Aku lahir di Madura. Berdosa sekali rasanya jika belum merasakan nikmatnya warisan kuliner Madura. Dimulai dari ujung timur Madura petualangan itu dimulai. Sumenep yang lebih kukenal dengan pantainya, ternyata menyimpan warisan kuliner Madura yang luar biasa. Kaldu Kokot Boggu’, Gettas, hingga kue Apen adalah secuil warisan dari tangan-tangan leluhur Madura.

Aku mendapatkan mention dari Om Banyumurti, blogger kuliner ternama di Indonesia. Sebuah mention itu akhirnya memperkenalkanku dengan ahli kuliner Nusantara bernama Arie Parikesit. Ia bersama Warisan Kuliner, timnya berencana akan mengekplorasi makanan Madura. Aku dipilihnya untuk menemani selama di Madura. Petualangan ini akan dimulai Senin pagi. Dan aku, sebagai local fixer berkewajiban menunjukkan tempat-tempat kuliner di sepanjang Bangkalan hingga Sumenep.
Senin pagi yang begitu cerah, mobil Xenia berplat L parkir di pom bensin Kamal. Disitulah aku berkenalan dengan Mas Arie dan temannya.

Hari ini, kita akan memulai perjalanan menuju ujung timur pulau garam dengan menunaikan ibadah sarapan terlebih dahulu di warung bebek Sinjay. Bagi mereka, ini pertama kalinya. Bagiku, ini terlalu mainstream, karena siapa yang ngga mengenal bebek Sinjay ini.

Xenia abu-abu itu melesat jauh ke timur. Aku sudah melihat Selat Madura. Ini artinya aku sudah berada di Camplong, Sampang. Sebentar lagi Pamekasan dan lanjut ke Sumenep.Setidaknya  butuh waktu empat jam dari Bangkalan menuju Desa Nambakor, Saronggi, Sumenep. Aku sampai di tempat ini lagi, meski baru kemarin sore kembali ke Bangkalan.

Desa dengan seribu kincir angin ini merupakan destinasi pertama kita menyusuri warisan kuliner Madura. Aku bawa tim ke rumahnya Agung, teman blogger Plat-M. Keluarga Agung mengajari kami bagaimana membuat Apen khas Nambakor dan Gettas. Makanan yang terakhir ini salah satu favoritku ketika berkunjung ke Sumenep. Senang sekali bisa melihat bagaimana pembuatan Gettas yang rasanya sangat manis itu.

https://twitter.com/wahyualam/status/478467702244114432
https://twitter.com/wahyualam/status/478470573442355200
Aku kurang pintar mendeskripsikan bagaimana rasa setiap makanan. Aku hanya punya dua nilai untuk sebuah masakan: enak dan enak sekali.

Mendekati Maghrib, tim diajak ke rumah makan Kartini. Kami datang beberapa detik sebelum kumandang Adzan. Karyawan sudah menutup pintunya ketika aku kejar untuk memesan makanan dan meliputnya. Memang, sebuah papan menjelaskan hal unik yang mungkin ngga ada di daerah lain. Papan itu bertulis: TUTUP WAKTU SHOLAT!

https://twitter.com/wahyualam/status/478482950019751936
https://twitter.com/wahyualam/status/478510049875087361

Cakee dan nasi campur menjadi menu yang kita icip di RM. Kartini. Perjalanan kami lanjutkan memburu kaldu kokot. Sayang di jalan M. Wahidin sudah habis. Kami memburu makanan khas Sumenep hingga ke kota pelabuhan, Kalianget. Sepertinya kita belum beruntung, di sini juga sedang tidak berjualan karena tukang masaknya masuk rumah sakit.

Kami terpaksa kembali ke kota.

Dibantu Mas Dedy, ketua RT Plat-M Sumenep, kita diajak icip rujak cingur Madura. Tempatnya agak susah digambarkan karena harus memasuki gang kecil. Menu terakhir yang kita berhasil mencobanya adalah Soto Madura Asli. Letaknya di jalan Diponegoro, hanya berjualan pada malam hari. Warungnya sederhana dan gelap, kurang penerangan, meski begitu, ramai sekali!

Kami harus menginap untuk berburu Kaldu Kokot esok hari. Hotel C1 menjadi tempat aku dan tim numpang tidur.

Pagi-pagi kami menuju pasar, tapi melewati jalan Diponegoro kami berhenti. Kami tertarik orang berjualan pecel yang sudah ramai di pagi hari. Usai sarapan, kami meneruskan ke daerah Bangkal. Disana tim mencicipi jajanan khas Sumenep, Apen Sumenep dan korket. Ngga lama, kami meneruskan perjalanan memburu makanan utama yang paling diburu: Kaldu kokot.

https://twitter.com/wahyualam/status/478695410731454465
https://twitter.com/wahyualam/status/478698549870215168
https://twitter.com/wahyualam/status/478701763004866560
https://twitter.com/wahyualam/status/478702373125509120
https://twitter.com/wahyualam/status/478703133829251074
https://twitter.com/wahyualam/status/478704963825057792
https://twitter.com/wahyualam/status/478709765325877248
https://twitter.com/wahyualam/status/478710373541875713
https://twitter.com/wahyualam/status/478712804556283904

Sebelum melanjutkan ke Pamekasan, tim datang ke Pasar Anon Lama, letaknya berada di belakang DPRD Sumenep.
Di Pasar, kita icip-icip jajanan pasar khas Sumenep. Yang paling unik adalah Goggu’ dengan minumannya, Pokka’. Pokka’ adalah softdrink-nya Sumenep. Rasanya unik, dan aku ngga tahu terbuat dari bahan apa saja. Ketika meminumnya, rasa hangat langsung menjalar di sekujur tenggorokan.

https://twitter.com/wahyualam/status/478725889723609089
https://twitter.com/wahyualam/status/478726390775156736
https://twitter.com/wahyualam/status/478735720144592896
https://twitter.com/wahyualam/status/478736164430438400
https://twitter.com/wahyualam/status/478729991706771456

Selesai dari pasar, Xenia abu-abu meluncur ke kabupaten di barat Sumenep, Pamekasan. Menempuh perjalanan 45 menit kita sudah sampai di kota Pamekasan. Di sana, kita sudah ditunggu dua orang blogger Plat-M Pamekasan.

**

Note: Jika gambar di twitter tidak tampil sempurna, silahkan refresh, atau tekan F5 pada keyboard Anda!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

2 Comments

Umar Fadil · June 27, 2014 at 12:54

Keren…
Di pamekasan apa saja yang dinikmati..?

    Wahyu Alam · June 29, 2014 at 21:25

    Ada nase Jejjen dan nase Tenggeng

Berikan Komentar

%d bloggers like this: