Dua Jam Menginap Hingga Kehabisan Kereta

Ini tentang dua cerita di akhir November. Menghadiri Kopdar Blogger di Solo dan ikut studi banding ke Yogyakarta.

Ibarat keluarga, Solo dan Yogyakarta adalah dua kota yang meminta untuk selalu dikunjungi. Ada ajakan untuk hadir di acara Kopdar Blogger di Rumah Blogger Indonesia, aku pun iya kan. Agenda ini sudah ada sejak bulan September. Baru di awal November ajakan untuk ikut studi banding ke Yogyakarta pun aku iya kan. Karena kedua kota ini ibarat saudara yang harus selalu dikunjungi. Meski April kemarin, aku sudah pergi ke Solo bersama istri. Cerita di Yogyakarta akan diceritakan di postingan terpisah. Sekarang, aku akan ngebahas yang di Solo terlebih dahulu.

Acara Kopdar Blogger berlangsung beberapa jam, acara ini diadakan di tengah Festival Media 2017. Ada banyak agenda menarik di Festival Media ini, namun aku ngga bisa hadir semuanya. Bahkan aku cuma hadir untuk acara Kopdar Blogger di Sabtu malam. Aku datang Sabtu pagi dan Minggu dini hari harus kembali ke Surabaya. Aku harus menghadiri pernikahan anggota keluarga.

Sesibuk apapun, mengikuti suatu acara sangat lah penting. Selain bisa mendapatkan pengalaman baru, teman baru, juga pasti akan mendapatkan pengetahuan yang baru juga. Event gratis pasti menjadi pilihan utama, tapi biasanya aku juga sering mantengin laptop untuk mencari tiket events termurah di bulan ini.

kopdar blogger solo frenavit wahyu alam

Aku tidak bisa menceritakan event Kopdar Blogger lebih lengkap. Intinya acaranya guyup, tanpa deadline tulisan, reuni blogger zaman old, ditemani banyak makanan dan Blontea. Untuk mengetahui apa saja acara Kopdar Blogger bisa membacanya di blog Om Dion ini.

Aku sempat ngga mengira kalau acara Kopdar Blogger 2017 ini difasilitasi hotel. Kami dipersilahkan check in Sabtu di waktu Maghrib untuk mandi dan naruh tas. Namun nyatanya aku menginap dua jam saja di hotel ini. Karena acara Kopdar Blogger berlangsung sampai tengah malam.

Dari acara, aku kembali ke hotel dan sempat terlelap setengah jam. Ngga bisa tidur lelap, khawatir ketinggalan kereta api. Maka jam dua pun aku bergegas dan pesan Gocar. Sejurus kemudian kami tiba di Stasiun Balapan Solo. Aku mengeryitkan dahi ketika melihat kereta Mutiara Selatan jurusan Surabaya ditunda 12 jam!

Untuk menyakinkan aku tanya ke petugas loket. Benar. Kereta harus berhenti karena ada longsor di Garut.

Andai kami datang 10 menit lebih cepat, kami dapat menumpang Argo Bromo Anggrek yang baru saja berangkat. Petugas juga memberikan alternatif Sancaka pagi dari Yogya. Namun aku ingin pagi sudah sampai Surabaya sehingga jam 9 bisa menghadiri pernikahan saudara.

Tak ada jalan lain, aku segera memutar ke stasiun. Aku pun naik taksi dari Stasiun Balapan Solo ke Terminal Tirtonadi. Aku merasa ini dekat sekali, namun tetap saja, aku harus membayar batas minimal taksi di Solo sebesar Rp25.000,-. Belakangan aku baru sadar kalau sebenarnya ada jembatan penyeberangan antara Stasiun Solo Balapan dan Terminal Tirtonadi.

Di Terminal, aku harus menunggu sekitar 30 menit untuk mendapatkan bis eksekutif Eka. Bis melaju agak lambat dari biasanya. Akibatnya aku sampai Surabaya pukul 09:30 dan disambut hujan lebat.

Fyuh, perjalanan yang melelahkan. Tapi aku ngga bisa langsung istirahat. Karena harus segera bergerak ke hotel Novotel untuk menghadiri kondangan, eh salah, untuk sekadar mengucapkan selamat. Karena resepsinya pun sudah usai.

Pelajaran pentingnya adalah jika ada acara yang berdempetan di beberapa kota, lebih baik ada satu yang ditinggalkan. Jika tidak, maka akan merasakan orang tersibuk di dunia. Mengejar waktu dari barat ke timur. Semoga bermanfaat!

ALAM

Berikan Komentar