Serpihan Surga di Ufuk Timur Madura

Foto Satelit Kepulauan Sumenep

Madura bukan tentang satu pulau saja. Tak banyak yang tahu, ada pulau lain di timur Madura. Mulai dari pesona Gili Iyang, keindahan Gili Labak, kecantikan Gili Genting hingga pesona Pulau Kangean. Itu masih sebagian. Ada ratusan pulau lain yang tersebar. Seolah menciptakan keindahan dari serpihan surga yang terjatuh di ufuk timur pulau garam.

Pulau Madura memang terdiri dari empat kabupaten; Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Namun sebenarnya Madura mempunyai gugusan kepulauan yang masih menyimpan banyak misteri akan kecantikannya. Sebagai warga kelahiran Bangkalan, yang merupakan kabupaten paling barat Madura, aku tak banyak mengetahui tentang kehidupan di Madura bagian yang lain. Pelan-pelan, aku mendatangi satu demi satu kabupaten selain di Bangkalan.

Aku tak menyangka jika tiga kabupaten memiliki pulau terpisah. Di Bangkalan ada pulau yang biasa digunakan untuk mengontrol lalu lintas kapal dari dan ke arah Surabaya. Pulau ini juga digunakan nelayan untuk beristirahat sejenak. 

Pulau Kecil di Barat Bangkalan
Foto Satelit Pulau Mandangin, Sampang

Sedangkan di Kabupaten Sampang, ada Pulau Mandangin yang berada diantara Probolinggo dan Sampang. Lokasinya berada di sisi selatan. Merupakan salah satu tempat wisata di Sampang, dan dapat dijangkau dengan perahu bermotor dari Pelabuhan Tanglok. Pulau Mandangin dikenal akan keindahan pasir putih, terumbu karang, dan kehidupan masyarakatnya yang mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan.

Kabupaten Pamekasan satu-satunya kabupaten yang tidak mempunyai pulau terpisah. Kebanyakan pulau yang terpisah berada di timur Madura. Salah satu pulau yang terpisah itu namanya Gili Raja, meski terlihat dari Pamekasan, tapi secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Sumenep.

Sumenep menjadi kabupaten terluas karena terdiri dari beberapa pulau yang terpisah. Berdasarkan hasil sinkronisasi Luas Wilayah Kabupaten Sumenep, ada 126 pulau terpisah yang masuk ke wilayah Kabupaten Sumenep, dan hanya 48 pulau yang berpenghuni. Sisanya masih asli dan tak ada manusia yang menempati. Tanpa polusi, jauh dari hiruk pikuk kendaraan, tanpa sampah dan semua peninggalan manusia. Benar-benar seperti serpihan surga yang jatuh di timur Madura.

Dari semua pulau di Madura. Aku hanya pernah menginjakkan kaki di empat pulau saja: Pulau Talango, Gili Iyang, Gili Labak dan Gili Genting. Berikut cerita dari keempat pulau yang pernah aku datangi.

Pulau Talango Yang Masih Penuh Misteri

Aku suka pulau ini bukan karena wisata alamnya, namun di Pulau Talango bersemayam makam Sayyid Yusuf bin Ali bin Abdullah Al Hasan. Aku sering datang ke pulau ini saat berkeliling ziarah ke makam penyebar Islam di Madura. Untuk datang ke Pulau Talango harus naik ferry dari Pelabuhan Kalianget dengan tiket yang sangat terjangkau. Berikut sejarahnya yang aku re-write dari selebaran yang dibeli dari juru kunci makam.

Pelabuhan Kalianget (foto: dok pribadi)

Pada tahun 1212 H (Th. 1791 M) raja Sumenep Sri Sultan Abdurrahman Pangkutaningrat, beserta rombongan/prajuritnya berangkat dari Keraton Sumenep. Maksudnya akan menyebarluaskan Agama Islam ke Pulau Bali. Setibanya di Pelabuhan Kalianget, karena hari telah sore, maka beliau terpaksa bermalam, di sekitar jam 24.00 Sri Sultan Abdurrahman terkejut karena tiba-tiba melihat sinar/cahaya yang sangat terang, seakan-akan jatuh dari langit ke Bumi di sebelah timur Pelabuhan atau tepatnya di Pulau Poteran desa Telango Kecamatan Telango Kabupaten Sumenep.

