Berburu Salju: Mengitari Bukit Yangmingshan

Sisa-sisa salju di Yangmingshan
Sisa-sisa salju di Yangmingshan

Kabar tentang salju semerbak menghiasi pikiran mahasiswa dari negara-negara tropis. Semuanya berburu salju. Semua pasang foto dengan salju. Semuanya ganti foto profil di LINE, WhatApps, dan Facebook. Di televisi yang ada di kantin juga menyiarkan titik-titik yang akan kedatangan salju. Selain itu, musim dingin tahun ini kabarnya menjadi musim dingin dengan temperatur terendah sepanjang sejarah Taiwan.

Salju, salju dan tesis. Begitulah pikiran di kepalaku.

Pikiranku ternyata juga dirasakan oleh temanku Laddin. Tiba-tiba ia mengajak pergi ke Yangmingshan di Senin sore. Kebetulan aku baru saja selesai bimbingan ke Profesor, sehingga besok sudah sedikit longgar.

“Gila lu, apa? Ini kan sudah Senin. Mana ada saljunya. Sudah mencair lah!” selorohku ketika bertemu Laddin

“Masih ada. Tadi si Yuni ke sana. Ayolah kita cari salju, ada sedikit-sedikit ngga masalah, sing penting kita melihat salju dan berfoto. Belum tentu kita akan melihat salju lagi. Besok sudah cerah cuacanya. Apalagi kamu kan double degree. Tahun depan sudah di Indonesia!”

Aku tetap tidak mau karena sudah sore. Tetapi kalimat terakhir begitu menusuk. Akhirnya aku mengiyakan ajakan Laddin. Tetapi aku minta kalau berangkat ke Yangmingshan besok pagi-pagi. Berharap masih ada sisa-sisa salju yang menempel di ranting-ranting pohon. Hihihi. 😀

“Oke, deal!” jawab Laddin semangat!

***

IMG_20160126_081059

Dingin ternyata masih bisa mengalahkan semangat kami.

Karena kesiangan dan cuaca sangat dingin, maka kami baru keluar kampus sekitar 7.30, padahal rencana awal kita mau berangkat jam 6 pagi.

Pukul 8.10 kami sudah sampai di Jiantan. Begitu keluar stasiun MRT Jiantan. Kami tersenyum melihat gedung yang terpapar sinar matahari. Benar-benar cerah. Jaket kami yang berlapis tiga seperti salah digunakan di cuaca seperti ini.

IMG_20160126_081332

“Masih yakin ada salju?” tanyaku ke Laddin.

“Optimis lah bro, kita kan jadi orang harus optimis!”

“Oke. Berangkat!”

Dari Jiantan, kami ikut bis dengan Nomor I5/R5. Sekitar 30 menit kami sudah sampai di terminal terakhir menuju Yangmingshan. Kami harus naik bis yang lebih kecil dengan nomor 108 untuk mengantarkan kami ke Yangmingshan.

Matahari cerah tetapi cuaca masih dingin.

Roda bis mini 108 terus berputar. Semakin lama semakin menanjak. Sinar matahari lama-lama redup terhalang oleh tingginya pegunungan. Terlihat di pinggir jalan ada sampah berceceran. Terlihat sekali seperti ada aktivitas manusia dalam jumlah besar. Seperti yang terlihat di televisi, kemacetan membuat orang turun dari mobilnya dan menikmati bekal makanan mereka di pinggir jalan. Mungkin itu lah yang terjadi di ruas jalan ini kemarin.

Penumpang yang berdiri menunduk. Mereka yang awalnya diam tiba-tiba ngrumpi. Aku dan Laddin tidak paham mereka ngrumpi apa, tetapi dari bahasa tubuhnya, mereka sedang membicarakan salju. Benar saja, semakin lama kami melihat jalanan aspal basah. Sesekali terlihat tumpukan salju yang tersisa sedikit. Ini hari Selasa, tidak terbayang bagaimana di hari Minggu lalu yang merupakan puncak musim dingin.

Genjrengan gitar di lagunya Passenger yang berjudul the wrong direction sukses menggoyang-goyangkan kepalaku. Aku begitu menikmati perjalanan ini. Satu per satu penumpang turun di lokasi yang mereka mau. Matahari bersinar, cuaca dingin, sejuk dengan pemandangan yang hijau. Begitu permai. Lumayan untuk merenggang penat sejenak.

Tujuan kami adalah terminal terakhir. Kami tidak tahu berapa lama waktu untuk menuju terminal terakhir.

Kami bertanya ke salah satu penumpang.

“Yangmingshan is the last terminal. Now, we are in here and Yangmingshan terminal is here. So, eleven terminal again!”

Begitulah keterangan penumpang sambil menunjukkan rute yang tersedia di atas bis.

“Xièxiè!” Kami menjawab kompak.

Aku melanjutkan melihat lokasi di luar. Dari balik kaca bis aku melihat gugusan pegunungan di taman nasional ini. Cuaca yang cerah membuatku jarak pandang lebih luas. Kota Taipei bisa terlihat dari atas. Aku sudah terbiasa melihat gugusan gunung seperti ini di Indonesia. Tak ada bedanya. Hanya kemudahan tranportasi yang menjadi pembeda.

IMG_20160126_094656

Salah satu yang menarik perhatianku adalah bukit Teletubbies. Ketika bis berhenti di salah satu terminal, aku melihat bukit yang mirip dengan bukit Teletubbies dari kejauhan. Di atas bukit terdapat tanah lapang yang luas dengan rumput hijau. Gundukan tanah dengan hijau rerumputan semakin membuatnya mirip dengan bukit yang ada di serial Teletubbies.

Tapi kami yakin, di lokasi terakhir, akan lebih keren dari bukit Teletubbies ini. Lokasi terakhir artinya adalah lokasi tertinggi. Pasti tempat yang paling indah. Kami tidak turun, bis terus melanjutkan perjalanannya.

Bis terus melaju. Semakin lama cuaca cerah kembali terlihat. Kami sempat mengernyitkan dahi. Bagaimana kita bisa melihat salju jika suasana cerah seperti ini.

Kami sempat girang karena di atas ternyata ada 7Eleven dan Starbucks. Tidak sampai satu menit kami melihat 7Elevan dan Starbucks, bis kami berhenti. Kami terdiam, kami melongo, sepertinya kami kenal tempat ini, kami saling pandang, dan tertawa.

Kami kembali ke tempat semula!

Kami baru tersadar, kami kembali ke terminal pertama. Ingin rasanya tertawa sekeras-kerasnya. Lagu Passeger yang berjudul the wrong direction menjadi kenyataan. Sambil menulis catatan ini pun, aku masih tertawa. Kami baru tahu, kalau rute bis ini melingkar dan baru tahu jika terminal pertama dan terakhir itu bernama Terminal Yangmingshan!

Kami pergi sarapan ke 7Eleven, sebelum akhirnya mengulangi sekali lagi. Berharap masih bertemu salju.

ALAM

4 thoughts on “Berburu Salju: Mengitari Bukit Yangmingshan

Berikan Komentar