Makam Sunan Muria dan Sunan Kudus

Makam Sunan Muria dan Sunan Kudus | Foto: R. Triyanto Saputra

Jum’at malam bis bergerak dari Demak menuju kota di baratnya, Kudus. Rombongan kami merasa sangat senang bisa berkunjung ke Jawa Tengah. Sesuatu yang jarang sekali dilakukan orang Madura yang tinggal di desa.

Sesampai parkis bis Sunan Kudus, kami harus menaiki ojek dengan biaya delapan ribu rupiah menuju area makam Sunan Kudus. Sunan yang terkenal sebagai panglima perang dan gagah berani. Masjid Sunan Kudus juga berbeda dengan masjid-masjid yang lain. Masjid yang bernama Masjid Menara ini salah satu bangunannya mirip dengan pura/candi. Hal ini disengaja oleh Sunan Kudus untuk menarik perhatian masyarakat Kudus yang dulunya lebih banyak beragama Hindu dan Budha.

Sempat membaca artikel di internet tentang kisah Sunan Kudus membuatku bangga sekali bisa sampai di makamnya. Sunan Kudus menurutku mempunyai seribu akal untuk menyebarkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat yang beraga Hindu dan Budha. Salah satu Sunan yang paling cerdas di antaranya Wali Songo yang lain.

Sekitar pukul sepuluh malam rombongan sampai di depan masjid Menara. Sayang, waktu kami datang menara masjid yang lebih mirip pura/candi itu sedang direnovasi sehingga dipenuhi dengan kayu bambu.

Namun kesan sangat berbeda aku rasakan, ketika memasuki area pemakaman yang berada di samping Masjid. Aku lebih merasa berada di masa kerajaan Majapahit. Bangunan yang aku lihat kebanyakan terbuat dari bata merah yang tersusun rapi. Mulai tembok pembatas makam dan masjid hingga yang menutupi makam sunan Kudus semuanya tersusun dari bata merah. Mungkin karena malam hari, aku merasakan kesan yang mendalam seperti ini. Apalagi ketika sudah berada di dekat makam sunan Kudus yang dikurung oleh tembok dan kain putih bersih. Lampu yang ada di area makam bukanlah lampu seperti biasanya yang ada dir umah, melainkan menggunakan lampu yang lebih mirip dengan penerangan di jaman kerajaan. Benar-benar seperti berada di masa lalu.

Setelah membaca sholawat dan tahlil di makam sunan Kudus, kamera yang aku pegang tak berhenti mengabadikan setiap detail lekukan bangunan di sekitar makam sunan Kudus. Aku sangat merekomendasikan jika ingin berkunjung dan berziarah ke makam Sunan Kudus lebih baik datang pada malam hari. Suasananya lebih berkesan dan khusyu’ daripada siang hari.

Dari Kudus, kami bergerak ke arah utara. Bis yang kami tumpangi serasa membelah malam. Udara dingin menyeruak sesekali ketika kernet membuka kaca bis. Laju bis semakin lama semakin pelan. Tanjakan demi tanjakan dilewati. Semakin lama tanjakan semakin tajam. Aku tidak kaget karena menurut GPS ponsel pintarku, Sunan Muria berada di puncak bukit Muria. Wajar saja jika bis yang kami tumpangi berjalan lebih pelan dari biasanya. Gigi rodanya hanya bergerak di angka satu dan dua saja.

Kami yang berada di dalam bis merasa sangat kuatir dengan jalanan yang menikung dan menanjak sangat curam. Salah satu anggota dhiba’an di dalam bis menginstruksikan untuk bersholawat karena jalanan akan terus menanjak. Suasana menjadi hening dan seperti sangat genting. Mulut kami semuanya berbisik melantunkan bacaan shalawat Nabi. Sopir dengan tenang mengendalikan bis menanjaki bukit Muria. Kami sangat khusyu’ pada malam itu. Begitu indah rasanya berada di suasana seperti itu. Berada di sekiling orang sholeh dan sedang menjalani wisata hati.

Setelah terus menanjak, akhirnya bis mulai bergerak dengan menurun, hingga turunan curam terlihat di depan mata. Semua penumpang di dalamnya bertasbih. Turunan itu adalah turunan terakhir sebelum akhirnya bis berdiam. Parkir.

Udara berubah menjadi begitu dingin ketika keluar dari bis. Aku sudah bersiap dengan dua jaket yang kukenakan. Selamat datang di bukit Muria. Aku banyak mendengar dari cerita orang yang sudah pernah sampai di sunan Muria, bahwa kita harus menaiki bukit untuk bisa sampai di makam sunan Muria. Tiga kali lipat daripada bukit Geger di Bangkalan. Atau lima kali lipat dari Bukit Giri di Gresik.

Kami tiba di Muria setengah jam sebelum tepat tengah malam. Kami rencana akan bermalam di tempat ini. Setelah disepakati, akhirnya kami semua mendaki ke makam sunan Muria. Aku memulai menaiki tangga demi tangga dengan Toni dan Edi, dua kawanku yang masih muda. Kami berjalan pelan-pelan. Meski sebenarnya bisa mengikuti ojek untuk bisa sampai di atas area makam, kami memilih untuk berjalan kaki saja. Hanya beberapa orang yang sudah lanjut usia yang menaiki ojek.

Aku merasakan sangat kelelahan. Tas di punggung dan tas kecil yang ada di pundakku menambah berat proses menaiki tangga demi tangga. Kiri-kanan, kami hanya bisa melihat toko-toko yang menjual aneka makanan, oleh-oleh hingga souvenir khas Muria. Meski sudah dini hari masih banyak yang berjualan.

Kami bertiga akhirnya bertemu dengan rombongan yang lain. Mereka sedang beristirahat kelelahan. Butir keringat terlihat deras berjatuhan dari dahi setiap orang. Bahkan ada peserta rombongan cewek yang mau menyerah. Dengan nafas tersengal-sengal, dia ingin berhenti dan istirahat saja, tidak mau melanjutkan perjalanan ke atas. Aku memberinya semangat. Kapanlagi kita bisa ziarah ke makam sunan Muria. Agar tujuan kita lengkap, wali songo. Bukan wali delapan atau wali tujuh. Apalagi ini adalah setengah perjalanan. Sedikit lagi kita akan sampai di ujung perjalanan ini.

Satu demi satu anak tangga kita lewati. Beberapa mili liter air aku minum untuk membasahi tenggorokan yang kering. Meski sering bermain futsal, ini capainya lima kali lipat bermain futsal dua kali lima belas menit.

Tepat satu jam setelah menaiki tangga demi tangga, akhirnya kami sampai di puncak. Di area makam sunan Muria. Setelah beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk berziarah terlebih dahulu kemudian beristirahat.

Jam tanganku menunjukkan 01.20 wib ketika berada di area makam. Meski begitu, masih banyak peziarah yang lain juga sedang membaca tahlil dan Alquran di dekat makam sunan Muria atau Raden Umar Said, adalah putra Sunan Kalijaga

Sebagian rombongan memilih turun bukit dan tidur di dalam bis. Aku beberapa teman memilih istirahat di masjid. Aku pribadi ingin bisa sholat Subuh berjema’ah di masjid Sunan Muria yang terletak di atas bukit ini. Kami tidur berselimutkan sarung cadangan yang kami bawa. Keramik masjid serasa seperti kulkas. Dingin. Hanya sejam kami tidur, bunyi tilawah dari speaker masjid mengagetkan kami.

Aku mengambil air wudlu yang lebih mirip seperti air es. Tetapi rasa dingin ini tidak menyuruti semangatku untuk bisa sholat Subuh berjema’ah. Bersama puluhan jema’ah lain yang memenuhi masjid kami bersujud kepada Allah di Subuh ini. Sungguh nikmat dan khusyu’ rasanya.

Usai sholat, kami langsung turun bukit. Teman-teman di bawah sudah menunggu. Kami harus segera kembali ke Jawa Timur agar pulangnya tidak molor.

Bis membawa kami yang kecapaian ke Jawa Timur. Masih tersisa dua wali besar lagi: Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Perasaanku sangat senang karena bisa sholat berjema’ah di masjid-masjid para Wali. Subhanallah!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar