“Hadiah” dari Sang Idola

Novel Ranah 3 Warna bersanding dengan Negeri 5 Menara ditemani tas hadiah dari Mas Fuadi

Sebuah novel dikeluarkan Pak Husni dari salah satu loker di Laboratorium tempat biasa aku dan teman-teman warga lab berkumpul. “Siapa yang mau pinjam, bawa saja!” Pak Husni menawarkan kepada warga lab yang sedang asyik browsing internet. Mbak Fenny menyambutnya dengan senang dan membalik-balik novel tersebut membaca tulisan di cover depan dan belakang.

Negeri 5 Menara, nama yang unik menurutku, dengan A. Fuadi tertulis indah sebagai penulis dari novel ini. Lingkaran hijau bertuliskan National Best Seller tertempel gagah di pojok kiri cover novel tersebut. Keinginanku membacanya harus tertunda karena teman warga Lab,  mbak Fenny ingin membacanya terlebih dahulu. Aku hanya bisa baca sinopsis novel tersebut di cover bagian belakang.

Setelah mbak Fenny selesai membaca, sekarang giliranku membacanya. Aku sudah sering baca buku, tapi sangat jarang menghatamkan buku dengan jumlah halaman lebih dari 300. Baru buku Harus Bisa! (buku kepemimpinan ala SBY) buku pertama yang berhasil aku selesaikan. Waktu masih SMP sempat pinjam novel Harry Potter dari salah seorang teman, tapi hanya sampai halaman 11 saja. Karena aku pesimis melihat tebalnya buku waktu itu.

Seperti biasanya, musik dari ponsel mengiringi setiap aku baca buku, kali ini aku buka lembar demi lembar novel Negeri 5 Menara, selalu ada kisah yang menarik dan membuat Aku ketagihan untuk terus membacanya halaman demi halaman. Andai saja libur kuliah, dengan kemampuan bacaku yang jelek mungkin hanya butuh tiga hari untuk membaca novel dengan 400 lebih halaman.

Ketika membaca salah satu judul yang menceritakan kekesalan Alif terhadap Ibunya sampai ia tidak mengirim surat dan marah kepada Ibunya kemudian Alif menyadari kalau kekesalan itu ternyata salah, Alifpun hanyut dalam syair Abu Nawas tentang sebuah pengakuan dosa yang dibaca ketika menjelang maghrib di Pondok Madani. Entah kebetulan atau tidak, di ponselku juga berderu lagu Haddad Alwi berjudul  Al-I’tirof. Aku benar-benar hanyut dalam cerita di novel ini. Semakin membaca semakin membuatku seolah bergabung dengan 6 orang sahibul menara di Pondok Modern Gontor, dan banyak sekali nilai-nilai kebaikan yang tertulis.

Setelah selesai membacanya, aku sudah tidak sabar menanti novel kelanjutannya yang berjudul Ranah 3 Warna. Berhari-hari aku mencari-cari tentang informasi tentang buku ini, aku ikuti twiit mas Fuadi lewat akun twitternya di @fuadi1, Aku download semua video tentang Negeri 5 Menara via youtube ketika diundang acara Kick Andy di Metro TV. Lewat video itulah aku pertama kali melihat wajah Mas Fuadi, dan pikiranku langsung teringat pada Alif (Tokoh utama). www.negeri5menara.com pun menjadi tempatku mencari informasi tentang buku kedua dari mas Fuadi. Ternyata 23 Januari 2011 dipilih sebagai tanggal diterbitkannya buku kedua dari Trilogi Negeri 5 Menara, yaitu Ranah 3 Warna.

Seperti biasa saat aku browsing internet, yang pertama di buka adalah social networking, email dan situs berita. Pada saat membaca situs berita aku membaca berita dengan menyisir dari atas ke bawah, dari kiri ke kanan, sampai akhirnya kursorku berhenti di sebuah kolom iklan yang bertuliskan Jadilah yang pertama membaca Ranah 3 Warna. tanpa disuruh telunjukku langsung mengklik iklan tersebut pada mouse sambil membayangkan kisah kelanjutan novel sebelumnya, membayangkan bagaimana perjuangan Alif ketika lulus dari pondok Madani. Formulir untuk membeli pre order novel ini sudah aku isi dengan lengkap, email konfirmasi sudah kudapat. Email yang menjelaskan berapa jumlah yang harus aku kirim via Bank.

Setelah ditambah ongkos kirim, ternyata harganya naik sekitar 15% dari harga sebelumnya. Padahal sudah dapat diskon 15%. Tapi aku beranggapan, dari pada uang dengan jumlah itu dikirim untuk  membeli novel itu di internet, lebih baik aku beli ke Surabaya sambil jalan-jalan ke Mall. Akhirnya aku urungkan niat untuk mengirimkan uang tersebut.

Tapi selang beberapa hari kemudian, ketika aku cek email di gmail ternyata ada email masuk yang bertuliskan kira-kira seperti ini : Pelanggan yang budiman: Kami telah menerima transfer Anda di rekening kami untuk pesanan dengan nomer PO #######. Barang akan kami proses untuk pengiriman. Terimakasih atas transfer yang telah dilakukan. Salam,..

Tambah kaget lagi waktu 3 hari menjelang Launching Novel kedua dari Trilogi Negara 5 Menara ini, waktu itu hari kamis 20 Januari 2011, aku dapat email lagi tentang pemberitahuan tentang ‘pembelian’ Novel ini bertuliskan

Nurwahyu Alamsyah yang baik,

Beberapa jam yang lalu kami menerima kabar bahwa pesanan nomer ########  telah lengkap dan berangkat ke tujuan. Gunakan kode ******** untuk melacak keberadaan barang Anda. Terimakasih atas pembelian di #########.Com. Selamat membaca.

Salam hangat,

Customer Services

Berhari-hari Aku membayangkan bagaimana kelanjutan cerita dari novel yang sudahku baca edisi sebelumnya, apa benar novel ini sudah dikirim?. Jangan-jangan cuma kesalahan system pada toko online tersebut. Aku tidak berani menelpon beberapa nomor telpon yang diberikan. Berbekal kode yang diberikan aku lacak via online barang yang sangat aku inginkan itu. Setelah di lacak ternyata barang sudah berada di Surabaya.

Perasaanku senang, tidak percaya, terkadang bercampur malu karena belum transfer uang kok sudah berharap novelnya datang. Barang sudah ada di Surabaya, berarti sudah dekat. Tinggal menyebrang selat Madura, novel sudah tiba di tempatku.

Perasaanku tambah penasaran ketika Mas Fuadi tampil di Apa Kabar Indonesia di TVONE sehari sebelum launching. Penjelasannya tentang Novel Ranah 3 Warna, menambah rasa penasaranku. Kapan ya  novel itu bisa dikirim ke rumahku?. Hampir setiap hari aku berharap ada orang yang mengantarkan bungkusan kecil berisi novel Ranah 3 Warna ke rumahku. Tapi ditunggu sampai 5 hari tidak juga datang. Padahal kalau dilihat lacakan di internet, barang sudah berstatus arrived at destination.

Rasa penasaranku sudah berada di ubun-ubun, akhirnya aku beranikan menelpon kantor salah satu perusahaan jasa pengiriman yang tertera di email. Kalau dilihat nomornya, pasti ini kantor Jakarta. Setelah di telpon ternyata barang sudah dikirim ke Surabaya. Berbekal nomor telpon kantor Surabaya yang diberikan oleh karyawan di kantor Jakarta, aku gunakan pulsa yang sedikit ini untuk menelpon kantor Surabaya. Jawabannya menyenangkan, bahwa barang suda dikirim ke Bangkalan. Kantor di Surabaya juga berbaik hati memberikan nomor telpon kantor cabang Bangkalan.

