Ruang Kerja

wahyualam at digital enablement lab

Kunci harus dikembalikan. Jika tidak, kamu tidak akan bisa lulus. Saya serius.

Profesor memberiku kunci lab. Aku sudah bertatap muka denganmu sejak sebulan yang lalu, namun baru sekarang aku resmi diberikan kunci lab. Sedikit telat dibandingkan teman-teman yang lain. Mereka sudah mendapatkan kunci lab sejak pertama kali bertatap muka dengan profesornya.

Aku dikenalkan ke semua penghuni lab. Ada Michael yang begitu ramah menyambutku sejak pertama kali membuka pintu lab. Ada juga Anson, mahasiswa lokal yang sudah menjadi Pak RT di lab ini.

Awalnya lab ini bernama Information Technology Management (ITM) Lab, namun sekarang telah diganti menjadi Digital Enablement Lab. Dengan pengasuhnya Tzu-Chuan Chou, Ph.D Associate Profesor yang juga Chairman Department of Information Management.

Officially, I have new workspace. Inilah ruang kerjaku selama sepuluh bulan ke depan.

Di lab Digital Enablement terdapat enam deret workspace yang masing-masing deret terdiri dari lima meja yang dipisah oleh skat. Aku persis berada di muka pintu. Begitu pintu dibuka, maka pemandangan pertama adalah meja kerjaku. Jika aku sedang berada di Lab, maka saat pintu lab dibuka, maka punggungku akan menyambut siapa saja yang datang.

Kini sudah lima bulan aku menempati ruang kerja baruku. Menjadi tempat kedua yang paling didatangi setelah dormitory.

Ruang kerjaku terdiri dari meja dengan panjang 1 meter dan lebar 50 meter. Di atas meja terdapat satu rak yang bisa digunakan untuk menaruh kertas atau buku. Setiap meja ada sudah disediakan komputer, ada yang belum. Awalnya, aku hanya menggunakan laptop. Namun karena ada satu komputer yang nganggur, maka aku dibantu Michael dan Anson memidahkan komputer lama ke ruang kerjaku.

digital enablement lab

Michael dan Anson selalu siap membantu apapun keperluanku. Sesekali Peggy juga mengajakku berbicara sebentar. Di dalam lab ini terdapat mahasiswa yang dibimbing Profesor yang berbeda.

Aku pergi ke lab jika ingin fokus dan ketenangan. Di saat musim dingin, lab menjadi tempat favorit karena udara dingin sudah menguasai kamar. Di ruang kerja ini, aku melakukan berbagai aktivitas seperti mengerjakan tugas-tugas kuliah, mengerjakan progress tesis, bekerja, menulis blog, atau berdiskusi dengan teman satu lab.

Tak jarang lab ini digunakan untuk melepas pengat dengan bermain game bersama. Meski baru pertama kali bermain game yang mirip monopoly tersebut, tetapi amat menarik karena dilakukan lintas negara: Taiwan, Republik Ceko dan Indonesia.

Aku pernah tidur dan menginap di lab. Bahkan pada saat musim dingin, aku baru pulang dari lab sekitar jam lima subuh. Lemari-lemari yang berada di dalam lab juga menyimpan beberapa buku peninggalkan Prof Chou saat menempuh program doktoral di Inggris. Melihat jejeran buku lawas sudah berhasil meningkatkan mood yang sedang tidak bagus.

Untuk mendapatkan koneksi internet, aku harus mendaftar di bagian jaringan untuk mendaftarkan student ID, nomor telpon dan MAC Adress komputer yang aku gunakan. Sebentar saja, internet berkecepatan lebih dari 90 Mbps hadir mendukung setiap pekerjaan mahasiswanya.

Hal inilah yang membuat aku betah berada di lab. Selain karena ada tiga hal wajib (internet, kopi dan pendingin ruangang), berada di lab seperti memberikan energi baru. Semangat langsung meningkat dua kali lipat saat melihat ruangan Professor yang berada tidak jauh dari lab. Melihat ruangan Professor langsung teringat diskusi terakhir di dalam ruangan tersebut, pikiran langsung tertuju kepada progress tesis. Hal ini tak bisa didapatkan jika berada di dalam dormitory.

Selain itu, lab Digital Enablement terletak begitu strategis. Jika ingin ke ruangan administrasi jurusan, cukup turun satu lantai. Jika ingin sholat di Mushola, maka cukup turun dua lantai. Jika kelaparan di tengah malam, bisa datang ke 7Eleven yang berada di lantai paling bawah.

Dari ruang kerja inilah lahir beberapa karya penting. Mulai dari tulisan-tulisan di blog wahyualam, mengompori blogger Plat-M untuk menulis, hingga model penelitian tesis juga lahir di tempat ini.

Speaker membunyikan alunan musik instrumental. Kursi yang aku pakai dapat digunakan untuk menyandarkan kepala jika lelah. Saat kehausan, Michael sering memberikan teh kiriman keluarganya dari Republik Ceko untuk diseduh dengan gula. Di dalam laci terdapat beberapa senjata perang mulai dari aneka snack, teh, kopi, gula hingga laptop.

Aku sering menjadi orang terakhir dan pertama yang membuka lab ini. Salah satu ruang kerja yang begitu penting bagi perjalananku menjadi mahasiswa Master di NTUST.

Itulah ruang kerjaku, tulis komentar tentang ruang kerjamu ya bloggers!

ALAM

Berikan Komentar