Begini Toh Rasanya Naik Kereta Eksekutif

argo bromo anggrek
Argo Bromo Anggrek — sumber: wikimedia.org

Saya sering pergi ke Jakarta. Beberapa jenis transportasi Surabaya – Jakarta sudah dicoba. Mulai dari burung besi hingga kereta api. Hanya bis dan kereta api kelas eksekutif yang belum pernah.

Ada kesempatan ke Jakarta lagi, akhirnya saya tertarik untuk menggunakan kereta api kelas eksekutif. Selain harganya lebih murah dari pesawat, sensasi melintasi daratan dengan kelas VIP menjadi hal yang menarik untuk dicoba. Bagaimanapun, perkembangan transportasi di negeri ini menarik untuk dicoba. Untuk sekadar mencoba atau memang kebutuhan bepergian ke tempat yang bisa dijangkau kereta.

Akhir-akhir ini memang cukup menarik jika melihat perbaikan fasilitas dan pelayanan di dunia perkereta apian Indonesia. Untu kali ini, saya agak malas riset. Saya menulis artikel ini langsung di atas kereta api Argo Anggrek jurusan Pasar Turi, Surabaya – Jatinegara, Jakarta. Jadi ngga usah pakai data-data apa saja yang menjadi kemajuan kereta api. Ini catatan murni dari catatan saya selama beberapa kali naik kereta api.

Awal tahun 2009 menjadi pertama kali saya pergi ke Jakarta menggunakan kereta. Waktu itu menggunakan kelas bisnis. Kemudian akhir 2010, bersama-sama rombongan Plat-M saya pergi ke Jakarta lagi menggunakan kereta api ekonomi.

Ada banyak perbedaan naik kereta api di kelas bisnis dan dengan ekonomi. Bisnis kursinya lebih empuk, ada kipas angin, tidak banyak berhenti, tidak ada pedagang asongan yang masuk ke kereta api dan yang paling terasa tempat duduknya lebih empuk. Namun, waktu itu keduanya sama-sama telat berangkat. Hal ini seperti sudah menjadi hal yang lumrah di pelayanan publik di Indonesia: selalu telat!

Awal tahun 2013, saya berkesempatan pergi ke Bandung. Kali ini saya memilih kereta Harina kelas bisnis. Ada hal yang berbeda dan berubah 180 derajat di dalam stasiun kala itu. Sepanjang 2012 memang tidak pernah naik kereta api. Saya pun tidak tahu apa yang menjadi perubahan di dalam peraturan perkereta api-an di Indonesia.

Hal berbeda itu, sudah tidak ada laginya pedagang asongan di dalam stasiun Pasar Turi. Bersih. Entah apa yang membuat PT.KAI bisa mengubah keadaan ini. Rasa kaget saya belum berhenti. Waktu itu tertulis di tiket, kereta Harina dari Pasar Turi – Bandung akan berangkat jam 16.00 wib. Saya sudah ada di dalam kereta sejak jam 15.45 wib. Saya percaya akan berada di dalam gerbong yang berhenti dalam waktu lebih dari 20 menit. Lagi-lagi hal yang lumrah biasanya terjadi. Pasti telat.

Ternyata kepercayaan saya salah. Roda kereta bergerak tepat pada pukul 16.00 wib. Ngga lebih 30 menit dan ngga kurang semenit pun. Gila. Ini keren. Pelayanan publik di Indonesia bisa juga ontime loh. Ngga nyangka dan saya senyum-senyum sendiri.