Setelah sholat Subuh, Sri Sultan dengan pengikutnya naik perahu menuju pulau tersebut untuk mencari tanda jatuhnya sinar tersebut. Setibanya di pulau Poteran, Sri Sultan masuk hutan lalu mendapatkan tanda yang menyakinkan seakan-akan kuburan baru. Lalu beliau memberi salam dan salam beliau dijawab dengan suara jelas. Namun tidak ada yang menampakkan diri. Selanjutnya Sri Sultan Abdurrahman ingin mengetahui suara tersebut. Maka beliau munajat atau memohon kehadirat Allah SWT, tiba-tiba jatuhlah selembar kertas diharibaannya dan setelah diperhatikan daun tersebut tertulis dengan tulisan Arab Hadza Maulana Sayyid Yusuf Bin Ali Bin Abdullah Alhasani’

Makam Sayyid Yusuf (Foto: Dok Pribadi)

Selanjutnya Sri Sultan Abdurrahman memasang batu nisan dengan diberi nama sebagai mana yang terdapat atau tertulis pada daun tersebut. Setelah melanjutkan perjalanannya. Sebelum berangkat beliau menancapkan tongkat beliau di dekat kuburan atau pesarean Sayyid Yusuf dan tongkat tersebut hidup sampai sekarang menjadi pohon yang besar dan rindang.

Setelah beberapa lama kuburan atau pesarean diberi congkop atau pendoko kecil tetapi hanya kuburan Sayyid Yusuf pindah dari sebelah timur dengan arti tidak menghendaki diberi congkop. Dan sekitar kurang lebih satu tahun, kemudian Sri Sultan Abdurrahman mendatangi lagi kuburan atau pesarean Sayyid Yusuf untuk membangun pendopo di sekitar kuburan tersebut juga termasuk masjid Jami’ Kecamatan Telango. Demikian sekadar riwayat singkat Sayyid Yusuf dan dikutip dari sejarah wali-wali di Kabupaten Sumenep, Madura. (Sumber: Riwayat Singkat Sayyid Yusuf)

Selain Sayyid Yusuf, aku belum banyak mengeksplorasi lebih jauh Pulau Talango. Tapi aku sangat yakin masih banyak serpihan surga di pulau ini.

Bermandikan Oksigen di Gili Iyang

Titik oksigen adalah magnet bagi wisatawan untuk datang ke Gili Iyang. Saat datang ke tempat ini untuk pertama kalinya, aku tak mendapatkan keistimewaan yang dibicarakan orang. Aku tak dapat merasakan langsung oksigen meski berada di beberapa titik yang disebut dengan titik oksigen. Aku mulai percaya bahwa pulau ini mempunyai kadar oksigen terbaik kedua di dunia, ketika aku melihat banyak kakek-nenek lanjut usia masih beraktivitas layaknya manusia biasa. Bahkan menurut masyarakat setempat, masih banyak warga yang sehat meski sudah berusia di atas 90 tahun.

Bersemedi di Pantai Ropet, Gili Iyang

Aku masih penasaran bagaimana sensasi merasakan oksigen di Gili Iyang. Bagaimana mungkin LAPAN menginap hingga enam bulan untuk menguji kadar oksigen. Menurut warga yang bercerita langsung kepadaku, LAPAN berkeliling dari ujung utara ke selatan, dari ujung barat ke timur, terus berkeliling hingga berkali-kali untuk menentukan titik-titik oksigen. Dan aku beruntung, aku pernah diajak warga sekitar untuk merasakan sensasi oksigen di salah satu titik yang disebut LAPAN adalah titik bermandikan oksigen.

Waktu itu, aku menginap di Gili Iyang. Sekitar pukul dua dini hari, kami pergi ke titik oksigen, saat sampai di sana kami bertelanjang dada untuk dapat merasakan oksigen yang turun. Yang aku lihat kondisi di sekitar adalah area ladang milik warga. Aku akhirnya merasakan semilir angin begitu tipis turun dari sisi kiri atas menyentuh kulitku. Terus mengalir begitu saja. Itulah semilir oksigen Gili Iyang yang legendaris itu. Intensitasnya mirip seperti semilir angin pendingin ruangan, namun ada kesejukan yang berbeda dan begitu nyaman dihirup. Betapa beruntungnya diriku.

