wahyualam.com keelung harbour

Pelabuhan Keelung. Mirip Kalianget di Sumenep.

Ketika GPS ponsel gagal beri petunjuk. Maka GPS manual adalah solusinya. GPS: Gunakan Penduduk Sekitar.

Sesuai petunjuk Google Maps dan poster di terminal, kami harus naik bis 971. Setelah sekian lama, akhirnya bis datang, kami naik dan menunjukkan tempat yang ingin kami kunjungi ke sopir.

Aku tunjukkan nama tempat yang ditulis dengan bahasa Cina di ponsel. Aku tunjukkan aplikasi Google Maps ke sopir. Sayang, dengan bahasa isyarat, sopir mengindikasikan kalau bis ini tidak menuju Bitou. Kami turun dengan penuh kebingungan.

Padahal informasi ini berasal dari Google Maps. Apa iya, riset dan developer Google salah ketik nama bis. Ngga mungkin. Kami turun dan mencoba tetap tenang. Ketika GPS ponsel gagal beri petunjuk. Maka GPS manual adalah solusinya. GPS: Gunakan Penduduk Sekitar.

Kami tanya ke satu orang lagi, mereka membenarkan untuk menaiki bis 971.

Kami semakin penasaran. Maka dari itu, kami harus menunggu bis 971 yang kedua datang. Sambil menunggu aku dan Saide melihat semua rute bis dan melihat berbagai alternatif. Terminal Fulong, Ruifang, dan Shuinandong mendadak familiar di kepala. Satu persatu kami cari lokasinya di Google Maps. Shuinandong paling dekat letaknya dengan Bitou. Tetapi rute yang paling populer adalah Ruifang. Banyak bis dengan kode berbeda yang menuju Ruifang.

wahyualam.com keelung bis maps

Keelung Bus Map. Ruifang tujuannya, Bitou tujuan utama.

Aku siapkan rute yang lain, jika bis 971 ini gagal. Rencana A gagal, maka masih ada rencana B, C, D sampai Z. Yang jelas, kami harus sampai di Bitou. Kaki kami sudah melangkah jauh hingga ke Keelung. Maka tidak ada kata lain selain bisa melihat kawasan Bitou yang katanya memukai itu. Berbagai alternatif perjalanan pun sudah dipersiapkan.

Setelah setengah jam menunggu, bis 971 kembali datang. Kami sangat gembira dengan datangnya bis tersebut. Aku segera meloncat ke dalam bis, sejurus kemudian aku tunjukkan nama di Google Maps ke pak sopir.

“Mei you, mei you!” dengan tegas pak sopir menggeleng. Bis ini tidak melintas ke Bitou. Kami harus kecewa dua kali.

Oke, lupakan bis 971. Saatnya move on ke bis yang lain. Karena bis bukan tentang 971 saja. Masih banyak cara menuju Roma, eh menuju Bitou.

Kami tidak mau kalah, kami akhirnya putuskan untuk naik bis 788, alternatif bis lain menuju Bitou, meski kami harus berpindah bis lagi di Riufang nantinya. Bis 788 terlihat lebih besar dan bagus. Itulah mengapa kami tertarik ikut bis ini.

Saat di dalam bis, cuaca semakin mendingin. Meski pintu dan jendela bis sudah tertutup rapat, tetapi tetap saja ada udara yang masuk. Matahari sama sekali tidak terlihat. Tidak terasa jam tangan menunjukkan sudah pukul 16.30. Sedangkn kami masih berada di dalam bis. Selai itu, masih menyisakan satu rute lagi menuju Bitou.

Sedikit terhibur dengan suasana pegunungan yang terlihat di sisi kanan dan kiri perjalanan. Tidak seperti di Taipei, agak sulit menemukan informasi rute bis di Keelung. Kami harus mengingat-ingat, kalau kami harus turun di Riufang.

Hari sudah menggelap saat kami turun di station Riufang. Kami berjalan mencari orang yang bisa ditanyai. Pilihan kami jatuh kepada polisi dan sopir taksi. Kami ditunjukkan bis untuk ke Bitou dan diminta untuk menunggu.

Bis yang kami tuju tak kunjung datang. Kami buta lokasi, sedangkan waktu sudah semakin gelap.

Kami sempat larut dalam keheningan. Kami berpikir segala kemungkinan.

Logika kami pun berjalan: meski kita sampai ke Bitou, lantas apa yang mau kita lihat jika suasana sudah gelap. Kami juga harus harus memikirkan transportasi pulang. Apakah masih tersedia bis atau kereta kembali ke Taipei. Jika tidak, kemana kita harus menginap.

Setelah mempertimbangkan segalah hal, kami putuskan untuk balik kanan. Kami buka Google Maps, ternyata kami berada di dekat stasiun kereta api Ruifang. Semoga ada kereta menuju Taipei.

Kami berjalan menuju stasiun sambil berdoa. Kami melangkah ditemani cuaca sore yang semakin dingin.

Begitu tanya ke pusat informasi pengunjung, kereta ke Taipei akan berangkat dua menit lagi. Seontak kami berlari sambil berterima kasih ke petugas, kami tempelkan easy card, sekian dolar berpindah dan kami berlari menuju platform A2. Benar saja kereta yang akan membawa kami ke Taipei segera berangkat.

Kereta bergerak, suasana penuh sesak. Tetapi kami masin bersyukur bisa pulang. Jika tidak, kami bakal menjadi gelandangan karena kami tahu di sini tak ada penginapan. Bukannya banyak hotel? Bukan, penginapan yang kami maksud adalah Masjid!

wahyualam.com at shongsan

Akhirnya, sampai di Songshan MRT station. Kalau sudah ketemu MRT, berarti jalan pulang tingga sedikit lagi

Bitou, tunggu kami, besok kami akan kembali menemuimu!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar