus menerus bagi aktivis informasi (blogger, citizen journalist) untuk menjadi lebih paham pada isu-isu spesifik semisal tentang HIV/AIDS.-Kelompok 2 : Information Asymmetry (Asimetris Informasi)Dasar Pemikiran: -    UUD 45 menjamin hak siapapun untuk berinformasi dan berekspresi. Tetapi pada prakteknya, kelompok minoritas (marjinal), kerap ditekan/dibatas ketika ingin gunakan haknya tersebut -    Kelompok marjinal rentan terstigma dan terhambat ketika berinformasi dan berekspresi, karena faktor perbedaan preferensi seksual, keterbatasan fisik, kondisi kesehatan (penyakit) tertentu, lokasi geografis atau status ekonomi. -    Asimetris informasi adalah salah satu penyebab keterbelakangan dan ketidakadilan dalam pembangunan suatu negara, khususnya dalam memberikan (kebijakan) pelayanan publik.Isi Diskusi: Kelompok 2 membahas tentang bagaimana kelompok minoritas/kelompok marginal dalam kaitannya dengan hak berekspresi/berinformasi, sehingga adanya sekelompok yang menguasai informasi dan lainnya tidak. Asimetri Informasi adalah suatu kondisi di mana satu pihak memiliki satu (atau lebih) informasi dari yang lain kemudian menciptakan ketidakseimbangan kekuasaan (atau pengaruh) dalam transaksi yang mempengaruhi hasil pengambilan keputusan. Asimetri Informasi bisa juga disebabkan oleh Digital Gap. Yang terjadi di masyarakat adalah ada sekelompok orang yang terbatas haknya hanya karena satu dan lain hal misalnya berdasarkan letak geografis (misal: wilayah timur Indonesia), keterbatasan fisik (difable), preferensi seksual (LGBT), mengidap virus tertentu (ODHA), dan juga yang berlatar belakang politik tertentu (eks tapol). Padahal mereka juga memiliki hak yang sama dalam kebebasan berekspresi/berinformasi.Rekomendasi: Bagi pemerintah: Peran pemerintah adalah memenuhi hak publik untuk berinformasi dengan cara pemerataan pembangunan infrastruktur telekomunikasi / informasi. Dalam penyusunan kebijakan publik, khususnya yang terkait dengan hak berinformasi, perlu adanya keterlibatan / representasi dari kelompok marjinal. Pemerintah perlu mendorong semakin banyak orang yang tersambung ke Internet, namun tetap dapat berpikir secara kritis.Bagi aktivis informasi: Aktivis informasi dan komunitas (blogger, pengguna media sosial, citizen journalist) diminta memperbanyak aksi dan kegiatan nyata secara offline untuk menyampaikan informasi, selain melalui online di Internet. Salah satunya adalah melalui aktifitas kopdar, yang intinya adalah mengoptimalisasi segala kanal informasi dan sekaligus memberikan pendidikan tentang hak berinformasi secara tidak langsung kepada publik. Meskipun demikian, komunitas sebagai simpul-simpul dan penyeimabng informasi, diharapkan untuk tetap dapat mandiri dan swadaya (self empowerment). Aktivis informasi juga perlu membuka kesempatan yang luas bagi kelompok marjinal untuk dapat semakin luas berdialog dan berkomunikasi dengan publik. Dengan demikian aktivis informasi juga dapat mengubah pandangan (negatif) masyarakat atas suatu kelompok marjinal tertentu.-Kelompok 3 : Information on IPR (Informasi untuk Hak atas Kekayaan Intelektual)Dasar Pemikiran: -    Keberagaman informasi dan kebebasan berekspresi dapat mengakselerasi berkembangnya potensi kekayaan intelektual masyarakat lokal. -    Di sisi lain, seni budaya lokal pada umumnya bersifat komunal dan berbagi (tidak individual). Sehingga satu karya intelektual tertentu (gerak, suara, benda, dll) dianggap sebagai karya bersama. Padahal konsep Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI), adalah kepemilikan secara individual. -    Kekayaan intelektual yang berbentuk digital memudahkan bagi siapapun untuk menduplikasi ataupun mereplikasinya, baik untuk motif apapunIsi Diskusi: Kelompok ini membahas bagaimana informasi untuk hak kekayaan intelektual, hal ini terkait hak cipta, aktivitas unduh dan juga salin tempel yang sepertinya biasa tapi menjadi penting. Diskusi pleno pada kelompok ini yang paling