Langit Bangkalan pagi itu gelap. Awan gelap menjadi atap kami. Dan perlahan tapi pasti, awan menjatuhkan air tak terkira jumlahnya ke hadapan kami. Hujan deras menghiasi Sabtu pagi. Aku bagun setelah tertidur pasca sholat Subuh. Adalah suara bacaan santri pondok pesantren (PP) Syaichona Cholil yang membangunkanku. Entah apa yang mereka baca, yang jelas, ini semacam ritual mereka sebelum memulai pelajaran madrasah di pagi hari. Bacaan itu membawaku bergegas. Bersiap untuk memulai hari. Hari pertama TIK Pesantren. Inilah TIK Pesantren ketiga bagiku, kedua di Madura, dan pertama di Bangkalan.

Kepalaku sesak memikirkan permintaan King eh Ustadz Nopy untuk menyampaikan sambutan pembuka acara bersama perwakilan Telkomsel, UPN, Muwashola dan tentu perwakilan dari PP. Syaichona Cholil. Aku diminta memberikan sambutan mewakili Komunitas Blogger Plat-Madura. Mungkin, bagi sebagian orang, sambutan itu hal biasa. Bagiku itu adalah hal yang luar biasa dan penuh dengan tantangan. Aku harus berbicara tanpa bantuan media slide seperti di TIK Pesantren edisi pertama dan keduaku.

Foto bersama ketua umum PP Syaichona Cholil - Ra Nasih Aschal

Foto bersama ketua umum PP Syaichona Cholil, RKH. Nasih Aschal, Lc

Satu lagi yang membuatku sempat berpikir untuk kabur dari acara pembukaan ini adalah sambutan ini akan di dengaroleh kyai dan petinggi di PP. Syaichona Cholil. Aku bukanlah lulusan pesantren seperti kebanyakan dari orang-orang di acara ini. Aku hanya seorang blogger yang seharian bergelut dengan internet dan kurang paham akan pelajaran mendalam tentang kegiatan di pesantren.

Ustadz Nopy memberikan sambutan

Ustadz Nopy memberikan sambutan

Sepertinya Ustadz Nopy memintaku memberikan sambutan gara-gara membaca kultuitku sehari sebelum perhelatan TIK Pesantren ini digelar. Bismillah, aku akan lakukan, sekaligus untuk belajar memberikan sambutan dihadapan orang penting. Aku membawa statistik-statistik menarik antara internet dan pesantren yang sudah ku-tweet-kan, sehingga menarik perhatian ustadz Nopy.

Hari Pertama

Pembukaan menjadi menu manis bagi peserta sebelum sholat Dhuzur. King Nopy, eh lupa lagi, Ustadz Nopy memberikan pidato sambutan yang menggelegar, memaparkan konsep bagaimana pesantren mempunyai peranan penting untuk ikut berkontribusi menyumbang konten-konten positif bernafaskan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) lewat media internet. Sekarang, hari ini, konten negatif tentang dunia islam semakin menggelora dan mengkhawatirkan. TIK Pesantren adalah majelis untuk belajar bersama bagaimana berdakwah menggunakan media internet.

Setelah istirahat makan dan sholat dhuzur, cuaca di luar masih saja gelap dan rintik-rintik hujan seperti rajin menemani kami sepanjang hari.

Seminar internet sebagai media dakwah

Seminar internet sebagai media dakwah

Rundown acara memasuki acara seminar dengan tema kenapa harus berdakwah menggunakan internet. Aku yang ditunjuk sebagai pemateri pertama di depan sekitar 80 Asatid dari berbagai pesantren di Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. Aku senang sekali bisa menyampaikan beberapa manfaat internet yang mungkin mereka lupa atau bahkan belum tahu.

Presentasiku hanya berlangsung sudah berlangsung sekitar 40 menit, tetapi proses tanya jawab nyaris membutuhkan waktu yang sama. Pertanyaan dari kalangan Asatid membuatku semangat. Mereka kritis dan seperti begitu semangat untuk memulai belajar bagaimana lebih memanfaatkan internet sebagai media mereka berdakwah.
Sesi seminar hari pertama ditutup oleh presentasi mahasiswa UPN, Muhajir, tentang penulisan jurnalistik.

Malam hari sebelum hari kedua. Seperti di TIK Pesantren Sampang dan Banyuwangi, aku dan semua peserta yang hadir larut dalam dinginnya malam yang berubah menjadi hangat dengan lantunan shawalat nabi dari santri diiringin banjari. Teduh dan tenang rasanya jiwa ini. Ngga percaya? Ikutlah bersholawatan!

Sebelum istirahat, sesi kosong diisi dengan sharing antar pesantren. Semua perwakilan pesantren maju ke depan berbicara tentang bagaimana internet di pesantren mereka. Rata-rata menjawab kesulitan koneksi. Jangankan untuk streaming, untuk update website/blog saja sudah diupdate karena koneksi internet yang kurang baik.

Maka dari itu, aku memberikan tujuh tips via twitter bagaimana tetap bisa berdakwah dengan kondisi intrenet kurang baik. Berikut ke-tujuh tips tersebut:

Hari Kedua

Minggu adalah hari kedua TIK Pesantren. Matahari menyeruak dan menampakkan paras wajahnya pagi itu. Kami sudah dibagi menjadi dua kelas. Kelas Streaming dan kelas Social Media. Aku bersama Gus Rofiuddin mendapat bagian menyampaikan materi social media. Aku presentasi setelah Gus Rofiuddin menyampaikan materi dasar tentang berbisnis di internet.

Judul presentasiku Social Media, Media Dakwah. Aku sharing tentang kenapa kita harus berdakwah menggunakan sosial media dan blog. Setelah memaparkan presentasi dan tanya jawab yang menyenangkan, peserta di kelas social media dilatih langsung bagaimana membuat blog, memulai menulis, mengkustom tema, hingga mengatur teknik SEO di dalamnya. Semua berlangsung hingga sore hari. Harapan dari kelas ini, semua Asatid bisa menggunakan social media dan blog sebagai media baru mereka berdakwah.

Dua kelas sudah selesai di gelar. Asatid yang datang sudah mendapatkan bekal berdakwah di internet secara teknis. Social media dan streaming menjadi fokus utama.

Acara ditutup dengan harapan semakin banyak konten-konten positif bernafaskan Aswaja di internet.


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

1 Comment

Wahyu Alam's | Tanpa dan Genggam Internet? · April 28, 2014 at 17:34

[…] mengisi workshop TIK Pesantren di PP. Syaichona Cholil, […]

Berikan Komentar

%d bloggers like this: