Ada desiran yang tak bisa dituliskan setiap memasuki kawasan pondok pesantren. Aura ilmu-ilmu Islam seperti angin berhembus di sekitar bangunan mengelilingi pesantren. Aku datang ketika semua santri sibuk belajar di kelas. Hanya segelintir saja yang berkeliaran di area Pesantren Banyuanyar Pamekasan.

***

Aku tiba di Pamekasan pada Jum’at malam dan langsung melipir ke Hotel SMKN 3 Pamekasan. Rasanya capai sekali perjalanan ini. Dimulai dari rumah Surabaya, aku naik Gojek menuju Jalan Kedung Cowek untuk melanjutkan perjalanan ke Pamekasan menggunakan AKAS.

Tampilan depan hotel SMKN 3 Pamekasan. Tarif per malamnya 160 ribu (Agustus, 2018). Sudah ada tv cable, AC dan sarapan.

Sepertinya tidak banyak bis AKAS pada sore itu. Aku harus naik bis AKAS yang sudah dipenuhi penumpang. Rasanya sudah tidak ada tempat buat aku lagi. Aku hanya butuh dua langkah dan terhenti di tangga bis. Aku adalah orang terakhir yang berdiri di dekat pintu. Ketika pintu belakang bis ditutup langsung berhadapan dengan tas ranselku.

Agar tidak mabuk di perjalanan dan tidak mungkin rasanya berdiri sepanjang tiga jam perjalanan. Aku memilih untuk turun di Tangkel dan melanjutkan perjalanan ke Pamekasan menggunakan bis ELF.

Perjalanan yang sangat mengasyikkan, karena bis melaju tidak terlalu ngebut antara 70-90 KM/Jam. Aku duduk di depan di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai bis supaya baik jalannya. Sengaja mencari bis di kursi depan kosong agar dapat dengan puas melihat-lihat pemandangan sepanjang Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. Di headset terputar lagu kompilasi Rhoma Irama semakin terasa aura kemaduraannya yang terkenal penyuka dangdut.

Langsung ditraktir bakso oleh Farid

Tiba di hotel aku langsung disambut Farid, kawan lama yang sempat aktif di Plat-M dan ‘menghilang’ selama dua tahun lebih. Katanya dia sibuk mengurusi emas dan bandara selama dua tahun belakangan.

Malam pertama di Pamekasan dihabiskan di area lancor sambil ngopi dan bercerita bersama Farid.

Dari Hotel SMKN 3 menuju Pondok Pesantren

Sabtu pagi, Farid menjemput dan bersedia mengantarkanku ke Pondok Pesantren Banyuanyar yang berada di sekitar Jalan Raya Palengaan Pamekasan. Meski asli Pamekasan, Farid tidak mengetahui keberadaan pondok ini. Aku pun membuka Google Maps dan memulai perjalanan.

Terimakasih Google Maps, sudah membawa kami ke tempat ini.

Google Maps sukses membawa kami ke pedalaman di selatan Palengaan. Kami sudah sampai di lokasi tetapi tidak ada satu pun tanda-tanda pesantren di sepanjang mata memandang. Yang terlihat hanyalah rumah penduduk lokal dan hamparan sawah dengan tanaman tembakau yang membiru. Eh, menghijau maksudnya.

Fixed. Kami kesasar. Akhirnya aku menghubungi Mas Jhoo untuk meminta mengirimkan live location via WhatsApp.

Maksud hati tidak mau merepotkan panitia, ternyata tidak bisa. Tetap harus menghubungi panitia agar bisa kembali ke jalan yang benar. Kami putar balik dan kembali ke Jalan Raya Palengaan. Kawasan di sini semi perbukitan. Motor CBR yang kami tumpangi harus rela naik turun mengikuti jalanan sempit di pedalaman desa sebelum akhirnya sampai ke jalan besar.

Kami terhenti di kawasan pesantren yang sangat luas. Terlihat beberapa gedung bertingkat di sisi kiri dan kanan jalan. Papan nama menyakinkan kami sudah sampai di tempat yang benar. Namun kami tidak tahu harus pergi ke mana. Kemudian Mas Jhoo mengarahkan agar terus melanjutkan perjalanan ke timur. Wah, ternyata kawasan pesantren di sini belum selesai. Masih ada beberapa gedung lagi di timur tempat kami berhenti.

Belum mengetahui kenapa pesantren di pelosok Pamekasan ini begitu luas. Hanya satu yang dapat aku simpulkan dari luasnya kawasan pesantren ini. Pertama, pesantren ini pasti dibesarkan oleh Kiai besar dengan tingkat keilmuan yang sangat tinggi. Sehingga mendapatkan kepercayaan masyarakat Pamekasan, Sumenep, Sampang, Bangkalan dan dari beberapa daerah lainnya.

Jadi ngapain ke pondok pesantren ini? Lihat postingan setelah ini ya.

Kawasan sekolahan di pondok pesantren Banyuanyar


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

3 Comments

SIRAJUL MUNIR · September 23, 2018 at 11:29

Semoga bisa nyampek lagi, tapi tidak perlu kesasar lagi

    ALAM · September 23, 2018 at 11:32

    Iya, mas. Selalu senang bisa main ke pesantren.

Abd ghani · September 24, 2018 at 21:24

Emnk ad perlu ap ksana

Berikan Komentar

%d bloggers like this: