Pintu masuk sunan Gunung Jati (Foto: R.Triyanto Saputra)

Pintu masuk sunan Gunung Jati (Foto: R.Triyanto Saputra)

Sepiring nasi pecel dengan rasa aneh habis aku santap bersama Madoel, temanku. Pagi buta begini dimanfaatkan peserta yang lain untuk buang hajat dan mandi bersiap sholat Subuh.

Aku dan Madoel terpisah dengan rombongan yang sedang sibuk mandi. Kami berdua ngga tahu mau kemana, hanya mengikuti langkah orang. Madoel memilih ke toilet. Aku ingin sholat berjema’ah Subuh di masjid Sunan Gunung Jati. Kapan lagi bisa berjemaah di masjid Sunan Gunung Jati yang berada di Cirebon ini. Beberapa orang kembali karena tidak mengetahui di mana letak masjidnya. Meski suara merdu tilawah terdengar keras dari toa masjid. Aku mencari sumber suara. Meski masih gelap, aku mencoba beranikan diri mengikuti petunjuk pedagang yang berjualan di sekitar makam.

Aku melewati jalanan kecil. Di samping gang sempit ini terdapat banyak pengemis. Mereka sedang nyaman dengan mimpinya berbaris di pinggir gang kecil ini.

Masjid sunan Gunung Jati berada di tengah-tengah pemukiman padat penduduk. Karena di depan dan di sampingnya adalah rumah-rumah warga. Segera aku membasahi muka yang musam ini dengan air suci wudlu. Sambil menunggu Adzan aku berdzikir seraya memandang heran ornamen masjid ini.

Aku mempercayai bahwa setiap masjid punya kekuatan magis tersendiri. Kekuatan itu terlihat dari ornamen yang tiada duanya. Tembok masjid ini tertempel piring-piring antik seperti yang biasa ada di musium. Aku baru ingat kalau Sunan Gunung Jati pernah beristrikan orang Cina dan keramik yang terpasang di masjid ini adalah keramik cari Cina. Aku juga baru ingat dan sadar jika masjid ini mempunyai tujuh tangga. Aku belum tahu apa makna yang terkandung dalam masjid ini. Hanya saja, aku merasakan daya magis luar biasa di masjid ini. Kesan tua dan klasik menambah merinding bulu kuduku saat Adzan berkumandang. Beberapa peziarah yang tertidur segera bergegas ambil wudlu. Sholat.

Awalnya aku duduk dan berdzikir di shaf keempat. Saat Adzan, orang di depanku menoleh ke aku dan mempersilahkan untuk maju ke shaf di depannya dengan begitu ramah. Aku sempat terkaget dan hanya mengangguk sambil tersenyum. Ngga tahu apa maksudnya. Kenapa aku diminta maju ke baris di depan orang itu. Padahal sebenarnya ia bisa saja maju sendiri ke shaf kedua atau pertama. Ah, lupakan. Anggap saja, dia tuan rumah yang begitu ramah. Akhirnya, aku maju ke shaf kedua dan sholat berjema’ah Subuh.

Usai sholat, sambil berdzikir aku menoleh ke belakang, berharap ada teman rombongan dari Madura yang sholat di sini. Ternyata ngga ada satu pun yang sholat. Aku berpikir mereka masih mandi. Aku berdiam saja di masjid ini sambil menunggu teman-teman yang lain mandi dan sholat di Mushola yang banyak bertebaran di area parkir bis.

Surat Yusuf menemaniku saat menunggu di Masjid. Tanpa terasa waktu sudah bergerak ke 5.20 pagi. Aku bergegas dan beranjak dari masjid ke makam.

Benar saja, semua rombongan baru saja memasuki area makam. Aku larut dan berdoa bersama-sama rombongan yang lain. Tidak lupa aku mengabadikan beberapa momen di area makam Sunan Gunung Jati. Makam Sunan Gunung Jati lah yang terkesan masih seperti kerajaan. Para petugas makam memakai pakaian adat Jawa seperti kerajaan jaman dulu. Persis seperti yang ada di film favorit bapakku: Kian Santang.

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullahu, putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Syekh Jamaluddin Akba. Inilah satu-satunya makam wali di Jawa Barat yang paling ramai dikunjungi. Kawasan makam Sunan Gunung Jati terletak di desa Astana, kecamatan Cirebon Utara, sekitar 6 km dari Kota Cirebon yang dilintasi jalur Cirebon-Indramayu.

***

Matahari pagi menarik kami ke arah timur. Menempuh perjalanan 13 jam dari Cirebon menuju Demak, Jawa Tengah. Sebelum ke makam sunan Kalijaga, kami berkunjung ke Masjid Agung Demak. Kami sholat maghrib dan Isya di masjid yang disebut salah satu yang tertua di Indonesia.

Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama (wali) yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan Walisongo. Pendiri masjid ini diperkirakan adalah Raden Patah, yaitu raja pertama dari Kesultanan Demak sekitar abad ke-15 Masehi.

Raden Patah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi gambar serupa bulus. Ini merupakan candra sengkala memet, dengan arti Sarira Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1 (satu), 4 kaki berarti angka 4 (empat), badan bulus berarti angka 0 (nol), ekor bulus berarti angka 1 (satu). Dari simbol ini diperkirakan Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.

Masjid ini mempunyai bangunan-bangunan induk dan serambi. Bangunan induk memiliki empat tiang utama yang disebut saka guru. Salah satu dari tiang utama tersebut konon berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel, sebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedang sebelah timur laut merupakan sumbangan Sunan Kalijaga. Bangunan serambi merupakan bangunan terbuka. Atapnya berbentuk limas yang ditopang delapan tiang yang disebut Saka Majapahit. Atap limas Masjid terdiri dari tiga bagian yang menggambarkan Iman Islam, dan Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, mengandung candra sengkala, yang dapat dibaca Naga Mulat Salira Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban – Maka nikmat Allah mana yang engkau dustai.

Alhamdulillah, aku begitu senang hari ini bisa berkunjung dan sholat di masjid para wali. Tadi pagi aku menjadi satu-satu orang di rombongan yang sholat di masjid Sunan Gunung Jati, sekarang, aku bahagia karena bisa berjema’ah bersama rombongan sholat di masjid agung Demak.

Kami mengakhiri kunjungan ke masjid agung Demak dengan membaca tahlil dan doa di makam Raden Fatah dan keluarganya yang tepat berada di belakang masjid.

Dari masjid Demak, kami menuju makan Sunan Kalijaga yang letaknya tidak jauh dari masjid agung Demak. Butuh waktu sekitar 15 menit menggunakan bis besar menuju area parkir makam Sunan Kalijaga.

Makam Sunan Kalijaga terletak di tengah kompleks pemakaman Desa Ngadilangu yang dilingkari dinding dengan pintu gerbang makam. Area makam Sunan Kalijaga di dalam Kota Demak berjarak sekitar 3 KM dari Masjid Agung Demak. Sunan Kalijaga atau Raden Said adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Ia adalah murid Sunan Bonang.

Kisah tentang pengabdian kepada gurunya dengan menjaga kali selama bertahun-tahun mengantarkan aku dan rombongan khusyu’ membaca sholawat dan tahlil di depan makam sunan Kalijaga.

Malam terus cepat berjalan. Sunan Kudus dan sunan Muria adalah tujuan kami berikutnya sebelum kembali ke Jawa Timur.

 


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

Berikan Komentar