lama, banya peserta diskusi ikut memberikan pendapatnya soal ini. Masyarakat kita sudah cukup mengerti dan sebagian melakukan dokumentasi. Untuk konten digital juga sudah paham tapi masih saja tetap dilakukan. Isu tentang HaKI ini menjadi bermasalah ketika pengakuan atas sesuatu yang menjadi haknya tidak didapatkan dan hilangnya keuntungan yang seharusnya didapatkan. Sebaiknya ada pendidikan atau sosialisasi yang tepat kepada masyarakat tentang HaKI ini sehingga bisa terhindar dari masalah tersebut. Dalam diskusi ini disebutkan juga ada 2 tipe HaKI ini yaitu individual dan komunal. Adanya celah yang belum bisa mengakomodir perlindungan HaKI komunal terhadap keragaman budaya bangsa. Jadi, setiap pihak yang berkepentingan dalam melindungi HaKI harus menunjukkan usaha secara proaktif.Rekomendasi: Bagi pemerintah: Untuk konten pengetahuan /informasi yang bermanfaat tetapi memiliki hak cipta, pemerinta sebaiknya membeli hak cipta atau lisensinya dan kemudian membagikan konten tersebut kepada masyarakat secara gratis. Pemerintah diharapkan membuat program edukasi yang memacu kreativitas dan sekaligus yang mampi mengarahkan masyarakat untuk menghargai hasil karya/kreasi orang lain. Program tersebut juga perlu untuk mendorong terciptanya masyakat yang produktif. Ketika membuat sebuah program atau kebijakan tertentu, maka pemerintah direkomendasikan untuk mengajak peran serta aktif dari komunitas lokal setempat.Bagi aktivis informasi: Peran aktivis informasi di sini adalah melakukan upaya melalui kegiatan online maupun offlinenya untuk mendorong pemerintah untuk makin peduli dengan HaKI. Aktivis informasi diminta untuk menghargai HaKI termasuk dalam soal konten digital. Selain itu Perlu semakin luas diinformasikan kepada publik tentang konsep berbagi pakai secara fair, seperti yang diatur dalam model lisensi Creative Commons.-Kelompok 4 : Information on Transparency (Informasi untuk Transparansi)Dasar Pemikiran: -    Peran publik dalam mengawasi pelaksanaan layanan publik oleh negara maupun swasta menjadi sedemikian diperlukan dewasa ini, ketika peran pemerintah menjadi tidak lagi kuat. -    Masih sangat banyak hal yang dapat menjadi tantangan/penghambat peran informasi untuk transparansi, semisal dari UU yang berlaku, tindakan intimidasi, pengaburan/pembelokan informasi hingga ketidakpedulian masyarakat. -    Internet menawarkan medium seperti blog, wiki, ushaidi dan media sosial untuk menjembatani kepentingan informasi atas transparansi, dan di sisi lain memungkinkan penyampai informasi untuk tetap melindungi privasinya.Isi Diskusi: Kelompok 4 melakukan diskusi tentang transparansi dan privasi, Tidak mudah mencari keseimbangan antara privasi vs transparansi. Isu privasi menjadi penting ketika data diri seseorang tersebar luas  sehingga disalahgunakan misalnya oleh sales kartu kredit, penawaran pinjaman finansial, dsb. Selain sosialisasi aturan yang terkait dengan privasi ini belum  banyak, juga ada masalah dengan ketidaktahuan dan/atau ketidakpedulian publik pada isu ini. Adapun dari isu transparansi, tak banyak pula anggota masyarakat yang paham tentang mekanisme dan prosedur permintaan informasi publik. Tantangan lain adalah belum tersedianya contoh fasilitas yang dapat diakses oleh masyarakat maupun pejabat publik untuk mempelajari dan/atau membiasakan diri memahami pentingnya peran keterbukaan informasi publik. Contoh informasi yang sebenarnya menjadi hak publik untuk mendapatkan informasinya misalnya aktivitas yang didanai oleh anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Dalam diskusi ini dibahas juga tentang akun anonim di internet kaitannya dengan kebebasan berinformasi. Anonimitas adalah salah satu hak yang mendasar ketika seseorang beraktifitas di Internet. Perlu disadari pentingnya ruang bagi anonimitas, sehingga dapat mengakomodasi kepentingan freedom of constraint (membebaskan diri dari hambatan) tapi dapat mengidentifikasi freedom of responsibility (melarikan diri dari tanggungjawab). LBH Pers dan/atau Dewan Pers siap membantu advokasi hukum bagi aktivis informasi (blogger, citizen journalist, pengguna media sosial) yang menjalankan kegiatan jurnalistik. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa blogger bukanlah pihak yang dilindungi oleh UU Pokok Pers. Sehingga walaupun ada advokasi hukum tersebut, UU ITE pasal 27 ayat 3 dapat disalahgunakan (abuse) untuk menjebloskan blogger ke dalam sel tahanan oleh pihak yang berkuasa dan merasa nama baik (reputasi)nya dicemarkan dalam sebuah postingan di blog.Rekomendasi: Bagi pemerintah: Perlu adanya sosialisasi yang lebih intensif namun mudah dipahami mengenai aturan/perundangan yang terkait dengan hal privasi dan transparansi, misalnya tentang UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Pemerintah diminta untuk semakin transparan dalam hal informasi yang terkait dengan mekanisme, pengelolaan dan implementasi sumber dayanya. Aturan tentang privasi dan keterbukaan informasi perlu segera diwujudkan dan dijalankan.Bagi aktivis informasi: Masyarakat perlu didorong untuk menemukan keseimbangan antara konsep privasi dan transparansi menggunakan muatan dan nilai-nilai kearifan lokal dalam kultur komunal. Sehingga konsep privasi yang terwujud nantinya adalah yang khas Indonesia. Aktivis informasi juga perlu mendorong bangkitnya kesadaran dan optimisme publik dan pemerintah pada peran pentingnya transparansi informasi publik, Salah satu caranya adalah dengan terus memproduksi konten positif melalui media warga atau media alternatif yang diharapkan bisa mengimbangi informasi dari media mainstream. Dengan demikian selain dapat turut menyampaikan banyak informasi, publik juga bisa mendorong transparansi dari pemerintah ketika membuat kebijakan. Dalam hal lain, aktivis informasi diharapkan dapat menjaga privasi nara sumber (ataupun privasi dirinya), jika memang ingin menyampaikan suatu informasi yang sensitif. Blogger harus sanggup bertanggungjawab atas konten yang dipostingnya, jika memang suatu saat terjadi gugatan. Untuk itu perlu adanya kesadaran blogger untuk mengikuti kaidah jurnalistik ketika melakukan peran sebagai citizen journalist (pewartawarga). Aktivis informasi di Internet, diminta untuk melek hukum, misalnya secara proaktif dengan membaca dan mempelajari UU ITE, UU Penyiaran, UU Pokok Pers.#FGD2012-Nara Sumber:Mariam F Barata – Direktur APTEL KemkominfoLokman Tsui – Google HongKongAyu Oktariani – Indonesian AIDS CoallitionShita Laksmi – HIVOS IndonesiaYogi Arief Nugraha – Kompas TVDandhy Dwi Laksono – AJI PusatPeserta Diskusi:Antok Suryaden / Yogyakarta / Joglo AbangAgung Mahadarma / Jakarta / BloggerAhmad Nasir / Yogyakarta / Jalin MerapiAhmad Zaky / Medan / Akber MedanArchibald Meizid Arif / Yogyakarta / BloggerArman Satari / Makassar / Relawan TIKAhmad Sirajudin / Surabaya / Akber SurabayaAsmari / Semarang / dotSemarangBoni Pujianto / Jakarta / KemkominfoBradley Marlissa / Depok / Blogger DepokDandhy Dwi Laksono / Jakarta / AJIDewi Hajar / Balikpapan / Akber BalikpapanDimas Prasetyo Muharam / Depok / Mitra NetraDonny B.U. / Jakarta / ICT WatchDwi Wahyudi / Pontianak / Blogger BorneoEdi Prasetyo / Bogor / Blogger BogorFajar Eridianto / Bandung / BlogVaganzaFauzil Haqqi / Malang / Blogger NgalamFiona Suwana / Jakarta / LSPRFransiskus Xaverius Kobepa / Jayapura / Blogger PapuaFrenavit Putra / Surabaya / Blogger TPCHabib Almascatie / Ambon / Blogger ArumbaiHeru Tjatur / Jakarta / DetikcomIndah Juli / Bekasi / Blogger BekasiIndriyatno Banyumurti / Bogor / Relawan TIKIrayani Queency Putri / Jakarta / Blogger NusantaraKarel Anderson / Jakarta / DetikCommunityMerry Magdalena / Jakarta / ICT WatchMuhammad Fadli / Samarinda / Blogger SamarindaNicholas Sihotang / Medan / Blogger SumutNike Andaru / Palembang / Blogger WongKitoNovianto Raharjo / Surabaya / Blogger TPCNurwahyu Alamsyah / Madura / Blogger Plat-MPradna Paramitha / Banyumas / Blogger BanyumasPua Devi Indriastuty Pharmanatara / Ende / Blogger FlobamoraPurwaka a.k.a BloentankPoer / Solo / Blogger BengawanR.A. Nunuk P / Bekasi / Blogger BekasiSaid Salim / Samarinda / Relawan TIKSherly Haristya / Jakarta / LSPRHari Insani Putra / Banjarmasin / Blogger Kayuh BaimbaiSyaifulloh / Makassar / Blogger Angging MammiriT. Raja Muda Dharma Bentara / Aceh / Blogger AcehTaufik Asmara / Pekanbaru / Blogger BertuahYana Noviadi / Tasikmalaya / Suara KomunitasYogi Arief Nugraha / Jakarta / Kompas TVYossy Suparyo / Yogyakarta / Combine Institute-Postingan lain dari peserta #FGD2012:http://wahyualam.com/fgd-2012-day-1-mulai-korean-it-volunteer-sampai-film-lini-massa/http://wahyualam.com/fgd2012-day-2-bebas-berekspresi-menggunakan-shuttle-bus/http://wahyualam.com/fgd2012-day-2-diversity-information/http://mahadarmaworld.wordpress.com/2012/07/11/asimetrik-informasi-ham-kebebasan-berpendapat-bagi-kelompok-marjinalhttp://kayuhbaimbai.org/asep-jangan-takut-menyebarkan-informasi.phphttp://kayuhbaimbai.org/fgd-camp-2012-tujuh-aksi-komunitas-blogger-kaitannya-dalam-jurnalisme-warga.phphttp://www.iac.or.id/menjadi-bagian-untuk-perubahan-di-linimassa2/http://www.kartunet.com/reportase-fgd-kebebasan-berekspresi-internetsehat-7-juli-2012-dimasmuharam-1412http://www.bloggerntt.org/2012/07/08/fgd2012-internetsehat-day-1/http://www.bloggerntt.org/2012/07/08/fgd2012-internetsehat-day-2/http://www.bloggerntt.org/2012/07/09/fgd2012-internetsehat-day-3/http://nichpakaich.net/berita/fgd2012-part-1#more-2307http://nichpakaich.net/berita/fgd2012-part-2http://dotsemarang.blogdetik.com/index.php/2012/07/10/focus-group-discussion-fgd-2012/http://www.bloggerborneo.com/indonesian-fgd-camp-2012-i-am-cominghttp://nike.rasyid.net/2012/07/linimassa-2-ketika-orang-biasa-melakukan-hal-yang-luar-biasa.htmlhttp://ictwatch.com/internetsehat/2012/07/09/blog-diakui-sebagai-domain-jurnalistik-asal/-Baca pula hasil FGD 2011!Acara didukung oleh: XL Axiata, Google, APJII, Hivos, Ford Foundation, IDC Indonesia dan ICT Watch.-[Tim Internet Sehat]foto: helid.digicollection.orgArtikel Terkait:Blog Diakui sebagai Ranah Jurnalistik, Asal…Ikuti Seminar Internasional: Kebebasan Berekspresi di Internet!Komunitas Berkumpul dan Berdiskusi Demi Etika dan Atur Diri SendiriYuk Bukber Sambil Diskusi Internet + Nobar Film #linimassa2 !Kick Off Kegiatan ICT Watch / Internet Sehat 2012Ikuti Kelas OpenBTS, Online Media, Click Activism & ICT4Women di #JMR2012 (usai)Hasil Focus Group Discussion (FGD) dan Draf Acuan Etika OnlineIkuti Workshop dan Diskusi “Berekspresi di Internet ” (usai)Sejarah Awal Gerakan Internet Sehat di IndonesiaMengkhawatirkan, Kebebasan Berekspresi Online Negara ASEAN Baca Selanjutnya …Topik yang behubunganNo Related Post Tweet (function(){var s=document.createElement('SCRIPT'),s1=document.getElementsByTagName('SCRIPT')[0];s.type='text/javascript';s.async=true;s.src='http://widgets.digg.com/buttons.js';s1.parentNode.insertBefore(s,s1);})(); Share on Tumblr POSTED IN » Science About the author: Rino Muhamad Nur View all posts by Rino Muhamad Nur/**/var DsqLocal={'trackbacks':[],'trackback_url':"http://blog.stkipsurya.ac.id/draft-rekomendasi-hasil-fgd2012.html/trackback"};/**/STKIP Surya Member Blog Artikel TerbaruGoogle Hasilkan 1,5 juta ton CO2, Facebook Cuma 285.000 August 7, 2012, No Comments0 [Internet Sehat] Facebook lebih ramah lingkungan lho ketimbang Google. Setidaknya demikian menurut Greenpeace. Bagaimana…Draft Rekomendasi Hasil #FGD2012 August 7, 2012, No Comments0 Draft Rekomendasi Hasil #FGD2012 (Jakarta, 7 Juli 2012) Tema: Information Diversity (Keberagaman Informasi), Information…5 Hal Buruk Saat Berponsel August 7, 2012, No Comments0 [Internet Sehat ] Ponsel sudah jadi bagian tak terpisahkan dari hidup di masa kini….Bergabung dengan kami di STKIP Surya Facebook TagBlog Guru STKIP Matematika Gasing Olimpiade Fisika Prof. Yohanes Surya STKIP Surya Surya Research teknologi […]

Berikan Komentar

%d bloggers like this: