wahyualam baca Hatta

Ada berbeda terlihat di dalam kamar. Matahari menyemburatkan sinarnya masuk hingga ke dalam kamar C-125. Aku yang sedang membaca buku Hatta menoleh. Melihat sinar matahari yang bersinar terang seperti aku melihat makanan lezat.

Matahari sedang baik. Ia menunjukkan sinarnya di hari Minggu. Ia seperti mempersilahkanku keluar dari kamar untuk pertama kalinya dalam seminggu belakangan. Aku harus memanfaatkan momen ini. Sangat jarang matahari bersinar terang di musim dingin seperti ini.

Aku harus pergi keluar kampus. Setidaknya untuk mengganti suasana. Aku ingin mengatakan kepada langit bahwa hidup ini bukan hanya tentang kamar dan lab. Dua tempat favorit yang menjadi tempat bertapa saat dingin menyelimuti langit Taipei.

Seolah memberikan kejutan, sinar matahari datang begitu saja. Aku tidak mempunyai rencana apapun. Ketika mau keluar, aku masih belum ada rencana.

Aku mengingat-ingat bucket-list yang pernah aku tulis. Aku pilih lokasi yang dekat dengan kampus, sehingga tidak terlalu menempuh perjalanan yang panjang. Lokasi ini masih di Taipei, bernama Maokong.

Aku ingin merasakan sensasi bagaimana menaiki Gondola yang terkenal itu. Agar aku tak hanya melihat fotonya berkeliaran di warung kopi di Madura. Aku ingin naik kereta gantung. Di sana, aku akan mencari tempat yang nyaman untuk menghabiskan buku kedua biografi bung Hatta yang berjudul Dibuang dan Berjuang.

Aku bergegas.

Setelah sudah siap, aku melihat peta Taipei yang ada di kamar. Aku melihat jalur terdekat ke Taipei Zoo. Dari situlah, aku bisa naik Gondola menuju Maokong. Jalur termudah untuk menuju Maokong dari kampusku adalah naik YouBike ke Gongguan. Dari stasiun Gongguan naik MRT menuju Guting, kemudian kita pindah jalur MRT. Dari jalur hijau Xindian-Songshan, aku berpindah ke jalur merah Tamsui-Songshan. Di jalur merah aku harus turun di statiun Daan untuk berpindah jalur cokelat menuju Taipei Zoo.

Aku tak memperhatikan waktu berapa menit dari jalur hijau ke jalur merah kemudian berpindah lagi ke jalur cokelat. Aku sibuk dengan membaca buku Hatta di sepanjang perjalanan. Seperti biasa, tak lupa aku memasang headset untuk mendengarkan musik. Perjalanan kali ini, aku pilih Kenny Chesney sebagai playlist menemani perjalananku.

Ketika turun di Daan, aku harus berjalan cukup jauh dari biasanya, meski masih berada di kawasan MRT, aku perlu naik beberapa kali eskalator, menyeberang jembatan hingga sampai di jalur cokelat Wenhu line. Jenis kereta yang digunakan di jalur ini berbeda dari biasanya. Kereta ini tidak berada di dalam tanah, tetapi berjalan di atas jalan raya mirip seperti LRT (The Light Rail Transit) di Singapura.

metro taipei

Meski dekat dengan kampus, ini pertama kalinya, aku naik metro Taipei di jalur Wenhu line.

Aku tak perlu risau memikirkan harus turun di stasiun mana, karena Taipei Zoo adalah tujuan terakhir. Sehingga aku bisa melanjutkan membaca buku Hatta dengan khusyu’. Aku sesekali tergoda melihat ke arah luar jendela, melihat kereta ini meliuk-liuk di antara gedung-gedung tinggi di tengah kota Taipei. Jalur inilah yang sering aku lihat dari bawah saat bersepeda ke Taipei 101.

Kereta ini melaju lebih pelan dari kereta yang ada di bawah tanah. Sepertinya memang sengaja mengajak setiap penumpangnya untuk melihat kota Taipei dari atas rel. Untuk menaiki kereta ini, perlu naik ke atas stasiun yang berada di atas jalan raya utama. Kereta ini melintasi beberapa tempat penting di Taipei seperti bandara Songshan hingga berakhir di Taipei Nangang Exhibition Center.

Bacaanku sudah sampai di bab akhir. Kawasan perkotaan sudah berubah menjadi kawasan hijau. Dari atas kereta sudah terlihat tulisan Maokong Gondola, artinya aku akan segera sampai.

Aku tutup buku dan masukkan ke dalam tas. Tetap membiarkan headset mendengarkan lagu berjudul Summertime masih dari Kenny Chesney.

Viola, sebentar lagi aku akan naik kereta gantung Maokong Gondola!


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

6 Comments

Rozi · February 10, 2016 at 17:20

Saya punya buku tentang Bung Hatta yang diterbitkan oleh koran Tempo. Buku itu menarik karena mengulas tentang peran besar si Bung yang coba ditutup-tutupi oleh rezim Orde Baru.

Btw, kenapa fotonya cuma satu ya? :))

    Wahyu Alam · February 11, 2016 at 02:27

    Sudah ditambah fotonya. 🙂

Erna · February 11, 2016 at 01:48

Ceritanya hampir nyasar tapi terselamatkan.. Tapi ngeri juga ya naik kereta gantung.. Kalo aku pasti mikirnya yang aneh-aneh semacam pobia ketinggian gitu..

    Wahyu Alam · February 11, 2016 at 02:25

    Biar ngga phobia, berarti harus naik berkali-kali. Haha

rialyzara · February 13, 2016 at 15:01

Ini perginya beneran sendiri an? gak pake ditemenin temen ?
woo, tapi yakin sih, mas wahyu gak bakalan nyasar, soalnya mukanya udha kayak orang sana. #eh apa hubungannya ? hahaha

Seru btw bisa jalan2 begitu 😀

    Wahyu Alam · February 13, 2016 at 17:29

    Iya. Sendirian.
    Seru juga solo-traveling. Tunggu liputan pas naik Gondola-nya yak.

Berikan Komentar

%d bloggers like this: