taipei basah wahyualam.com

Rintik-rintik tapi cukup membuat rambut basah. Aku berjalan menuju halte bis. Tak ada cara lain, aku harus segera menuju Masjid. Aku terus berlari kecil meski sebenarnya aku ngga tahu dimana letak halte bis yang mengantarkanku ke Masjid.

Aku tanya ke satpam. Ia menunjukkan halte tempat awal aku turun. Aku ngga bisa membuka Google Maps, kondisi hujan ngga memungkinkan untuk membuka ponsel.

Kali ini aku tidak mempercayai Google Maps dan ikut saran bapak satpam. Ia berbaik hati meski tidak lancar berbahasa Inggris itu.

Aku menunggu sendirian. Menurut papan elektronik di atas halte, bis  642 akan datang sembilan menit lagi. Bosan menunggu, aku mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman Dhibaan. Suara Kak Harun membaca Mahallul Qiyam cukup menghiburku di tengah kota Taipei yang basah. Sebentar lagi bis 642 datang.

Tulisan ‘coming soon’ di papan elektronik menyuruhku melepas headset. Sebentar lagi bis datang. Aku tetap duduk santai, angka 642 terlihat di atas bis, itu dia batinku. Aku menaruh ponsel ke dalam tas, aku bersiap-siap menunggu bis berhenti. Belum selesai tanganku keluar dari tas, bis itu melenggang pergi begitu saja. Sopir tidak membukakan pintu untukku, justru menambah kecepatannya berpacu mengejar lampu hijau.

Bis 642 dengan sadis meninggalkanku yang sudah menunggu sembilan menit. Apa dosaku, wahai bis? Aku kembali mengeluarkan ponsel, kali ini aku mendengar rekaman Parman yang membaca Ya Badratim. Sambil merasakan suasana Dhibaan setiap Senin malam di Madura, aku melihat ke papan elektronik. Bis 642 akan tiba di halteku 13 menit lagi. Sial.

Mungkin aku harus berdiri dan melambaikan tangan untuk mengentikan saat bis mulai mendekat ke halte. Saat pikiranku larut tenggelam bersama suasana Dhibaan, bis bertuliskan 642 akhirnya datang. Aku berdiri dan melambaikan tanganku. Untung ada satu orang turun dan aku pun naik ke dalam bis.

Akhirnya aku bisa menghempaskan ke kursi bis yang empuk. Masjid, aku datang!

Bis terus melaju. Aku pasang headset dan berharap ketika bangun sudah berada di depan Masjid Agung Taipei.

Perasaanku ngga enak. Aku seperti dibawa menjauh dari Masjid. Pak Satpam yang aku percaya, ternyata salah memberiku petunjuk. Aku seperti dibawa ke kawasan pertokoan seperti daerah Kapasan di Surabaya.

Aku terpaksa turun di halte terdekat. Kali ini aku paksakan melihat Google Maps, meski sebenarnya baterai ponsel menyisakan 9% saja.

Benar saja, aku menjauh dari Masjid. Aku nyasar. Aku merasa sedang menjalani tugas nyasar di mata kuliah pemasaran internasional Pak Rhenald Kasali di Universitas Indonesia. Serasa kisah di buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor, kini terjadi padaku. Saat aku turun, aku melihat bis 642 di seberang jalan. Untunglah.

Aku harus menyeberangi jalan dan menunggu bis 642 yang lain datang menghampiri halte ini. Aku berada di Zongshan Rd, daerah di selatan Taipei 101. Aku mencoba tenang, menikmati momen nyasar seorang diri.

Saat sendiri seperti ini, tanggung jawabku hanya untuk diriku sendiri. Tak akan ada yang mengingatkanku untuk naik atau turun bis. Semua keputusan yang diambil, aku akan menanggung semua risikonya.

Aku menunggu bis 642. Sudah ada lima bis yang menghampiri halte ini, tak satu pun bis bertuliskan 642 di bagian depannya. Satu per satu penumpang yang awalnya menjadi teman menunggu sudah naik bis. Kini tinggal aku dan sepasang kekasih yang lagi kasmaran.

Sialnya lagi, pasangan kekasih ini berpelukan di depanku. Di pinggir jalan dengan sok romantis pakai satu payung. Ngga hanya sekali, tapi berkali-kali. Aku hanya menaikkan alis dan pura-pura tidak melihat. Semakin sial, karena bisnya belum datang. Sepertinya mereka senang sekali dan berharap bis lebih lama datangnya. Aku melakukan berbagai aktivitas bersabar dengan bis 642 yang tidak kunjung datang.

Mereka senang, aku menderita melihatnya. Entah berapa kali mereka bergandengan tangan dan berpelukan. Ingin rasanya aku lempar botol minuman kosong. Hahaha..

Mbak, mas, ini pinggir jalan lho, emang ini jalan mbahmu apa ?

Benar dugaanku, mereka menunggu bis yang sama denganku. Untunglah, bis itu sudah datang, jadi adegan film dewasa di depan mata itu akan segera berakhir. Aku naik bis, pasang headset dan tidur. Sejam kemudian aku sudah berada di Masjid Agung Taipei: sholat Dhuzur.

masjid agung taipei

Perjalanan menyusuri Minggu yang basah, Taipei 101, hingga terdampar di agedan film dewasa berakhir di sajadah Taipei Grand Mosque. Setelah tenggelam dalam sholat dan dzikir aku pulang menuju dormitory menggunakan YouBike.

Perjalanan yang begitu berwarna. Terima kasih Taipei, untuk hari ini.


ALAM

blogger and founder @plat_m, think about Indonesia, act in Madura, studying smart city, community developer, @limaura_'s husband | E: nurwahyualamsyah@gmail.com | LINE: @wahyualam

7 Comments

siuplug · October 27, 2015 at 14:50

untung adegannya tidak berlanjut ya, hahaha

    Wahyu Alam · October 27, 2015 at 15:04

    Kalau berlanjut, aku rekam beneran nanti. Wkwkwk..

      siuplug · October 27, 2015 at 15:07

      mending jangan, nanti kamu diajak ikutan bisa gawat, haha

Fahmi (catperku) · October 27, 2015 at 17:30

hahah, kan udah dewasa juga mas 😛 jadi nggak apa liat dikit~~ XD

    Wahyu Alam · October 27, 2015 at 17:34

    Iya juga, sih mas. Tp geli gimana gitu ngeliatnya.

niyasyah · November 14, 2015 at 06:36

hahaa… derita LDR ya kak? Pfftt.

jadi kamu naik bis 642 yang berkebalikan arah dengan yang pertama sampai menemukan masjidnya ya?

Berikan Komentar

%d bloggers like this: