Menyusuri Aspal di Selatan Madura

Tak pernah bosan. Selalu menarik. Bagiku Madura masih terlalu luas untuk dieksplorasi. Perlahan kucoba datangi satu per satu. Ada keyakinan besar bahwa setiap tempat pasti ada yang baru. Membentang dari garis pantai Kamal hingga ke garis pantai Lombang di Sumenep, pasti ada yang baru.

Biasanya aku lebih sering beraktivitas di sekitaran kota. Berjalan nyaman di ruas jalan propinsi yang lebar. Bertemu truk besar dan bis. Berjumpa dengan kemacetan juga kepulan polusi. Suasana yang tak berbeda dengan kota besar. Kali ini aku melewati ruas jalan raya bagian selatan Madura. Melintasi jalanan sepi. Tanpa lalu lalang bis dan truk besar. Menyusuri desa demi desa di sekitar Kamal, Labang dan Kwanyar. Tiga kecamatan yang berada di selatan kabupaten Bangkalan.

suramadu dari perum basmalah‘Len-jelen’ adalah program rutin Plat-M untuk menduniakan Madura. Langsung berkunjung ke destinasi yang terpilih. ‘Len-jelen’ atau penulisan yang benar alân-jhâlân edisi keenam memilih kecamatan di selatan Bangkalan sebagai destinasi ajhâlân jilid 6. Kecamatan itu adalah Kwanyar.

Hingga di suatu Minggu pagi, aku menunggangi Supra hitam meninggalkan rumah. Melewati jalanan Kamal dan Labang sudah hampir setiap hari aku lalui. Ini jalur menuju Suramadu. Sering aku lalui jika akan menunaikan kuliah di Surabaya. Namun kali ini aku tidak ke Suramadu, melainkan terus ke arah timur melintasi jalanan yang jarang aku lewati: Jalur Labang-Kwanyar. Beberapa lajur jalan halus, namun lebih banyak yang bergelombang. Akibatnya lebih mirip naik kuda daripada sepeda motor karena terpaksa melintasi kubangan di jalan.

Di atas jembatan penyeberangan yang menghubungi Pasar Labang dan Sukolilo, sudah menunggu tiga kawan Plat-M: Anam, Raden dan Riska. Aku datang tiga menit sebelum waktu yang aku janjikan ke mereka: 9.10 waktu kecamatan Labang.

Kami mulai bergerak ke arah timur. Mengikuti jalan yang jarang aku lewati. Menuju kecamatan Kwanyar.

Aku menurunkan kecepatan. Mencoba melihat sisi kanan dan kiri. Kucoba merekam apa saja yang ada di sekitar. Tiba-tiba aku melihat rel kereta api di sisi selatan. Rel kereta api itu terlihat timbul-tenggelam dengan beberapa rumah. Pikiranku melayang membayangkan masa lalu di tempat ini. Aku hanya membayangkan, dahulu kereta api berjalan mengantarkan garam dari Sumenep ke Kamal melintasi jalur selatan Madura. Pasti begitu mengagumkan naik kereta dengan pemandangan selat Madura di sisi selatan. Rel kereta api itu menyusuri bibir pantai sepanjang kecamatan Labang hingga Kwanyar. Ada yang keadaannya masih utuh, ada juga yang sudah tertindas dengan bangunan baru. Inilah saksi yang tak pernah berbicara, saksi yang mengatakan bahwa dahulu kereta api pernah menghiasi pulau garam.

Terowongan alam menyambut kedatangan kami. Terowongan yang terbuat dari ranting tumbuhan yang berjejer terhampar menjadi atap buatan. Terowongan alam ini akan terlihat lebih indah saat musim hujan. Karena daunnya akan menutupi ranting yang menjalar menutupi jalan. Begitu cantik.

Aku berhenti saat melihat pemandangan Jembatan Suramadu dari arah timur. Serasa terlihat lebih cantik. Mungkin karena terlalu biasa melihat suramadu dari arah barat. Tepat di depan di perumahan Basmalah Permai, kami berhenti. Di bawah terhampar pantai Basmalah. Namun kami tak menuruni bukit ke pantai Basmalah, kami hanya mengambil beberapa gambar kemudian melanjutkan perjalanan. Masih ke arah timur. Menuju Kwanyar.

Tidak lama kami tersasar ke masjid entah apa namanya. Ketika sudah demikian, kami gunakan gps yang asli. Gunakan penduduk sekitar. Kami ditunjukkan arah untuk mendatangi pantai Rongkang.

Pantai Rongkang, kami akan segera mendatangimu. Tunggu!

ALAM

One thought on “Menyusuri Aspal di Selatan Madura

Berikan Komentar