Selain titik oksigen, Gili Iyang juga mempunyai spot menarik bernama Batu Cangghe.

Cukup sulit untuk menggambarkan bagaimana keadaan di sana. Kata keren pun tak bisa mewakili keindahan panoramanya. Saat kita berada di bibir ujung timur Pulau Giliyang, pemandangan laut biru dengan latar pulau-pulau lain yang samar begitu anggun. Gugusan pulau itu seperti memanggil-manggil meminta untuk dikunjungi.

Situasinya begitu tenang, karena di pulau ini tak banyak kendaraan. Tak ada polusi udara ataupun polusi klakson. Yang ada hanyalah suara deburan ombak yang membentur karang. Suaranya memberikan relaksasi tersendiri bagi tubuh. Tempat yang pas untuk menyepi dari rutinitas sehari-hari.

Ketika menuruni tangga, kita akan melihat bebatuan yang membentuk setengah lingkaran dengan bentuk tak beraturan. Mirip seperti goa yang terpotong. Satu sisi bebatuan, sisi satunya langsung berbatasan dengan laut. Sangat berbahaya karena belum ada pembatas antara daratan dan jurang. Jika terjatuh, sudah pasti akan terjun ke laut dan sulit untuk diberikan bantuan penyelematan.

Kami harus terus berhati-hati untuk berjalan menyusuri bebatuan yang tajam dan curam.
Di sebelah selatan, terlihat satu batu berbentuk seperti tiang yang seolah-olah menyangga berbatuan setengah lingkaran tadi, hal ini lah kenapa tempat ini dinamai Batu Cangghe; batu penyangga dalam Bahasa Indonesia.

Aku ingin berpose seperti meditasi. Aku menemukan spot yang menarik. Meski harus berhati-hati, aku naik ke bebatuan yang lebih tinggi. Ada batu yang bisa ditempati untuk sekadar duduk. Aku memanjat untuk dapat duduk bersila sambil kemudian melakukan meditasi sebentar. Tak pelak, aku menjadi obyek foto yang menarik bagi teman-teman. Keasyikan meditasi aku nyaris ditinggal. Saat membuka mata pemandangan laut terhampar begitu saja di depan mata. Ingin rasanya berlama-lama di sini, namun kami harus segera ke atas dan menemui Kyai Ropet.

Bermeditasi di salah satu dataran batu karang

Batu Cangghe. Satu lagi keindahan yang tak ada duanya di Madura. Berada di ujung timur Pulau Giliyang, tempat ini menjadi destinasi rahasia yang tak banyak orang tahu. Keindahan panorama yang ditawarkan dapat dikunjungi untuk menyepi.

Snorkling di Gili Labak

Jika ingin melihat keindahan Gili Labak, maka kalian harus menginap agar dapat menyaksikan pesona sunrise dan sunset dari satu titik pantai. Jika butuh alat untuk snorkling, banyak agen perjalanan yang menyewakan peralatannya. Kalaupun kalian sibuk dan tak punya banyak waktu, one-day trip ke Gili Labak pun begitu menyenangkan.

Gili Labak luasnya ngga terlalu besar. Jika kita berjalan kaki mengitarinya butuh waktu duapuluh menit. Pasirnya putih dengan sisa-sisa karang kering berserakan menambah keindahan. Sejauh mata memandang hanya birunya lautan dan Kabupaten Sumenep terlihat dari kejauhan.

Di Gili ini tinggal satu RT yang masih masuk dalam kecamatan Talango. Saat aku datang ke sana, tidak ada penjual makanan yang lengkap, yang ada hanya penjual air mineral dan mie instan. Perlu diperhatikan lagi, masyarakat di sini masih belum terlalu fasih berbahasa Indonesia. Jadi jika mau pesan mie instan, harus minta bantuan teman yang asli Madura.

snorkeling gili labak

Saatnya melihat langsung aquarium raksasa di lautan timur Madura. Ini kedua kalinya aku memakai snorkel dan kacamatanya. Sayang waktu di Gili Trawangan tidak disediakan pelampung dan juga aku ngga bisa renang, jadi waktu di Gili Trawangan hanya dapat melihat batu karang mati di bibir pantai.

