Mulai Paris sampai Miniatur Surga

Selesai seminar di Universitas Nusantara PGRI Kediri, istirahat sejenak di rumah mas Fajar. Malam baru saja tiba, bangunan yang menyerupai Arc de Triomphe di Paris mengusik pikiranku untuk segera mengunjunginya. Bangunan itu diberi nama Simpang Lima Gumul (SLG).

Tadi pagi, aku sudah melewati SLG ini. Tapi pemandangan di malam hari begitu memukau. Bias lampu memberikan kesan mewah pada bangunan ini. Halaman parkir terlihat penuh malam ini. Benar saja, malam ini ternyata malam minggu. SLG ini dipenuhi remaja dengan berbagai kesibukan. Satu lagi kemegahan bangunan di Indonesia. Setelah Monas, Suramadu, sekarang SLG.

Selalu ada kesan istimewa memang saat mengunjungi pertama kali suatu tempat. Begitu juga dengan SLG. Untuk mencapai kawasan ini, terlebih dahulu harus melewati ruang bawah tanah sama seperti di Monas. Tapi tidak ada karcis masuk, hanya membayar parkir motor seribu rupiah.

Area ini dilengkapi dengan WiFi, tidak heran jika terlihat beberapa anak muda berkumpul menyalakan laptop meski hanya sekadar untuk berselancar di dunia maya.

Kesan bersih dan tertip begitu dominan. Tertip, ya karena tidak ada penjual makanan di areal SLG. Para pedagang disediakan tempat khusus seperti food court sederhana, 100 M dari SLG. Satu lagi bangunan keren di Indonesia.

***

Malam itu, SLG menjadi tempat terakhir sebelum istirahat.

Minggu Pagi, du hari sebelum 2013. Mas Fajar berjanji mengajakku berkeliling wisata di Kediri. Satu tempat yang harus dikunjungi kalau ke Kediri adalah Gunung Kelud.

30 km lebih dari rumah mas Fajar. Sekitar 90 menit perjalanan dari Pare menuju kawasan wisata gunung Kelud. Perjalanan menuju tempat ini begitu menyejukkan. Mataku beberapa kali terkantuk-kantuk bahkan sempat beberapa detik terlelap. Ada sesuatu perasaan begitu nyaman menuju tempat ini. Cuaca tidak terlalu dingin, juga tidak terlalu panas. Sejuk.

Naik, naik ke puncak gunung..
Tinggi-tinggi sekali…
Kiri kanan, kulihat saja banyak pohon cemara..

Mungkin, lagu itu yang sangat cocok untuk menggambarkan suasana perjalanan menuju gunung Kelud. Mas Fajar menerangkan bahwa dulunya ada kawah, dan sekarang kawah itu berganti menjadi anak gunung Kelud. Aku masih belum bisa membayangkan bagaiman proses perubahan dari kawah menjadi gunung. Ah, lihat saja nanti.

Saat mendekati area wisata, sebenarnya sudah ada beberapa spot pemandangan yang luar biasa. Tetapi perjalanan masih jauh. Lanjuuut!

Pintu gerbang wisata sudah terlihat, karcis masuk sudah dibayar, begitu juga dengan parkir. Motor ditinggalkan dan kamera disiapkan. Aku mencoba rileks menghirup udara segera gunung Kelud. Untunglah, hari ini masih bisa menghirup udara segara di kawasan ini. Kelopak mata tidak berhenti berputar-putar seperti radar menyoroti beberapa titik yang sangat rugi jika dipandangi.

Terowongan menjadi pembuka petualangan kami di gunung Kelud.

Kemudian aku disajikan pemandangan luar biasa, ada gundukan tanah bercampur bebatuan yang warnanya berbeda dari lingkungan sekitarnya. Hitam bercampur abu-abu ditengah hamparan hijaunya pemandangan. Ternyata itulah wajah anak gunung Kelud. Dalam pikiranku, aku masih belum percaya kalau dulunya itu adalah kawah yang berisi air, biasanya tempat melakukan ritual budaya bagi masyarakat di sekitar Kelud. Beberapa foto yang tersedia menggambarkan saat dahulu ada ritual di kawah, airnya hijau dan indah sekali kawah itu. Terus bagaimana proses munculnya anak gunung itu? aku bukan ahli vulkanologi, tapi anak gunung itu mirip seperti pasir bercampur batu dan tanah yang ditumpahkan oleh truk.

Ternyata prosesnya seperti ini:

Itu berarti pertumbuhannya mencapai 30 meter dalam dua minggu atau sekitar 2,5 meter setiap hari. Sebab, pada akhir Januari lalu, ketinggian anak gunung yang tumbuh dari dasar danau kawah itu masih 210 meter. “Kami belum tahu sampai berapa ketinggian kubah lava ini pada akhirnya. Sebab, setiap hari terus bertambah,” Kubah lava itu kali pertama terdeteksi pada 4 Nopember 2007. Awalnya hanya berupa noktah hitam di tengah danau kawan disertai kepulan asap putih yang tebal. Lalu, dari hari ke hari, noktah hitam tersebut semakin besar dan akhirnya membentuk kubah lava. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas dalam dapur magma yang berada di bawah kawah tak mampu menjebol sumbat lava. Karena itu, Kelud tak jadi meletus dan muncullah anak gunung tersebut.

 

Beberapa foto detik-detik kejadian fenomena berubahnya danau kawah menjadi anak gunung semakin membuatku percaya, bahwa Allah itu ada. Secara ilmu vulkanologi pasti ada nama proses pembentukan anak gunung itu, tetapi pikiranku masih belum menerima. Seolah tidak percaya. Itulah kekuasaan Illahi yang terkadang tidak bisa dinalar dengan akar pikiran manusia.

Puncak gunung Kelud, kemudian berendam air panas yang bercampur belerang menjadi kegiatan yang memang sudah diterjemahkan dalam sebuah tulisan panjang lebar. Lebih baik, datang dan nikmati pesona Indonesia dari dekat!

Indonesia, negeri tercinta ini, terimakasih, satu lagi tempat yang membuatku semakin mencintaimu. Semakin bangga mengaku bahwa aku ini orang Indonesia! Negeri yang permai dan kaya akan semua hal. Indonesia, I love you!

 

ALAM

3 thoughts on “Mulai Paris sampai Miniatur Surga

  1. ini bun,, bukti kekuasaan Allah d GUnung Kelud , dulu tp..
    pas mw meletus hilang,, 🙁
    pdhl ni salah 1 pesona n daya tarik k sana,,

  2. Allah selalu memberikan isyarat kepada para umat-Nya untuk selalu beriman dan bertakwa, semoga musibah kali ini tidak mengakibatkan korban jiwa. Aminnn…

Berikan Komentar