Oiya, satu lagi. Awal 2013 kemarin, lagi-lagi bersama teman-teman Plat-M akan pergi ke Yogyakarta dengan kereta ekonomi. Sekarang kereta ekonomi juga ber-AC loh. Meski cara naruh AC-nya agak dipaksakan gitu. Tapi itu sudah ada kemajuan besar. Ada satu lagi yang berubah di kereta ekonomi Gaya Baru Malam ini, di setiap baris ada colokan listrik. Ini adalah kebutuhan no. 6 bagi kita semua setelah 4 sehat 5 sempurna. Ada yang lucu juga. Di depan saya duduk, ada kantong plastik di depannya. Mungkin ini hanya ada di Indonesia, kereta dengan fasilitas kantong plastik di setiap kursi. Fungsinya mungkin buat tempat sampah, tapi lebih sering buat penumpang amatir yang masih sering mabuk perjalanan. Hihihihi. Ayo, yang suka muntah di kereta ngaku!

Saya harus acungi empat jempol untuk PT. KAI yang mempunyai Dirut baru. Ngga tahu siapa namanya. Belum riset.

Nah. Sekarang, saya akan menulis pengalaman saya bagaimana naik kereta eksekutif.

Untuk urusan waktu, saya ngga kaget dan saya percaya pasti ontime. Ada yang berbeda jika naik kereta eksekutif. Saat kita akan naik, di samping gerbong-gerbong terdapat tiang yang bertuliskan gerbong 1, 2, 3 dan seterusnya di setiap depan pintu gerbong. Ini sepertinya tidak ada di kereta bisnis. Jadi penumpang sangat dimudahkan dengan adanya petunjuk arah ini.

Masuk ke dalam gerbong sedikit ada yang berbeda. Saya terkekeh sendiri. Maklum baru kali ini naik kereta eksekutif. Setiap satu baris biasanya jika di bisnis dan ekonomi ada lima orang. Jika di eksekutif hanya ada empat orang saja. Kursinya lebih empuk. Di depan dan di belakang terdapat televisi yang selalu memutar musik, iklan dan beberapa film menarik. Sayangnya di belakang ada televisi yang saya ngga tahu buat siapa. Kurang bermanfaat. Sepertinya malah televisinya yang nonton penumpang.

Di bawah kursi terdapat sandara untuk kaki nyaman sekali jika digunakan untuk istirahat. Eits, lupa ada sepasang bantal juga yang bisa dipeluk sewaktu-waktu. Colokan tentunya ada. Kalau di ekonomi setiap seat dua orang ada satu colokan. Kalau di eksekutif 1 orang 1 colokan broo..

Di samping televisi ada tulisan customer service on train – Andi Purnama 0821 349 21 xxx. Papan itu memudahkan kita jika ada permasalah atau ada yang ditanyakan terkait perjalanan. Untuk toilet juga lebih hanya. Setiap gerbong disediakan dua toilet bergaya seperti mall-mall gitu. Hanya saja sedikit bergoyang jika digunakan saat kereta dalam keadaan berjalan. Itu bikin sensasi sendiri.

Untuk keluar masuk gerbong, harus melewati pintu yang selalu ditutup. Pintunya rada canggih. Karena bukanya otomatis jika kita tekan tombolnya. Kayaknya akan keren jika otomatis tanpa harus pencet tombolnya. Oiya, di kereta eksekutif ini ada AC. Tetapi kadarnya ngga terlalu dingin. Jadi ngga perlu takut kedinginan. Ruangannya harum karena selalu ada pengharum ruangan yang otomatis nyemprotkan parfum wangi.

Kita ngga perlu takut kepanasan karena ada tirai atau kain penutup yang bisa menghalangi kita dari sinar matahari. Jika ingin ngelihat pemandangan tinggal dibuka saja. Kemudian, naik kereta eksekutif itu sudah seperti naik pesawat. Karena ada peringatan dari customer service via speaker tentang pemberhentian berikutnya dan dibacakan dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris.

Enaknya lagi naik eksekutif. Kereta ini ngga banyak berhenti. Jika dari Surabaya ke Jakarta. Kereta ini hanya berhenti di Semarang dan Cirebon. Saya mencatat kereta ini berhenti satu kali tidak pada tempatnya. Mungkin lagi menunggu kereta lain di depan yang lagi berhenti juga. Yang jelas ngga bakal berhenti karena ada lampu merah! Hihihihi…

Penumpang eksekutif dimanjakan dengan gerbong yang kedap suara. Jadi kita hanya sayup-sayup mendengar suara gesekan roda kereta dengan relnya. Semakin dimanjakan lagi, karena televisi yang menempel di tembok itu rajin memutarkan film-film keren. Sepanjang perjalanan Surabaya – Jakarta, saya sudah menonton tiga film keren yang saya belum tonton sebelumnya.

Filmnya ngga banyak iklan. Dari durasi 120 menit. Hanya dua kali iklannya. Iklannya juga bukan tentang caleg yang akan maju ke DPR. Tapi tentang kereta api, fasilitas dan pelayanannya. Ah, sangat dimanjakan pokoknya. Serasa berad di dalam bioskop berjalan.

Hanya saja, ngga dapat snack dan makan gratis. Kalau mau ada pramugri yang akan setia menawari snack dan makan, tapi harus membelinya.  *masa mau gratis terus tweeps…*

Semoga tulisan ini dibaca oleh Dirut PT. KAI. Ini adalah saran-saran saya untuk kereta eksekutif ini.

  1. Internet adalah kebutuhan, mungkin bisa suatu saat bisa dilengkapi dengan fasilitas Wifi gratis sepanjang perjalanan.
  2. Ada meja portabel untuk penumpang yang mau kerja pakai laptop.
  3. Mungkin akan lebih keren kalau dapat snack dan kopi gratis.
ALAM

24 thoughts on “Begini Toh Rasanya Naik Kereta Eksekutif

  1. Sekarang saya lebih sering berpergian naek kreta baik itu ekonomi maupun eksekutif ada beberapa hal yg membedakan kedua kereta ini terutama efek sosial, kalo di kereta eksekutif benar2 eksekutif it mean terkadang antara penumpang disebelahnya tidak saling kenal mungkin cuman sekedar say hai aja sebagai pelengkap karena biasanya mereka lebih prefer sleep than having chat it different when you try economic one, dikereta ini passanger lebih ramah saling ngobrol,kenalan bahkan sometimes bertukar makanan hehehee jadi kalo saya lebih memilih ekonomi karena bisa melihat orang2 dengan latar belakang yg berbeda hehehee

  2. jadi inget waktu msh pengangguran dulu, mau aksi ambil foto di dlm gerbong argo diusir sm petugasnya hahaha ….. sekarang malah bosan bolak balik naik ka argonya tuh, krn lbh cepat kalo naik pesawat wuzzzz ….

  3. Tivi dibelakang itu untuk mengakomodir kekurangan kereta api yang ga bisa putar balik kayak bis gan. Jadi kalo mau balik arah, kursi penumpang yang diputar. Dan dampaknya ya perlu 2 ribu depan belakang untuk kebutuhan ini

  4. 2.Ada meja portabel untuk penumpang yang mau kerja pakai laptop.

    —-> Bukannya ada meja lipat, yg di sandaran tangan dibuka, didalamnya ada meja lipat, trus dikeluarin deh jadi meja buat laptop.

  5. Di gerbong eksekutif disediakan selimut untuk perjalanan malam… Recommended banget buat perjalanan jauh..

  6. Wah kepingin sih ajak anak- anak traveling lumayan jauh naik kereta mungkin ke arah timur jawa. Tapi terkadang baru icip-icip kereta ke bogor aja mereka udh bosen didalam kereta. Mungkin akan lebih baik kl beberapa gerbong dibuat playground ya 😀 ~ Tetep Nikmati Kopi Indonesia

  7. Ngga enak lah lg enak2 tidur selimut nya di ambil sama pramugarinya…kurang ajar apa ngga tau kalo gua kedinginan

  8. mau tanya donkk..referensi mau naik harina dr surabaya ke semarang..ap bagus jg fasilits ky yg mas td sampaikan panjang kali lebarrrr…trimsss

Berikan Komentar