Peralatan sudah terpasang. Aku dan teman-teman sudah berubah menjadi pasukan hijau yang siap nyemplung ke laut. Adanya pelampung membuatku tenang tak takut tenggelam. Dimulai dari pinggir, yang terlihat hanya batu karang keras yang mati bercampur putihnya pasir, semakin ke tengah warna pasir putih berubah perlahan. Acropora acuminata mulai terlihat. Semakin ke tengah spesies yang lain seperti Acropora grandis, Montipora digitata dan Siderastrea sidereal muncul seolah sedang menunjukkan kecantikannya. Keluarga besar Nemo pun hidup tentram dan menambah kesan cantiknya aquarium raksasa ini.

Aku melirik ke tengah laut, aneka terumbu karangnya semakin beranekaragam. Aku yakin, di tengah laut ini pemandangan seperti Bunaken dan Karimun Jawa akan ditemui. Selain itu, arus air laut perlahan menggerakkan badanku. Semakin ke tengah arus semakin kuat. Aku ngga berani berenang terlalu ke tengah.

Saat pulang dari Gili Labak, kami dapat hadiah sunset yang mempesona. Matahari seperti tenggelam dan kembali ke peraduannya persis berada di belakang Gili Genting. Ini seperti paket fasilitas premium yang ditawarkan saat one-day trip ke Gili Labak. Sambil melihat sunset, aku berpikir bahwa Gili Labak punya potensi. Dari awal aku menyebut pulau ini kembaran Gili Trawangan. Bedanya di Gili Labak lebih sepi, tak ada turis berjemur maupun perahu-perahu besar yang mendekat.

Semua travelers kini sedang meliriknya. Pelan tapi pasti, akan semakin banyak orang yang akan datang ke Gili Labak. Kita sebagai warga Madura perlu kerja ekstra untuk mempromosikan potensi ini juga kerja keras untuk menjaga keasrian Gili Labak. Menjaga ekosistem bawah laut harus tetap seperti sekarang. Tidak boleh ada sampah yang terbuat ke laut. Ini kekayaan alam karunia Tuhan kepada Madura. Harus kita jaga bersama.

Selfie di Pantai Sembilan di Gili Genting

Jika ditanya, tempat yang paling instagramable di Sumenep, maka aku akan mengatakan Gili Genting tempatnya.

Tak sejauh Gili Labak, namun menyimpan pesona yang tak kalah dari Gili Labak dan Gili Iyang. Pegiat wisata di tempat ini pintar memanfaatkan geliat media sosial di kalangan anak muda. Klebun setempat membuat beberapa spot untuk berfoto, dengan bentuk yang khas, ditambah pemandangan alam yang begitu mempesona membuat Pantai Sembilan di Gili Genting menjadi terkenal dalam sekejap.

Spot ini pun dapat digunakan untuk foto prewed bersama pasangan | Foto: Niyasyah.com
Salah satu penginapan di Gili Genting | Foto: Niyasyah.com
Arsitektur penginapannya menarik | Foto: Niyasyah.com
Berjemur Ala Pantai Hawai pun Dapat Dilakukan di Gili Genting | Foto: Niyasyah.com

Selain itu, adanya penyeberangan reguler setiap hari, jarak tempuh yang tidak lama, membuat Gili Genting menjadi salah satu yang terfavorit belakangan ini. Salah satu andalan mereka adalah Pantai Sembilan yang secara administrasi berada di Desa Bringsang Kecamatan Gili Genting Kabupaten Sumenep. Meski garis pantainya tidak terlalu panjang, pantai ini menyimpan beberapa keunikan. Letaknya tidak terlalu jauh dari pelabuhan, cukup 10 menit berjalan kaki sudah sampai di lokasi. Pantainya berpasir putih dan tidak lengket dikulit, sehingga nyaman meski lama bermain-main pasir. Kita pun dapat memandang Sumenep dari selatan dengan dibatasi birunya lautan. Sungguh pantai ini menyajikan pemandangan momen matahari tenggelam dengan begitu sempurna.

Luas pantai yang terbatas membuat pengelolanya harus berpikir kreatif. Hal ini terlihat dari disediakannya beberapa spot foto yang instagramable. Mulai dari ayunan, kasur berjemur, gazebo, plang nama, hingga spot foto romantis seperti kasur kayu dan bunga berbentuk hati. Semua itu disiapkan agar membuat calon pengunjung penasaran.

Selain itu, di pantai ini kita dapat menyewa homestay yang unik. Berbentuk rumah mini dari kayu dengan arsitektur segitiga. Selain di sini, aku melihat homestay serupa di Taichung, Taiwan. Harga homestaynya 300 ribu per malam untuk 6-7 orang.

Sabtu sore merupakan waktu yang tepat. Tamu yang datang tidak terlalu ramai, sehingga kita bebas mengekplorasi Pantai Sembilan. Aku dan teman-teman menjalankan niatnya masing-masing. Ada yang sibuk selfie, bikin vlog, cari spot instagramable, hingga sekadar diam menikmati suasana. Dan aku memilih yang terakhir.

Bermain Banana Boat di Gili Genting
Menikmati Sunset Bersama Istri Sesaat Setelah Bermain Banana Boat
Bersama Komunitas Plat-M di Gili Genting. Foto: Fadel

 

Matahari turun dan meredup perlahan. Dirasa pas, kami memutuskan untuk menyewa banana boat. Perlu merogoh kocek 200 ribu saja untuk tujuh orang. Kami pun larut dalam keseruan main banana boat. Speed boat yang menarik banana boat membuat kami seolah berselancar di atas lautan datar. Dengan pancaran matahari sore yang kejinggaan menambah kesan tersendiri. Speed boat membuat kami berputar-putar di sekitaran Pantai Sembilan. Sesekali kami kecipratan air laut. Teriakan keseruan terdengar hingga ke bibir pantai. Seru.

Tak hanya Pantai Sempilan yang punya pemandangan laut yang cantik, Gili Genting juga punya tempat rahasia yang tak kalah indah. Namanya adalah Pantai Kahuripan. Letaknya sekitar 45 menit perjalanan menggunakan pick-up dari Pantai Sembilan.

Pantai Kahuripan menjanjikan ketenangan dalam menyambut kemegahan pesona matahari terbit. Akses yang tak mudah membuat lokasi ini masih asli dan sepi. Saat aku dan teman-teman tiba, matahari sudah menyambut dengan begitu ramah. Sinarnya membuat kami hangat setelah menerobos angin di atas pick-up. Suasana begitu sepi, tak ada pengunjung lain, seolah menjadi pantai pribadi.

Sepintas mirip seperti Pantai Ropet di Gili Iyang. Datarannya berbatu karang dengan pemandangan air laut yang biru. Dari kejauhan, di balik kabut, terlihat gugusan kepulauan Sumenep, ada yang hanya berupa gundukan, ada yang pulau besar. Aku tak begitu hafal nama-nama pulau di timur Sumenep, namun bunyi hantaman air ke batu karang membuat relaksasi tersediri. Membuat kepingan rindu akan suasana ketentraman jiwa menjadi terobati. Memberikan keajaiban suasana bagi siapa saja yang datang ke pantai ini.

Menyapa Mentari Pagi di Pantai Kahuripan, Gili Genting

 

Sedang Mengabadikan Momen di Pantai Kahuripan, Gili Genting

 

Berpose di Sisi Selatan Pantai Kahuripan, Gili Genting
Pantai Kahuripan di pagi hari, Gili Genting
Perjalanan Pulau dari Pantai Kahuripan, Katanya Mirip Dengan Taman di Korea

Pantai Kahuripan memberikan pemahaman kepada kita bahwa masih banyak sekali surga tersembunyi yang ada di negeri ini. Ini baru setitik surga yang bersembunyi di ujung timur Madura. Tentu masih banyak lagi titik-titik serpihan surga yang tersebar di seluruh penjuru nusantara.

Tertarik untuk berburu surga tersembunyi lainnya di Indonesia? Ayo mulai dari sekarang!

ALAM

Berikan Komentar