KKN Hari 5: Sebuah Kisah, Sebuah Cerita

Pagi mengajar, siang conditional, sore interaksi dengan kelompok atau masyarakat, malam nulis blog dan kerjakan beberapa tugas administrasi yang belum. Tidak lupa disela-sela pasti ada kegiatan makan dan tidur. Maka tidak heran jika ada ungkapan “KKN adalah ajang penggemukan diri”. Ungkapan ini bisa dikatakan benar. Sampai hari ke-5 ini program kerja yang sudah dijalankan adalah pendidikan masyarakat lewat mengajar di MA,MTs dan SD di sekitar desa. Selain itu juga sudah dilaksanakan Focus Group Discussion yang melibatkan empat pamong –kepala dusun- yang ada di Desa Rangperang Laok. Tapi postingan kali ini bukan bercerita tentang kegiatan selama sehari, tapi tentang sebuah cerita pertemanan dan persahabatan yang terbentuk dalam waktu singkat.

Mahasiswa tingkat akhir memang wajib mengambil mata kuliah KKN. Biasanya diambil mahasiswa yang sudah menempuh semester 6 ke atas. Sebanyak 379 mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura mengambil mata kuliah KKN. Kemudian dibagi menjadi 30 kelompok di sebar di 30 desa dari empat kecamatan di kabupaten Pamekasan,  Madura. Masing-masing kelompok terdiri 11-13 mahasiswa dari berbagai latarbelakang jurusan. Selain itu juga diperhatikan keseimbangan gender dan daerah asal. Hal ini dilakukan untuk semata-mata mempermudah kelompok KKN untuk menjalankan program kerjanya ketika terjun langsung di desa yang dijadikan tempat KKN.

Dua minggu sebelum pembekalan, LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Universitas Trunojoyo Madura mengumumkan nama-nama anggota dari 30 kelompok KKN semester ganjil tahun 2012. Nama Nurwahyu Alamsyah tercantum di kelompok 14. tidak ada yang istimewa dari angka 14. Karena bukan angka keramat, bukan angka ganjil, bukan angka sial, bukan angka keberuntungan, hanya mungkin angka 14 sangat berkesan bagi penggemar klub sepakbola asal London Inggris, Arsenal. Angka 14 menjadi angka yang dipakai Thierry Henry ketika menjadi legenda bagi klub yang bermarkas di Emirates Stadium ini.

Nama-nama Hoirul Umam, Aditya Dewan Z, Rofal Ainul ZamZam, Kurniawati Meilina Putri, Azizi Fahmi, Moh Sirat, Nurwahyu Alamsyah, Moh Muhyidin Al Amin, Andre Setiyawan Farizki, Lina Tri Oktaningtias, Dinka Damiana Ulva, Andi Purwanto dan Onod Burhanudin R merupakan nama-nama yang asing bagiku. Memang ada dua orang yang saya kenal dekat karena memang satu jurusan, tapi nama-nama yang lain tidak pernah saya dengar sebelumnya. Nama-nama itu tertulis di tabel bertuliskan Kelompok 14.

Kelompok ini baru bisa bertemu seminggu sebelum pembekalan KKN yang artinya seminggu setelah diumumkannya oleh LPPM kami baru bisa berkumpul. Itupun tidak lengkap hanya beberapa. Wajah-wajah asing terlihat saat itu, aku berusaha tetap menjadi diri sendiri yang lepas dan suka berkawan. Tanpa canggung dan malu aku kenalkan diriku dan menyalami semuanya. “Ayo, kita mulai saja rapat kita biar tidak terlalu lama!” tangkasku sok akrab, padahal baru ketemu hari itu juga. Mungkin karena SKSD (Sok Kenal Sok Dekat)-nya itu aku dipilih menjadi Koordinator Desa (Kordes) atau ketua dari kelompok ini, kelompok 14.

Sampai hari kelima inipun, rasanya kelompok ini sudah menjadi satu keluarga besar yang sudah lama saling mengenal padahal baru 3 minggu bertemu dan berkenalan. Saling menghargai antara satu karakter dengan karakter yang lain menjadi suatu pelajaran tersendiri juga menjadi pewarna dalam sebuah lukisan bernama KKN 2012. Kini kami saling mengenal satu sama lain, berbagi cerita, berbagi kebahagiaan, berbagi penderitaan, berbagi suka duka, berbagi rokok, berbagi koneksi internet super lelet, berbagi semuanya, ini milikku juga menjadi milikmu. Lima hari sudah kita tidur bersama, bangun bagi bersama, menikmati secangkir kopi bersama-sama, bercengkarama dengan masyarakat bersama-sama, memasak, makan, sampai mencuci piring juga bersama-sama. Karakter satu sama lain sedikit banyak sudah mengetahui. Perbedaan latar belakang daerah menjadi suatu warna tersendiri.

Kini kami punya julukan untuk masing-masing saudara baru kita. Ada manusia paling ribet Aditya. Ada Lora (Anak Kyai) Muhyidin. Ada ‘selalu conditional’ Rofal/Opang. Ada Pak Kordes Aku sendiri. Ada Bu Kordes Lina. Ada si pendiam Umam. Ada dari Pemerintahan Andre. Ada Pak Carek –Sekretaris- Andi. Ada Beddes (Bendahara Desa) Dinka. Ada sang Orator Onod. Ada Bu Carek Putri. Ada Creator Azizi. Dan terakhir ada Sirat yang belum ada julukannya. Berbagai julukan ini pasti ada kisah masing-masing yang akan menggelitik jika diceritakan.

ALAM

7 thoughts on “KKN Hari 5: Sebuah Kisah, Sebuah Cerita

  1. wkwkwkwkkkk ternyata di desa ada koneksi lanjut bun langsung aja dikasih pengenalan Internet sekalian bikin Melek IT warga sana bun 😀 SEMANGAT pak kelbun wkwkwkk piss

  2. wkwkwkwkkkk ternyata di desa ada koneksi lanjut bun langsung aja dikasih pengenalan Internet sekalian bikin Melek IT warga sana bun 😀 SEMANGAT pak kelbun wkwkwkk piss

    1. Kurang efektif jika pengenalan internet saja mas,
      lah komputer saja belum ada yang pernah pegang.

  3. KKN itu memang keren sebenarnya, tapi masih banyak yg harus dibenahi. Misalhnya aja program kerja mahasiswa itu sebaiknya jangan diserahkan sepenuhnya ke mahasiswa tapi ada program secara global dari kampus. Implementasi di lapangan baru diserahkan sepenuhnya ke mahasiswa.

    1. Rencananya memang ada program khusus secara global dipusatkan di Kecamatan bang, tapi sampai saat ini belum ada informasi kapan waktunya. yang jelas kemaring sudah menyinggung hal itu, semoga bisa terealisasi.

Berikan Komentar