Menembus Dingin

5C

Malam telah melewati tiga perempat waktunya. Bukan, lebih tepatnya pagi sudah menghampiri Taipei. Waktu lebih dekat ke waktu sholat Subuh daripada Isya’. Ruangan lab ini tertutup rapat, namun udara dingin menelisir masuk lewat celah pintu. Kaki pun terasa dingin. Balutan kaus kaki dan sepatu tak cukup membendung dingin.

Aku buka aplikasi cuaca di komputer. Angka 5° C tertulis jelas di layar monitor. Itulah temperatur kota Taipei pagi ini (24/01). Stasiun televisi di kantin menyiarkan salju turun di beberapa titik. Berita daring juga memposting jika hari ini adalah temperatur terendah di Taiwan selama sepuluh tahun terakhir.

Aku harus bersyukur, karena di Taipe masih belum minus. Meskipun di beberapa tempat sudah diberitakan minus dan turun salju.

Ngga ada pilihan lain, aku menikmati momen ini dari dalam lab seorang diri. Jam tanganku terus berputar, begitu cepat. Tiba-tiba sudah menjelang Subuh. Aku putuskan untuk kembali ke dormitory. Di sana tersedia air panas untuk berwudhu.

Aku menidurkan komputer lab. Mematikan laptop. Membawa botol minum, kunci dorm, ponsel dan headset. Aku tinggalkan laptop di meja. Siang ini aku pergi ke lab lagi. Sekali lagi aku pastikan tidak ada barang yang terlupa untuk dibawa. Oh, dompet hampir saja terlupa.

Aku matikan lampu lab. Saat aku keluar untuk mengunci pintu. Udara dingin langsung menyambut. Aku perbaiki syal, aku tarik resleting jaket. Aku mulai berjalan menuju dormitory. Saat menuruni tangga, aku baru ingat. Pagi ini hujan turun, aku tidak bawa payung. Aku putuskan untuk naik lagi dan melewati jalur yang berbeda. Aku harus melewati gedung dan walking-track yang sudah diberikan atap.

Dari lab, aku harus pergi ke gedung Chemical Engineering (E2), kemudian turun ke lantai satu, dilanjutkan dengan berjalan di walking-track yang beratap. Sehingga aku tidak kehujakan hingga ke dormitory.

Aku memasang headset. Lagu Ordinary Love – U2 menenami perjalananku. Setelah turun tingga lapis tangga, aku kembali naik ke atas menuju gedung E2. Dari atas terlihat jika air hujan turun membasahi atap lorong penghubung gedung MA dan T2.

IMG_20151230_233453

Lorong yang menghubungkan T2 dan E2 berlihat begitu gelap. Tak satu pun manusia terlihat. Mungkin aku seorang diri di gedung ini. Beberapa jendela terbuka, cuaca dingin langsung menembus jaket. Aku kenakan hoodie yang berada di belakang. Aku perbaiki letak syal mematikan tidak ada udara yang masuk. Aku mempercepat langkah dan aku atur napas agar tubuh tidak kedinginan.

Aku tekan tombol ke bawah. Seketika pintu lift terbuka. Aku melangkah kaki masuk. Dari kaca yang tersedia di dalam lift, baru tersadar jika aku mirip petinju. Hoodie jaket yang terpasang di kepala dengan wajah kedinginan, persis seperti Muhammad Ali ketika mau berlaga.

Pintu lift terbuka. Aku sudah sampai di lantai dasar E2. Aku berjalan menuju pintu keluar. Semua pintu terkunci. Aku harus membuka kuncinya, cukup dengan menyentuhkan jari telunjuk ke hadapan sensor yang tersedia di dekat pintu, maka aku bisa menarik pintu dan keluar gedung.

Kini aku berada di walking-track yang beratap. Rintikan hujan terdengar jelas, aku buka headset. Tak ada suara apapun. Kecuali suara hujan dan gesekan sepatu cokelatku ke batu paving yang aku injak. Tanganku terasa membeku. Aku masukkan kedua tanganku ke dalam kantong jaket hoodie. Rasanya letak gedung E2 dan dormitory sekarang lebih jauh dari biasanya. Semakin lama udara dingin berhasil menembus jaket dan celana jeans yang aku kenakan.

Aku terus berjalan. Tak kulihat seorang pun yang berjalan. Aku benar-benar sendirian, menembus dingin dini hari di kampus. Jaket, syal dan celana jeans teryata ngga cukup untuk bertahan dari dinginnya hari ini. Saat aku bernapas dalam-dalam, maka aku merasa sedang menghirup udara yang tercampur mint. Dingin sekali.

Aku sudah sampai di gedung E2. Aku pasang headset lagi, lagu Pompeii dari Bastille menghiburkan. Aku terus berjalan hingga berada di depan pintu dorm. Aku tempelkan kartu mahasiswa di RFID reader untuk membuka pintunya.

Akhirnya aku sampai di dorm. Setidaknya udara dingin berkurang. Tetapi karena di dalam dorm tidak terdapat pemanas, kemudian beberapa jendela terbuka sehingga di dalam kamar tetap terasa dingin.

Beberapa hari ini dan selama sebulan ke depan, aku akan tinggal sendirian di kamar. Empat kawanku kembali ke Indonesia. Aku lepas syal dan jaket. Aku ambil wudhu dan menggelar sajadah. Air wudhu sukses membuatku kembali segar. Aku pakai kembali syal dan jaket hoodie, kemudian dilapisi jaket yang kedua. Begitu juga dengan kaus kaki. Aku harus pakai dua kaus kaki agar tidak kedinginan.

Aku pastikan semua jendela tertutup, meski begitu adanya exhaust fan di kamar membuat ada celah untuk udara masuk. Suasana kamar tetap dingin saat aku gelar sajadah.

Waktu Subuh masih sejam lagi. Aku habiskan dengan membaca Al-Qur’an. Menembus dingin hingga Subuh tiba.

Selamat pagi, Taipei!

ALAM

2 thoughts on “Menembus Dingin

  1. Cuaca yang sangat extrim. di Indonesia merasakan cuaca 12C sudah merasakan dingin banget. bahkan banyak dari kami yang sakit. sempat terkejut saat mendengar berita di taiwan terdapat beberapa orang meninggal karena cuaca extrim itu. semngat terus kak Wahyu.

Berikan Komentar