Dengan rasa senang, penasaran sambil membayangkan desain cover Ranah 3 Warna aku telpon kantor Bangkalan. Jawabannya kembali sangat menyenangkan, ternyata novel ‘kiriman gratis’ dari Mas Fuadi itu sudah berada di Bangkalan, sudah berada di tanah Madura. Kebetulan waktu itu aku sedang bantu ayah bekerja di Pasar Bangkalan, motor suzukiku langsung aku hidupkan meluncur ke kantor salah satu perusahaan jasa pengiriman barang kilat di Bangkalan. Bayangan akan cover Ranah 3 Warna kembali menghiasi sepanjang perjalananku menuju kota.

Rasanya lama sekali motor ini berlari, terasa sangat lambat karena aku begitu tidak sabar membaca novel ini. Sesampainya di sana, aku langsung bertanya. “Mbak mau ambil barang”. “Waduh Dek!, sudah tutup, orangnya baru saja ke Surabaya ngirim barang.” Jelasnya. “Kok jam segini sudah tutup?”, bantahku sambil melihat jam di ponsel. “Ia, karena orangnya ke Surabaya, dan Aku tidak berhak mengambil barang yang ada disini. Karena Aku bukan pegawainya” kata mbak berkurudung itu.

Aku terus memaksa agar mbak itu mau menyerahkan novel yang aku tunggu-tunggu, Setelah berjuang sangat heroik, akhirnya mbak itu dengan setengah hati membuka sebuah lemari yang tidak dikunci. Lemari tempat penyimpanan barang-barang kiriman dari luar kota. “Namanya siapa?” tanya si Mbak berkerudung sambil mencari barang-barang dengan rasa takut karena bukan haknya. “Nurwahyu Alamsyah” jawabku tidak sabar. Tiba-tiba mbaknya mengangkat bungkusan persegi panjang seukuran novel. “Ia, itu mbak. Aku sudah telpon orangnya tadi, kalau barangku sudah ada disini”. Jawabku sambil melihat bungkusan itu. Dan benar, ternyata bungkusan itu bertuliskan nama dan alamatku.

Dengan kegirangan aku menyerahkan KTP sebagai tanda bukti kalau itu kiriman Mas Fuadi buat aku. Tidak percaya rasanya mendapatkan novel gratis dari seorang idola baruku, Mas Ahmad Fuadi.

Novel Ranah 3 Warna bersanding dengan Negeri 5 Menara ditemani tas hadiah dari Mas Fuadi

Aku langsung tunjukan kiriman itu ke Ayahku yang sedang sibuk merakit power. Aku buka hati-hati bungkusannya, ada tas hitam dan novel yang sudah aku tunggu selama berminggu-minggu. Sesuai dengan pernyataan di twitter Mas Fuadi, yang memesan pre order akan mendapatkan tas hitam cantik bertuliskan Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna di balik sisinya. Aku dengan bangga menunjukkan itu ke Ayahku.

coretan tinta bertuliskan tanda tangan A.Fuadi


Setelah dibuka covernya, aku tambah jingkrak-jingkrak ketika melihat coretan tinta bertuliskan A.Fuadi. Ya, itu tanda tangan penulis novel ini Mas A.Fuadi. Aku merasa sangat beruntung sekali mendapat novel dan tanda tangan penulisnya gratis, aku anggap novel ini sebagai hadiah dari Mas Fuadi buat aku. Bukan karena kesalahan sistem. 🙂

Terima kasih Tuhan, terima kasih Mas Fuadi, terima kasih buat Pak Husni yang telah mengenalkanku dengan Novel Negeri 5 Menara, terima kasih buat yang mau mengirimkan buatku. 🙂

ALAM

9 thoughts on ““Hadiah” dari Sang Idola

Berikan Komentar