M: Art-deco PTPN , Gedung Tua Berarsitektur Eropa.

Tim HOTSby juga kesulitan mencari gedung yang masuk dalam lokasi wisata di Surabaya City Tourism Map ini. Kami harus memutari jalan Rajawali untuk menemukan gedung tua ini. Sayang, karena hari Minggu, gedung ini tutup. Kami hanya bisa memandanginya dari depan pagar. Sekilas terlihat begitu sejuk dan arsitektur khas Eropa terlihat dari pahatan-pahatan di dindingnya. Di tempat ini HOTSby harus membuat huruf M. Kami sempat bingung akan berpose seperti apa agar bisa membentuk huruf M. Dengan bantuan tiang rambu lalu lintas, kami membentuk huruf M. Pak Triyono selalu sigap menawarkan jasa menjadi ‘tukang foto’ di setiap lokasi wisata.

E: Kya-Kya, Pusat Aktivitas Masyarakat Tionghoa Surabaya.

Setelah sempat istirahat sholat Ashar, kami melanjutkan perjalanan untuk berburu foto membentuk huruf dengan latar belakang landmark tempat wisata di Surabaya. Kali ini tujuan kita adalah kawasan Kya-Kya Kembang Jepun dan Jembatan Merah.

Kya-Kya Surabaya adalah tempat yang dulunya ramai sebagai pasar malam di kawasan pecinan kota Surabaya. Di sepanjang jalan Kembang Jepun didirikan kios-kios yang menjual berbagai macam makanan baik masakan Tionghoa, makanan khas Surabaya maupun makanan lainnya. Kata kya-kya diambil dari salah satu dialek bahasa Tionghoa yang berarti jalan-jalan.

Tim HOTSby berfoto dengan membentuk huruf E. Seperti biasa, kami menggunakan latarbelakang landmark. Kali ini adalah Kya-Kya.

T: Jembatan Merah, Saksi Sejarah Terjadinya Pertumpahan Darah.

Tim HOTSby diuntungkan dengan letak Kya-Kya yang langsung bersebelahan dengan Jembatan Merah. Kami menggunakan latar Jembatan Merah untuk mengambil foto dengan huruf T.

Jembatan yang menjadi salah satu judul lagu ciptaan Gesang ini, semasa zaman VOC dahulu dinilai penting karena menjadi sarana perhubungan paling vital melewati Kalimas menuju Gedung Keresidenan Surabaya. Sekarang sudah tidak berbekas lagi. Jembatan ini sekaligus menjadi saksi sejarah terjadinya pertumbahan dari 10 November 1945

R: Klenteng Hong Tek Hian, Tempat Ibadah Warga Tionghoa.

Jalan Dukuh sering aku lewati, namun aku tidak mengetahui kalau ada Klenteng besar dan bersejarah. Selain bangunan yang indah dan menawan, klenteng ini juga masih mempopulerkan Wayang Potehi. Pertunjukan Wayang Potehi begitu terkenal, sehingga sayang apabila melewatkan pertunjukkan tersebut. Di sana terdapat alat peribadatan seperti lilin, hio dan uang-uangan kertas yang disediakan bagi umat Budha yang ingin beribadah. Saat beribadah umat Budha hanya mengandalkan lilin sebagai penerangan utama. Lilin merah berukuran besar, banyak terdapat di sisi kiri dan kanan altar.

Ketika masuk ke dalam, bau dupa langsung tercium. Tim HOTSby harus berfoto dengan membentuk huruf R. Kami tidak mau lama-lama, karena terlihat beberapa orang sedang beribadah. Setelah berfoto kami langsung melanjutkan perjalanan ke arah utara Jalan Dukuh.

O: Sunan Ampel, Guru Wali Songo.

Dari jalan Dukuh bergerak ke arah utara. Kami akan disambut gapura besar dengan tulisan Selamat Datang di Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel Surabaya. Jika tadi adalah kawasan Tionghoa yang begitu kental. Begitu ke utara, kita akan masuki kawasan Arab yang mempesona.

Surabaya sangat kaya akan suku dan etnik. Kawasan Arab di Sunan Ampel merupakan salah satu yang terbesar di Jawa Timur. Kami mencari celah di tengah-tengah kesibukan luar biasa kawasan ini untuk berfoto membentuk huruf O.

Foto ini cukup sulit diambil, karena kami ingin mempertahankan landmarknya. Pak Triyono harus melihat ke kanan dan ke kiri ketika memotret kami yang membentuk huruf O. Kami berfoto di tengah jalan. Hanya dipisahkan oleh trotoar. Cukup berbahaya, tetapi kami berhasil mengambil foto dengan latar gapura selamat datang.

C: Masjid Cheng Ho, Masjid Unik Beronamen Tionghoa.

Suasana sudah menjadi gelap. Matahari sudah tak terlihat lagi. Adzan Maghrib berkumandang di daerah Surabaya dan sekitarnya. Kami bergerak ke masjid Cheng Ho sekaligus sholat Maghrib. Sekali jalan, satu-dua tujuan terlampaui.

Sebelum masuk masjid, kami menyempatkan satu menit untuk berfoto dengan latar Masjid Cheng Ho dan membantuk huruf C. Hasilnya, bisa dilihat di foto di atas.

A: Balai Kota, Pusat Pemerintahan Kota Surabaya.

Hati menjadi tenteram ketika sholat Maghrib. Suasana gemerlap Surabaya menemani sepanjang perjalanan. Pak Triyono masih mampu membuat suasana lelah menjadi penuh tawa. Sepanjang perjalanan beliau bercerita tentang kisah hidupnya. Orangnya humble dan humoris, beberapa kali tim HOTSby dibuat tertawa kecicikan. 😀

Kurang dua huruf lagi. Paling dekat dari Masjid Cheng Ho adalah Balai Kota. Kami memotret gedung Balai Kota yang cantik dengan huruf A yang dibentuk dari dua lengan.

R: Patung Gubernur Suryo, Seperti Beri Hormat pada Gedung Grahadi.

Untuk huruf R, kami sebenarnya sudah mengambil foto di depan patung Sudirman yang gagah berdiri di depan Balai Kota. Hanya karena patung Sudirman tidak ada dalam Surabaya City Tourism Map, kami terpaksa memutar lagi menuju Patung Gubernur Suryo yang berada di depan Gedung Grahadi.

Setelah berfoto membentuk huruf R, tim HOTSby mengakhiri kisah hari itu dengan berfoto selfie bersama Pak Triyono. Dan foto dengan huruf G-R-E-E-N-M-E-T-R-O-C-A-R telah terkumpul. Pertualangan pun berakhir.

Gubernur Suryo seolah memberikan hormat kepada kami dan seperti mengatakan selamat, karena kami telah menuntaskan petualangan hari ini. Tiga belas foto berbentuk huruf di tiga belas destinasi wisata Surabaya telah beredar di Twitter.

Saatnya menuju destinasi terakhir sekaligus titik terakhir: Herlijk Cafe.

Perjuangan kami tidak sia-sia. Kami mendapatkan penghargaan sebagai tim terbaik karena foto-foto yang dihasilkan, juga karena kami kompak dengan pengemudi, Pak Triyono.

Terima kasih Mbak Merry, Pak Triyono, dan Green Metro Car yang sudah memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagiku. Sekarang aku menjadi lebih dekat dengan Surabaya. Aku tidak hanya tahu tentang Tanjung Perak dan Tugu Pahlawan saja, tetapi ada tiga belas tempat wisata lain yang juga menarik untuk dikunjungi.

Rasanya dengan perjuangan tim HOTSby yang luar biasa, aku dan Mbak Merry pantas mendapatkan kesempatan untuk diajak jalan-jalan gratis ke Singapura. Bukan begitu, bloggers?

https://scontent-sin.xx.fbcdn.net/hphotos-xpf1/v/t1.0-9/s180x540/11017047_599143396888304_4647979124440645686_n.jpg?oh=ce3c343e9bf8fbfde80d8e6b400e43ea&oe=55B168EC

https://fbcdn-sphotos-b-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xap1/v/t1.0-9/s180x540/11081374_599143026888341_4560691421599658844_n.jpg?oh=3d0fca0c4383633789941fdc8035f30f&oe=55A53897&__gda__=1436409289_a3f3e0895aaa5074d4b9f3a7a3f14b0fhttps://fbcdn-sphotos-d-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xpa1/v/t1.0-9/s180x540/10647057_599142533555057_5831729867814211423_n.png?oh=f0279981c3b8c33b26bfcca941a3a94b&oe=55B85CFE&__gda__=1433408792_1ab02e4090eb4c5a10ac04bfcd5b6a52


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

2 Comments

berrianam · May 15, 2015 at 17:17

semoga menang

Mudahnya Sewa Mobil Menggunakan Green Metro Car | Wahyu Alam's · April 1, 2015 at 10:52

[…] Penasaran juga bagaimana kisah seru petulangan saya dengan Merry melakukan City Tour di Surabaya? Silahkan baca selengkapnya di sini. […]

Berikan Komentar

%d bloggers like this: