Cover depan buku Al-Hikam 

Menghadap-Nya yang tak butuh berhitung, sebab kemurahan-Nya juga tak terhitung. Menemui-Nya tak perlu waktu luang, sebab setiap saat Dia datang. Yang menyibukkanmu adalah apa yang mengkhawatirkanmu. Yang menghalangimu adalah kebiasaanmu. Engkau tak menghargai dirimu sendiri sehingga engkau tak belajar mawas diri. Pertemuanmu dengan-Nya padahal tak pernah menyita waktu banyak. Sebanyak kesibukanmu dengan selain-Nya. Engkau hanya malas hingga engkau tak menganggap waktumu luas. Engkau hanya enggan hingga rintangan kecil saja membuatmu tak bangkit dan bersegera meniti perjalanan.

Mungkin paragraf di atas menjadi beberapa paragraf yang aku beri tanda menggunakan stabilo karena kalimatnya menggambarkan suasana batinku saat membacanya. Sepertinya buku Al-Hikam ini sangat tahu apa yang sedang aku rasakan, sehingga bisa memberikan petuah yang sangat cocok dan pas dengan apa yang ada di dalam pikiranku.

Sejak dibeli bulan Juni 2011, aku baru saja menyelesaikan membaca bab terakhir dari untaian hikmah Ibnu ‘Athailah itu. Buku yang diambil dari kitab klasik Al-hikam dengan ulasan menarik menyesuaikan dengan zaman kita oleh Imam Sibawaih El-Hasany ini memberikan warna baru dalam suasana batinku selama setengah tahun belakangan. Ketika aku tidak tahu harus bagaimana, bingung, resah, takut, gelisah, sampai tidak bisa berpikir lagi aku biasanya mendengarkan musik religi seraya membaca buku terbitan zaman ini.

Meski bahasanya seperti menggunakan sastra kelas tinggi, tapi karena ulasan dari Imam Sibawaih El-Hasany kita bisa dengan mudah memahami pesan yang diberikan oleh buku ini. Seperti komentar K.H.A Mustofa Bisri yang memberikan komentar di depan cover buku: “Al-Hikam merupakan mutiara-mutiara cemerlang untuk meningkatkan kesadaran spiritual, tidak hanya untuk umumnya pada peminat olah batin. Untaian mutiaranya lebih memesona jutaan hamba keindahan Sang Maha Indah”.

Dan pada paragraf pertama kata pengantarnya sangat menarik ketika tertulis “Al-Hikam ialah kitab yang bukan sembarang kitab. Mengenainya kita pernah temukan komentar seperti ini: andai saja diperbolehkan membaca selain ayat-ayat Al-Qur’an dalam shalat, tentulah tuturan al-Hikam menjadi bagian dari bacaan shalat kita!”

Dari paragraf pertama saja sudah sangat menarik perhatianku. Ternyata benar, buku ini memberikan warna tersendiri enam bulan terakhir. Beberapa kali sangat ampuh dan manjur mengobati beberapa penyakit hati seperti marah, egois, resah, gelisah, dan takut. Aku sangat merekomendasikan bagi teman-teman yang  berminat olah batin. Recommended bagi yang sering merasa kehilangan-Nya

 

ALAM
Categories: #ALAMenulis

ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

6 Comments

renaldi · January 23, 2012 at 03:54

kata-katanya mengena mas 🙂
jadi pengen baca bukunya

    wahyualam · January 23, 2012 at 08:29

    Terimakasih pujiannya, renaldi.
    beli saja bukunya di toko buku atau di internet. 🙂

Ria Lyzara · January 23, 2012 at 06:29

Pinjem bukunya mas..
buat ngisi liburan..yach??

    wahyualam · January 23, 2012 at 08:28

    Boleh, tapi dikembalikan ya!
    eit, wani piro disek?

      Ria Lyzara · January 23, 2012 at 09:10

      pas e piro wis?? gak wani ngenyang aku..
      pinjem yach yach?? *kedip-kedip mata 😛

Zainul Hal · January 11, 2015 at 00:36

Menyejukkan…
Jazakallah.

Berikan Komentar

*/
%d bloggers like this: