Disebutkan dalam buku Sejarah Rempah yang ditulis Jack Turner, rempah-rempah memberi pengaruh terhadap tokoh-tokoh penting sehingga dalam sejarah mereka akhirnya dikenal sebagai pengubah sejarah dunia,  mulai Yesus Kristus, Ibnu Sina sampai gadis-gadis Spice Girls. Dari Firaun Ramses hingga Marco Polo, Christopher Columbus, Vasco da Gama, Zheng He, Ferdinand Magellan, dan Francis Drake.

***

Semua beburu rempah. Termasuk Christopher Colombus yang akhirnya “kesasar” di Amerika. Begitu juga dengan Marco Polo, bangsa Belanda, Inggris dan perusahaan-perusahaan Perancis, Portugis, Spanyol, Italia, Arab, para pelaut serta pedagang lainnya. Mereka semuanya tertarik akan kisah rempah-rempah seperti cengkih dan pala.

Lupakan sebentar gemulat sejarah rempah. Gemuruh namanya sudah dikenal dunia sejak dahulu.

Bagaimana dengan manusia di zaman sekarang?

Jangan sampai rempah hanya sekadar nama yang ditemukan di buku-buku sejarah anak sekolah. Tentu kita tidak menginginkan rempah sekadar menjadi bumbu makanan mayarakat menengah ke bawah. Sejatinya, Gemah Rempah bisa dikembalikan. Menjadi Mahakarya Indonesia yang “menjajah” dunia di masa sekarang.

rempah

Rempah-rempah Nusantara – Foto: sejarah.kompasiana.com

Dahulu rempah hanya ditemukan di daerah timur Indonesia seperti Maluku dan Sulawesi. Kini Sumatera menjadi salah satu penghasil rempah terbanyak bagi negeri ini. Ke depan semua wilayah di Indonesia harus bisa swasembada rempah-rempah.

Pada tahun 2015, nilai tanaman rempah dunia diperkirakan  mencapai 85,73 miliar dolar AS dengan volume perdagangan 51,76 ribu ton. Tentu ini jumlah yang sangat fantastis. Pemerintah Indonesia pun menargetkan ekspor tanaman rempah di tahun tersebut sebanyak 7,72 miliar dolar AS.

Menteri Pertanian pernah mengatakan, “Nilai ekspor tanaman rempah dari Indonesia diperkirakan mencapai 9 persen dari nilai perdagangan dunia,”

Sederet produk tanaman rempah lain juga tengah disiapkan untuk komoditas ekspor. Produk tersebut diantaranya lada, vanila, pala, kayu manis, cengkeh, kunyit dan jahe. Di dalam negeri, bahan-bahan ini lazim ditemui sebagai bahan baku industri jamu, farmasi, kosmetik dan rokok.

Prospek pemasukan rempah Indonesia ke pasar dunia cukup positif. Hal ini salah satunya dilihat dari pertumbuhan konsumsi rempah dunia yang mencapai 10,2 persen tiap tahunnya. Pada tahun 2010, nilai ekspor rempah-rempah Indonesia mencapai 211,910  juta dolar AS.

Amerika Serikat masih menjadi tujuan eskpor tanaman rempah terbesar. Sebanyak 50 persen rempah Indonesia disalurkan ke negara Barack Obama, sisanya baru ke Uni Eropa. Ekspor rempah ke Amerika Serikat mencapai 121,177 juta dolar AS.

Timbul pertanyaan dalam diri saya. Selama ini rempah hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah. Seharusnya bisa dikemas dengan menarik berstrandar internasional. Saya yakin jika dibumbuhi sedikit inovasi dan kreativitas anak muda zaman sekarang, rempah bisa menjadi komoditas eskpor yang nilainya bisa melebihi capaian pemerintah selama ini.

Pemikiran senada ternyata diungkapan oleh Pak Bondan Winarso. Menurutnya, “Kalau kita melihat dari segi industri, seharusnya ada leadership untuk memerintahkan penghentian ekspor bahan mentah dan mengganti dengan ekspor bahan jadi yang sudah di dalam kemasan. Harus sudah ada merek. Kalaupun mereknya dari luar negeri tidak apa-apa, tetapi di bagian bawahnya akan di tulis buatan daerah tertentu di Indonesia,”

Ini peluang bisnis bagi pegiat UKM di Indonesia. Komoditas rempah yang besar, harus diberi sedikit sentuhan ajaib pada kemasannya, hal ini akan membuat harganya jauh lebih mahal. Meski belum semahal dahulu, setidaknya kita bisa mengembalikan kejayaan rempah-rempah di masa sekarang.

http://www.leo.com.hk/uploads/images/editor/source/UK-Packaging-Products-Liquor-Toiletry.jpg

Ke depannya kita harus bsisa melihat bubuk cengkih dengan kemasan menarik seperti ini. Foto: leo.com.hk

Jahe cair/bubuk akan terasa lebih elegan dengan dikemas dalam botol mewah. Foto: bestdesignoptions.com

Orang Eropa pun akan membeli temulawak cair, jika kemasannya berbentuk unik. Foto: neatdesigns.net

Ini bukan hot coffee latte, tetapi beras kencur hangat di dalamnya. Cocok untuk dibawa saat naik gunung. Foto: inhabitat.com

Harga merica bubuk akan naik dua kali lipat jika dikemas menarik. Foto: creative-inspiration.co.uk

Selain menarik, akan enak dipandang dan dipanjang di dapur atau di outlet/toko penjual rempah

 

Packaging. Ya, hanya dengan dikemas menarik  dan berstandar tinggi, rempah akan menjadi komoditas berbeda di dunia. Packaging akan memberikan dampak positif. Sehingga, rempah tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah. Tetapi juga bisa disajikan dan dijual dalam bentuk bahan jadi, tentu packaging yang berbeda.

Tentu rempah bisa menjadi produk yang membuat Indonesia “menjajah” dunia. Menjadi negara pengekspor rempah terbesar di dunia. Dengan begitu semakin banyak UKM-UKM di Indonesia yang melebarkan sayap bisnisnya ke mancanegara. Salah satunya, jika UKM berani menyajikan Rempah dalam bentuk Kedai Rempah.

Sebuah kedai dengan konsep Nusantara. Menyediakan minuman khas Nusantara yang terbuat dari rempah-rempah. Jika dikelola dengan baik. Packaging berstandart tinggi, serta dengan manajemen yang benar, saya yakin Kedai Rempah dapat menyaingi kedai kopi sebesar Starbucks asal negeri paman Sam. Dan Kedai Rempah pun akan mudah ditemukan di semua belahan dunia.

Harus optimis, bahwa Indonesia bisa “menjajah” dunia dengan rempah-rempah!

ALAM

ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

6 Comments

mawi wijna · October 24, 2014 at 14:07

Ini semacam menyajikan statistik rempah atau review produk ya Mas?

Soalnya dirimu menyinggung-nyinggung rempah tapi saya malah fokusnya melihat botol-botol cantik itu, hehehe. Mungkin dirimu bisa memaparkan Mas, rempah-rempah di Indonesia itu apa saja yang jarang orang tahu semisal kapulaga gitu?

kharis · October 25, 2014 at 11:59

Rempah-rempah itu jadi bahan buruan para pedagang dari eropa, lalu mereka datang berbondong dan menjajah Indonesia. Saya suka cara orang eropa mengemas rempah rempah, botolnya unik. Dan pastinya khasiat rempah-rempah tiada duanya.

Salam kenal Kak Nurwahyu Alamsyah

denz · April 25, 2015 at 10:09

Bila ekspor berikut kemasan, apalagi bentuk botol gelas, masalahnya adalah mahal di ongkos kirimnya mas, si bule akan berpikir berkali2. Mereka juga bisa membuat kemasan di sana, yang ongkos produksinya jauh lebih kecil dari ongkir, segi kreatif bukan dari kemasan, ekspor barang jadi bisa bentuk kosmetik berbahan dasar rempah.

    Wahyu Alam · April 25, 2015 at 12:01

    Oke, mas.
    Terimakasih masukannya. :))

      Agus jaenudin · September 12, 2017 at 14:07

      Saya lagi berusaha memenuhi standar yang diterapkan jerman untuk komoditi cengkeh dan pala. Tapi masih kurang referensi dan contoh kemasan. Mohon info tambahan tentang aturan eropa dan amerika tentang rempah terkait standar quality dan packaging. Salam sukses

Terima Kasih, Mahakarya Indonesia! | matriphe! · November 14, 2014 at 14:05

[…] gagasan jalur rempah menjadi warisan dunia UNESCO pemenang writing competition minggu pertama, tulisan Wahyu Alam tentang menjajah dunia dengan mengemas ulang rempah-rempah pemenang writing competition minggu kedua, dan tulisan Terry Endroputro tentang kekayaan pala di […]

Berikan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

*/
%d bloggers like this: